MATAPEDIA6.com, AGAM — Pemerintah Kabupaten Agam resmi membuka Silaturahmi Akbar 2026 Ranah jo Rantau Nagari Matua Hilia di Lapangan Hijau, Kecamatan Matur, Senin (23/3/2026). Event sehari penuh ini langsung menyedot perhatian warga dengan rangkaian kegiatan budaya, lomba marandang basamo, hingga hiburan khas Minangkabau.
Asisten III Setdakab Agam, Syatria, menegaskan dukungan penuh pemerintah terhadap inisiatif masyarakat yang menghidupkan kampung lewat event kolaboratif ranah dan rantau. Ia menyebut kegiatan ini sejalan dengan arahan Bupati Agam, Benni Warlis, yang mendorong masyarakat aktif membangun nagari dari akar budaya.
“Ini bukan sekadar acara seremonial. Masyarakat Matua Hilia sudah membuktikan bahwa silaturahmi bisa dikemas menjadi gerakan bersama membangun kampung,” tegas Syatria dalam sambutannya.
Ia melihat potensi besar dari event ini, bukan hanya sebagai ajang pemersatu, tetapi juga penggerak ekonomi lokal. Posisi Matua Hilia di jalur perlintasan dinilai strategis untuk mengembangkan kegiatan serupa secara berkelanjutan.
Syatria bahkan mendorong agar ke depan event ini naik kelas menjadi agenda skala kecamatan. Dukungan pemerintah, termasuk dari Dinas Pariwisata, disebut terbuka selama masyarakat konsisten mengemas kegiatan secara menarik.
Momentum pembukaan juga dirangkai dengan pengukuhan pengurus Ikatan Keluarga Matua Hilia (IKAMAHI). Syatria langsung melempar tantangan agar panitia mulai menyiapkan agenda lanjutan. “Kalau sepakat jadi agenda tahunan, dari sekarang gaungkan—kita jumpa lagi di 2027,” ujarnya.
Ketua panitia, Buya Abdul Arief, mengungkapkan ide besar ini lahir dari diskusi sederhana antara tokoh rantau dan kampung. Gagasan itu kemudian berkembang menjadi gerakan kolektif yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.
“Tidak hanya lomba marandang. Kami sudah memulai dari lomba kebersihan antarjorong, tabligh akbar, hingga pawai obor. Hari ini puncaknya, delapan jorong turun langsung marandang basamo,” jelasnya.
Tokoh masyarakat Matua Hilia, Chandra St. Indra, mengaku haru melihat kekompakan warga, terutama perantau yang ikut berkontribusi membangun nagari. Di usianya yang ke-72 tahun, ia menyebut ini sebagai momentum bersejarah.
“Baru kali ini saya melihat acara yang benar-benar menyatukan ranah dan rantau,” ujarnya.
Ia berharap sinergi ini terus berlanjut dengan dukungan penuh pemerintah dan konsistensi masyarakat.
Wali Nagari Matua Hilia, Nofrizal Anas, menilai kegiatan ini bukan sekadar ajang silaturahmi, tetapi juga sarat makna filosofis. Ia mengibaratkan marandang sebagai simbol keberagaman masyarakat yang harus melebur menjadi kekuatan bersama.
“Seperti rendang—lada, bawang, santan, dan daging punya karakter berbeda. Tapi ketika disatukan, lahirlah cita rasa yang disukai semua orang. Begitu juga masyarakat kita,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat mengubur perbedaan dan memperkuat kebersamaan demi kemajuan nagari. Menurutnya, silaturahmi akbar ini menjadi titik balik untuk menghentikan pola berjalan sendiri-sendiri yang selama ini terjadi.
Ketua Umum IKAMAHI, Berry, menegaskan komitmen perantau untuk terus terlibat membangun kampung halaman. Ia menyebut kegiatan ini sebagai wujud nyata filosofi Minangkabau tentang keterikatan kuat antara rantau dan ranah.
“Sejauh apa pun merantau, kita tetap kembali membangun kampung. Di sinilah kita rajut kebersamaan untuk masa depan Matua Hilia,” tegasnya.
Dukungan donatur dan partisipasi masyarakat menjadi bukti kuat bahwa semangat gotong royong masih hidup. Silaturahmi Akbar Matua Hilia pun tidak sekadar menjadi perayaan, tetapi mulai menjelma sebagai gerakan kolektif membangun nagari berbasis budaya dan kebersamaan.
Baca juga:Warga Kaveling Melati Jadi Korban Pengeroyokan di Jalan Dapur 12 Saat Pulang Lebaran
Editor:Zalfirega



















