MATAPEDIA6.com, BATAM – Warga RT 02/RW 02, Kelurahan Tanjung Sengkuang, Kecamatan Batuampar, Kota Batam, masih harus berjibaku dengan krisis air bersih yang telah berlangsung hampir enam bulan terakhir. Hingga kini, pasokan air bersih ke permukiman tersebut belum juga kembali normal.
Air bersih hanya mengalir sekitar empat jam dalam sehari, itu pun pada waktu-waktu tidak lazim, yakni tengah malam hingga dini hari. Kondisi ini membuat warga kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
Abdi, salah seorang warga setempat, mengungkapkan air biasanya baru mengalir sekitar pukul 01.00 WIB dan kembali mati menjelang subuh.
“Sudah hampir enam bulan ini suplai air cuma sekitar empat jam. Kadang paling cepat jam 12 malam, tapi itu jarang. Biasanya baru hidup jam 1 dini hari,” ujar Abdi, Rabu (7/1/2026).
Menurutnya, air umumnya berhenti mengalir sekitar pukul 04.00 hingga paling lambat pukul 05.00 WIB.
Warga yang tidak memiliki tempat penampungan air terpaksa hidup tanpa stok air bersih sepanjang hari.
Baca juga: Aksi BP Batam Bersihkan Waduk Duriangkang, Ajak Warga Jaga Sumber Air Kota
“Kalau tidak punya penampungan, ya otomatis tidak ada air sama sekali. Selama ini kami hanya mengandalkan air yang mengalir di malam hari,” jelasnya.
Tak hanya waktu aliran yang terbatas, debit air yang masuk ke rumah warga juga sangat kecil. Banyak warga mengeluhkan bak penampungan belum sempat terisi penuh, air sudah lebih dulu mati.
“Kecil sekali debitnya. Penampungan sering belum penuh, air sudah mati lagi,” kata Abdi.
Keluhan terkait krisis air ini, lanjut Abdi, sudah berulang kali disampaikan kepada pihak RT dan RW. Namun solusi yang diberikan masih bersifat sementara, yakni menyarankan warga memesan air bersih melalui mobil tangki milik ABHi.
“Disarankan pesan air tangki, tapi harus antre dan menunggu jadwal. Itu pun tidak selalu cukup untuk semua warga,” ujarnya.
Kondisi tersebut semakin memberatkan warga yang tidak memiliki penampungan air berkapasitas besar.
Sementara warga yang memiliki tandon besar masih bisa menyimpan cadangan, sebagian lainnya terpaksa menghemat air secara ekstrem.
“Yang punya penampungan besar mungkin masih aman. Tapi yang tidak punya, benar-benar kesulitan,” ungkap Abdi.
Baca juga: BP Batam dan Warga Gotong Royong Bersihkan Waduk Duriangkang
Ironisnya, meski pasokan air jauh dari normal, warga tetap dibebankan tagihan air setiap bulan tanpa pengurangan.
“Kami tetap bayar air tiap bulan. Tagihan tidak berkurang, padahal air yang kami terima sangat jauh dari normal,” keluhnya.
Warga pun berharap pemerintah dan pihak terkait segera turun tangan dengan solusi konkret dan permanen agar krisis air bersih ini tidak terus berlarut.
“Harapan kami sederhana, air bisa kembali normal. Kalau harus menunggu sampai pertengahan tahun, kondisi kami sudah sangat berat,” pungkas Abdi.
Sementara itu, Humas ABHi Batam, Ginda Alamsyah, kepada media menjelaskan permasalahan suplai air di wilayah Tanjung Sengkuang disebabkan oleh kendala infrastruktur jaringan penyaluran.
Menurut Ginda, perbaikan dan pembangunan jaringan pipa suplai air merupakan kewenangan BP Batam melalui Badan Usaha Sistem Penyediaan Air Minum (BU SPAM).
“ABHi menjalankan tugas operasional serta mendukung penuh setiap langkah strategis yang telah ditetapkan untuk menyelesaikan persoalan suplai air,” ujar Ginda.
Ia menambahkan, PT ABHi dan PT ABHu memahami pelayanan air kerap menimbulkan beragam persepsi di tengah masyarakat.
Kendati demikian, pihaknya tetap berkomitmen menjaga standar pelayanan operasional dan mendukung program peningkatan kapasitas infrastruktur air bersih di Batam.
Sebagai langkah darurat, ABHi saat ini juga melakukan distribusi air bersih menggunakan mobil tangki guna meringankan beban warga.
Baca juga: Beri Kemudahan Layanan Perizinan, BP Batam Raih Penghargaan Bhumandala Ariti
Namun langkah tersebut bersifat sementara, sambil menunggu realisasi sejumlah pekerjaan strategis yang telah direncanakan.
“Dalam waktu dekat telah direncanakan beberapa pekerjaan strategis, di antaranya peningkatan suplai dan pengembangan jaringan perpipaan untuk menambah pasokan air minum,” jelas Ginda.
Ia berharap rencana tersebut dapat segera terealisasi sehingga permasalahan suplai air di Tanjung Sengkuang dapat ditangani secara menyeluruh.
“Koordinasi dengan BP Batam melalui BU SPAM Batam terus kami lakukan agar peningkatan pelayanan air bersih berjalan sesuai target, khususnya bagi pelanggan SPAM Batam di wilayah Tanjung Sengkuang,” tutupnya.
Penulis: Luci |Editor: Zalfirega


















