MATAPEDIA6.com, BATAM— Hasil laut tak lagi sekadar menjadi tangkapan nelayan di Kampung Tua Terih, Kelurahan Sambau, Kecamatan Nongsa, Batam. Melalui program Kampung Bahari Si Pelaut yang didampingi Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut), warga mengolah kulit hingga tulang ikan menjadi produk pangan bernilai ekonomi. Produk olahan mereka bahkan telah menembus pasar Malaysia dan Singapura.
Program bertajuk Sinergi Inovasi Pengelolaan Sumber Daya Laut ini menjadi upaya Pertamina Patra Niaga melalui Aviation Fuel Terminal Hang Nadim untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat pesisir.
Warga tak hanya mengandalkan hasil tangkapan laut yang bergantung pada cuaca dan musim. Mereka juga mengembangkan budidaya perikanan, mengolah hasil laut, dan memanfaatkan bahan yang sebelumnya terbuang menjadi produk bernilai jual.
Pjs. Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Silvani Maiyestuhariani, mengatakan program Kampung Bahari Si Pelaut telah dirintis sejak 2022.
Baca juga:BP Batam Gandeng Ombudsman, Fokus Cegah Maladministrasi dan Percepat Aduan Warga
“Memasuki tahun keempat pelaksanaan program, Kampung Bahari Si Pelaut hadir sebagai integrasi dari beberapa program aspek program yang telah dilaksanakan sebelumnya, mulai dari sosial, ekonomi, hingga pendidikan,” ujar Silvani dalam keterangannya, Rabu (14/10/2026).
Menurut Silvani, program tersebut melibatkan sejumlah kelompok masyarakat, yakni Kelompok Usaha Bersama (KUB) Terihindo Jaya Lestari, KUB Belian Tuah, Kelompok Wanita Tani Warisan Lestari, dan Kelompok Pengolah dan Pemasar Hasil Perikanan (Poklahsar) Sukses Bersama.
Kelompok-kelompok itu mengembangkan budidaya ikan kakap, bawal, dan kerapu. Warga juga membudidayakan ikan air tawar dan sayuran dengan sistem akuaponik, merehabilitasi mangrove, serta mengolah hasil perikanan menjadi berbagai produk usaha.
Ketua KUB Terihindo Jaya Lestari, Saidar, mengatakan pendampingan Pertamina membantu kelompoknya bangkit setelah menghadapi kegagalan dalam usaha budidaya akibat keterbatasan kapasitas dan akses pasar.
“Dulu kami hanya kelompok nelayan yang mengandalkan hasil tangkapan laut yang sangat bergantung pada kondisi cuaca dan musim. Selain pendampingan, kami dibekali penguatan kapasitas, penyediaan sarana budidaya, serta pengembangan akses pasar,” kata Saidar.
Ia menilai dukungan tersebut menjadi titik balik bagi kelompoknya untuk kembali mengembangkan usaha budidaya perikanan secara lebih terencana dan berkelanjutan.
“Dukungan ini menjadi titik balik kami untuk membangun kembali usaha budidaya perikanan secara lebih terencana, berkelanjutan, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Enam produk olahan hasil laut
Salah satu inovasi warga terlihat dari cara mereka memanfaatkan bagian ikan yang sebelumnya kurang bernilai ekonomi. Kelompok usaha di Kampung Tua Terih mengolah kulit, daging, hingga tulang ikan menjadi enam produk unggulan.
Produk tersebut meliputi keripik kulit ikan tenggiri rasa original dan pedas manis, kerupuk kulit ikan kakap, Swiss roll abon ikan, abon ikan, serta penyedap rasa berbahan tulang ikan. Warga juga memanfaatkan kepala udang untuk membuat penyedap rasa.
Pemanfaatan berbagai bagian hasil laut itu membuka peluang usaha sekaligus mengurangi bahan yang terbuang. Produk olahan warga bahkan telah dipasarkan hingga Malaysia dan Singapura.
Capaian tersebut memperlihatkan peluang pengembangan ekonomi pesisir melalui pengolahan hasil laut.
Warga tidak hanya menjual hasil tangkapan, tetapi juga meningkatkan nilai tambah komoditas perikanan melalui produk siap konsumsi.
Pertamina Patra Niaga menyatakan akan melanjutkan pendampingan melalui Kampung Bahari Si Pelaut, terutama untuk pengembangan budidaya perikanan, usaha olahan hasil laut, dan pelestarian lingkungan.
Melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) tersebut, perusahaan mendorong masyarakat memanfaatkan potensi lokal untuk memperkuat ketahanan pangan, memperluas kegiatan ekonomi, dan menghadapi tantangan perubahan iklim.
Program ini juga mendukung pencapaian sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), yakni tujuan 1 tentang Tanpa Kemiskinan, tujuan 2 tentang Tanpa Kelaparan, tujuan 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, tujuan 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, tujuan 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim, serta tujuan 14 tentang Ekosistem Laut.
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut melalui Aviation Fuel Terminal Hang Nadim menargetkan program tersebut terus mendorong inovasi berbasis potensi lokal, memperkuat ekonomi masyarakat pesisir, dan menjaga keberlanjutan sumber daya laut di Kampung Tua Terih, Batam.
Baca juga:Kapolda Kepri Imbau Warga Tetap Tenang, Polisi Perkuat Patroli saat Listrik Padam
Editor:Zalfirega











