BI Kepri: QRIS hingga Migas Dorong Ekonomi Kepri 2025

Sabtu, 7 Februari 2026 - 11:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala BI Kepri Rony Widijarto P, Kamis (20/2). Foto:Rega/matapedia

Kepala BI Kepri Rony Widijarto P, Kamis (20/2). Foto:Rega/matapedia

MATAPEDIA6.com, BATAM — Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau menegaskan kinerja ekonomi Kepri sepanjang 2025 tetap solid dan mampu bertahan di tengah dinamika global.

Dukungan sektor industri, migas, investasi, hingga percepatan digitalisasi melalui QRIS menjadi motor utama yang menjaga pertumbuhan ekonomi tetap tinggi.

Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Kepri pada triwulan IV 2025 tumbuh 7,89 persen (year on year/yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 7,48 persen (yoy).

Secara kumulatif, ekonomi Kepri sepanjang 2025 tumbuh 6,94 persen (cumulative to cumulative/ctc) dan menempatkan Kepri sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Sumatera. Angka tersebut melampaui pertumbuhan ekonomi Sumatera yang hanya 4,54 persen (yoy) pada triwulan IV dan 4,81 persen (ctc) sepanjang tahun 2025.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kepulauan Riau, Rony Widijarto P, menyebut sektor industri pengolahan, pertambangan dan penggalian, konstruksi, serta perdagangan menjadi penopang utama ekonomi daerah.

“Industri pengolahan tumbuh 7,52 persen (ctc) dengan kontribusi 3,14 persen terhadap pertumbuhan ekonomi. Sektor pertambangan dan penggalian mencatat lonjakan 16,01 persen (ctc) dengan andil 1,57 persen, didorong produksi migas yang mulai beroperasi sejak Mei 2025,” ujarnya dalam keterangannya, Sabtu (7/2/2026).

Sementara itu, sektor konstruksi tumbuh 5,30 persen (ctc) dengan kontribusi 1,03 persen seiring berlanjutnya pembangunan proyek strategis di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan kawasan industri.

Sektor perdagangan juga tumbuh 7,55 persen (ctc) dengan andil 0,62 persen, dipicu meningkatnya konsumsi masyarakat selama momen Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).

Kinerja ekonomi yang kuat juga tercermin dari intermediasi perbankan yang terus meningkat. Hingga Desember 2025, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 13,22 persen (yoy), sementara penyaluran kredit melonjak 25,92 persen (yoy).

Baca juga:Lantik Pejabat Baru, Amsakar Targetkan Sampah Darurat, Banjir dan Jalan Macet Segera Diatasi

Pembiayaan korporasi meningkat hingga 37,00 persen (yoy) dan kredit UMKM tumbuh 13,21 persen (yoy), menunjukkan aktivitas usaha dan konsumsi masyarakat tetap bergairah.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Kepri terutama ditopang investasi yang tercermin dari Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 6,81 persen (ctc) dengan kontribusi 2,81 persen. Arus investasi tetap kuat berkat kemudahan perizinan melalui PP Nomor 25 dan 28 Tahun 2025 serta dukungan iklim investasi yang kondusif.

Konsumsi rumah tangga turut tumbuh 3,84 persen (ctc) dengan kontribusi 1,51 persen, sejalan dengan Indeks Keyakinan Konsumen yang tetap optimistis di level 122,29. Sementara itu, net ekspor tumbuh signifikan 20,52 persen (ctc) dengan andil 2,93 persen, didorong tingginya permintaan terhadap komoditas unggulan Kepri.

Bank Indonesia juga menyoroti peran digitalisasi dalam mempercepat perputaran ekonomi daerah. Hingga Desember 2025, transaksi QRIS di Kepri mencapai 99,44 juta transaksi atau tumbuh 192,69 persen (yoy), dengan nilai transaksi menembus Rp11,54 triliun atau meningkat 129,60 persen (yoy).

Selain itu, transaksi QRIS lintas negara dengan Thailand, Malaysia, dan Singapura menunjukkan tren peningkatan signifikan sejak implementasi.

Di tengah pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inflasi Kepri tetap terkendali. Sepanjang 2025, inflasi tercatat 3,47 persen (yoy) dan masih berada dalam rentang sasaran nasional 2,5±1 persen. Kenaikan harga terutama dipicu komoditas emas perhiasan, cabai merah, angkutan udara, cabai rawit, serta daging ayam.

Ke depan, Bank Indonesia memproyeksikan ekonomi Kepri tetap tumbuh positif. Pengembangan KEK, kawasan industri, serta Proyek Strategis Nasional (PSN) diperkirakan menjaga momentum investasi dan produksi.

Stabilitas inflasi juga terus diperkuat melalui sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dengan strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

Baca juga:Bank Indonesia Luncurkan LPI 2025, Optimistis Pertumbuhan Ekonomi 5,9 Persen pada 2027

 

Editor:Zalfirega

Berita Terkait

BI Pertahankan Suku Bunga 5,75 Persen, Kredit Perbankan Tumbuh 13,65 Persen pada Agustus 2026
Gebyar Melayu Pesisir 2026 Bidik Pasar Lebih Luas bagi UMKM Kepri
General Cargo Batu Ampar Tembus 102 Persen Target Tahunan, Kinerja Pelabuhan Batam Tumbuh 8 Persen
Rp2,44 Triliun RKA BP Batam 2027, Infrastruktur dan Investasi Jadi Fokus
Dari Expo ke Transaksi, BI Kepri Perluas Pasar UMKM Lewat Gebyar Melayu Pesisir 2026
Padi Reborn Tampil di GMP 2026, BI Kepri Bidik Perputaran Ekonomi UMKM
Dari Sampah, Energi hingga Kain Tradisional: Menelusuri Jejak Program Pemberdayaan Pertamina di Batam
Bukan Cuma Industri, Batam Kini Bidik Investasi Kesehatan Berstandar Internasional

Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 20:50 WIB

BI Pertahankan Suku Bunga 5,75 Persen, Kredit Perbankan Tumbuh 13,65 Persen pada Agustus 2026

Sabtu, 19 September 2026 - 15:21 WIB

Gebyar Melayu Pesisir 2026 Bidik Pasar Lebih Luas bagi UMKM Kepri

Sabtu, 19 September 2026 - 11:04 WIB

General Cargo Batu Ampar Tembus 102 Persen Target Tahunan, Kinerja Pelabuhan Batam Tumbuh 8 Persen

Jumat, 18 September 2026 - 11:25 WIB

Rp2,44 Triliun RKA BP Batam 2027, Infrastruktur dan Investasi Jadi Fokus

Rabu, 16 September 2026 - 10:42 WIB

Dari Expo ke Transaksi, BI Kepri Perluas Pasar UMKM Lewat Gebyar Melayu Pesisir 2026

Berita Terbaru