MATAPEDIA6.com, BATAM – Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto mengajak seluruh bupati di Indonesia untuk lebih serius menggali dan mengembangkan potensi desa di wilayah masing-masing.
Langkah tersebut sejalan dengan Asta Cita ke-6 Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, yakni membangun desa dari bawah guna mewujudkan pemerataan ekonomi dan pengentasan kemiskinan.
Ajakan itu disampaikan Yandri saat memberikan pengarahan pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVII Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) yang digelar di Hotel Aston, Pelita, Lubuk Baja, Kota Batam, Selasa (20/1/2026).
Yandri menegaskan, paradigma pembangunan desa kini telah berubah. Jika sebelumnya desa hanya menjadi objek pembangunan, kini desa ditempatkan sebagai subjek utama.
“Banyak program pemerintah sekarang langsung menyentuh desa. Kalau dulu desa sebagai objek, sekarang desa menjadi subjek pembangunan,” ujar Yandri.
Ia menjelaskan, Kemendes PDT memiliki sejumlah program strategis, salah satunya Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang kini telah berkembang pesat hingga mampu melahirkan desa-desa ekspor. Selain itu, banyak desa juga tumbuh sebagai desa wisata dengan potensi ekonomi yang menjanjikan.
Baca juga: Kemensos Targetkan Bangun 100 Sekolah Rakyat per Tahun, 2025 Telah Beroperasi 166 Sekolah
Karena itu, Yandri berharap para bupati mampu menangkap dan memanfaatkan setiap program pemerintah pusat sesuai dengan karakter dan potensi desa masing-masing.
“Setiap desa punya potensi yang berbeda-beda. Ada yang cocok jadi desa wisata, desa ekspor, atau desa tematik. Ini yang harus digali dan dikembangkan,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya koordinasi dan kolaborasi intensif antara pemerintah kabupaten dan Kementerian Desa agar seluruh potensi desa dapat dimaksimalkan.
Salah satu pendekatan yang kini didorong Kemendes adalah pengembangan desa tematik, seperti desa nila, desa lele, desa ayam petelur, desa jagung, desa melon, dan berbagai komoditas lainnya.
Program ini dirancang untuk mendukung kebijakan nasional, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta penguatan Koperasi Desa Merah Putih.
Menurut Yandri, kolaborasi yang solid akan memastikan pembangunan dari desa benar-benar terwujud, sehingga tujuan pemerataan ekonomi dan pengentasan kemiskinan dapat tercapai.
“Kuncinya adalah data yang akurat. Dari data itulah kita bisa memaksimalkan potensi desa secara tepat sasaran,” tegasnya.
Baca juga: Mentan Amran Beri Sebutan Importir dan Penyelundup Beras Pengkhianat Bangsa
Lebih lanjut, Yandri memastikan Kemendes PDT siap menjadi jembatan bagi desa, mulai dari permodalan, pendampingan, pemberdayaan, hingga pemasaran produk desa.
Ia mencontohkan keberhasilan program Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu, di mana beberapa desa binaan Kemendes berhasil menembus pasar internasional.
“Desember lalu di Ngada, NTT, desa binaan Kemendes melakukan ekspor perdana ke Australia, mulai dari kopi, panili, hingga kemiri,” ungkapnya.
Selain desa ekspor, banyak desa lain yang berhasil tumbuh sebagai desa tematik, baik desa tertinggal, sangat tertinggal, hingga desa maju dan mandiri.
Untuk wilayah Kepulauan Riau (Kepri), Yandri menyebut potensi desa nelayan dan pariwisata menjadi sektor unggulan yang dapat terus dikembangkan melalui pola kolaborasi lintas sektor.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Perlu sinergi dengan semua pihak. Dan APKASI adalah forum yang paling tepat untuk memperkuat kolaborasi itu,” kata Yandri.
Penulis: Luci |Editor: Zalfirega


















