Pasar Modal di Tengah Gejolak, Kini Lebih Tangguh

Selasa, 30 Desember 2025 - 15:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bursa efek Indonesia. Foto:Istimewa

Bursa efek Indonesia. Foto:Istimewa

MATAPEDIA6.com, JAKARTA– Dinamika politik dan sosial beberapa pekan terakhir mengguncang pasar keuangan domestik. Gelombang demonstrasi di berbagai kota menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan melemahkan rupiah.

Dalam rilis Bursa Efek Indonesia (BEI) dikutip pada Selasa (30/12/2025). Pada 29 Agustus 2025, IHSG terkoreksi lebih dari dua persen, sementara rupiah turun hampir satu persen ke kisaran Rp16.475 per dolar AS, level terendah sejak awal bulan.

Bank Indonesia bergerak cepat. Otoritas moneter langsung mengintervensi pasar valas dan obligasi untuk meredam tekanan.

Pemerintah pun menyampaikan pesan tegas: fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Data mendukung klaim itu. Pertumbuhan ekonomi kuartal II 2025 mencapai 5,12 persen, tertinggi dalam dua tahun terakhir.

Sejarah mencatat, Indonesia pernah menghadapi badai jauh lebih dahsyat. Krisis moneter Asia 1997 menghantam rupiah tanpa ampun. Nilai tukar terjun dari sekitar Rp2.600 per dolar AS hingga menembus Rp14.800 hanya dalam hitungan bulan.

Baca juga:PLN Batam Jaga Listrik Tetap Andal Selama Natal 2025, Sistem Batam–Bintan Aman

Inflasi melesat di atas 60 persen, Produk Domestik Bruto menyusut lebih dari 13 persen, dan dunia usaha kolaps. IHSG anjlok ke level 256 pada September 1998, dari puncak sebelumnya di kisaran 700.

Krisis ekonomi itu menjalar menjadi krisis politik dan sosial, memicu gelombang demonstrasi besar yang meruntuhkan Orde Baru.

Namun titik nadir justru membuka jalan pemulihan. Setelah terpuruk, pasar modal bangkit cepat. Pada 1999, IHSG melonjak lebih dari 100 persen dari level terendahnya.

Rupiah berangsur stabil di kisaran Rp8.000–10.000 per dolar AS. Pemerintah menata ulang fondasi sistem keuangan dengan membentuk BPPN/IBRA, merestrukturisasi perbankan, dan memperkuat regulasi.

Dua dekade kemudian, hasil reformasi itu tampak nyata. Cadangan devisa Indonesia kini sekitar 150 miliar dolar AS, jauh melampaui posisi sekitar 20 miliar dolar AS pada akhir 1997.

Perbankan berdiri lebih sehat dengan rasio kecukupan modal sekitar 26 persen dan tingkat kredit bermasalah yang rendah. Otoritas Jasa Keuangan memperketat pengawasan, sementara Lembaga Penjamin Simpanan menjaga kepercayaan publik.

Bank Indonesia mengelola nilai tukar mengambang dengan intervensi terukur, sehingga gejolak pasar tidak mudah berubah menjadi krisis berkepanjangan.

Dibanding 1998, kondisi saat ini jauh lebih terkendali. IHSG memang terkoreksi dan rupiah sempat tertekan, tetapi skalanya terbatas. Fundamental ekonomi tetap positif.

Inflasi bergerak dalam target, defisit anggaran terjaga di bawah tiga persen PDB, dan arus investasi asing masih mengalir. Yang krusial, respons kebijakan kini lebih cepat, terkoordinasi, dan transparan.

Baca juga:Polda Kepri Siapkan Penyidik Hadapi Era Baru KUHAP 2025, Sinergitas Penegakan Hukum Lebih Progresif

Pernyataan resmi pemerintah dan Bank Indonesia segera menenangkan pasar, sementara kebijakan fiskal dan moneter berjalan seirama menjaga stabilitas.

Bagi investor, sejarah memberi pelajaran penting. Volatilitas adalah bagian tak terpisahkan dari pasar modal. Koreksi tajam kerap menimbulkan kepanikan, tetapi sering kali membuka peluang jangka panjang. IHSG pernah jatuh pada 1998 dan bangkit berlipat ganda.

Pada krisis global 2008, indeks juga sempat terkoreksi lebih dari 50 persen, lalu pulih signifikan setahun kemudian. Pola itu menunjukkan bahwa gejolak sesaat bukan akhir perjalanan, melainkan bagian dari siklus.

Masyarakat tidak perlu larut dalam kepanikan harian akibat pelemahan rupiah atau koreksi IHSG. Fokus pada tren jangka panjang dan kesiapan sistem ekonomi menjadi kunci.

Dengan cadangan devisa besar, perbankan sehat, dan koordinasi kebijakan yang solid, Indonesia memiliki daya tahan lebih kuat menghadapi guncangan internal maupun eksternal.

Krisis 1998 membuktikan bahwa badai terbesar pun bisa dilewati dan menjadi titik balik kebangkitan. Kini, di tengah hiruk-pikuk politik dan tekanan pasar, Indonesia tidak lagi berdiri di atas fondasi rapuh.

Pasar modal boleh bergejolak, rupiah bisa tertekan, tetapi kepercayaan dan kekuatan ekonomi tetap kokoh. Volatilitas hanyalah bagian dari perjalanan investasi jangka panjang—dan Indonesia kini jauh lebih tangguh untuk menghadapinya.

 

Baca juga:TelkomProperty Turun Langsung ke Wilayah Bencana Sumatera

Editor:Redaksi

Berita Terkait

Batam Bidik Status Pusat Eksekusi Investasi Tercepat Asia Tenggara, BP Batam Bergerak dari Singapura
Pimpinan OJK Mundur: Ketua DK, Kepala Eksekutif Pasar Modal dan Deputi Komisioner Lepas Jabatan
PLN Batam Mulai Konstruksi PLTGU Batam #1 120 MW, Perkuat Listrik dan Pacu Ekonomi Daerah
Bank Indonesia Luncurkan LPI 2025, Optimistis Pertumbuhan Ekonomi 5,9 Persen pada 2027
BEI Bekukan Sementara Perdagangan Saham
BEI Perkuat Transparansi Demi Dongkrak Kredibilitas Pasar Modal Indonesia
BEI: Resolusi 2026 Pasar Modal Jadi Strategi Cerdas Menata Keuangan
Sektor Kepelabuhanan BP Batam Kinerja 2025 Tembus Target

Berita Terkait

Minggu, 1 Februari 2026 - 10:43 WIB

Batam Bidik Status Pusat Eksekusi Investasi Tercepat Asia Tenggara, BP Batam Bergerak dari Singapura

Jumat, 30 Januari 2026 - 20:17 WIB

Pimpinan OJK Mundur: Ketua DK, Kepala Eksekutif Pasar Modal dan Deputi Komisioner Lepas Jabatan

Jumat, 30 Januari 2026 - 19:34 WIB

PLN Batam Mulai Konstruksi PLTGU Batam #1 120 MW, Perkuat Listrik dan Pacu Ekonomi Daerah

Kamis, 29 Januari 2026 - 12:47 WIB

Bank Indonesia Luncurkan LPI 2025, Optimistis Pertumbuhan Ekonomi 5,9 Persen pada 2027

Kamis, 29 Januari 2026 - 12:11 WIB

BEI Bekukan Sementara Perdagangan Saham

Berita Terbaru