MATAPEDIA6.com, BATAM – Aktivitas pemotongan dan penimbunan (cut and fill) tanah di kawasan Bukit Vista, Sukajadi, Batam, kembali ada aktifitas setelah sebelumnya sempat dihentikan oleh pimpinan BP Batam. Hal ini membuat warga sekitar Resah.
Di lokasi, selain lalu lalang truk pengangkut tanah dan alat berat, terlihat pula alat pemancang pondasi (paku bumi) beroperasi di lereng bukit.
Pemandangan ini kontras dengan pernyataan penghentian yang telah disampaikan otoritas sebelumnya.
Menanggapi perkembangan terbaru ini, Kepala BP Batam sekaligus Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, mengaku belum menerima laporan bahwa aktivitas telah berlanjut.
“Memang sempat kami hentikan waktu itu. Kalau sekarang masih berlanjut, saya harus cek dulu,” ujarnya.
Baca juga: Sekda Batam Firmansyah Resmikan Z-Corner BAZNAS Batam, Dorong Mustahik Naik Kelas Jadi Pelaku Usaha
Amsakar mengatakan, jika pengerjaan kembali dilakukan, pengelola proyek kemungkinan telah melengkapi perizinan yang diperlukan.
“Kalau tidak ada izin, tidak mungkin aktivitas itu dilanjutkan. Namun nanti akan saya cross check terlebih dahulu di internal BP Batam untuk memastikan status izinnya,” kata Amsakar
Di sisi lain, warga Perumahan Batu Batam yang berbatasan langsung dengan lokasi proyek menyuarakan keresahan yang belum juga reda. Keluhan utama mereka adalah dampak lingkungan yang terus berlangsung.
“Kami serba salah. Kalau hujan deras, lumpur dari bukit Vista masuk ke perumahan. Kalau musim panas seperti sekarang, debunya sangat banyak,” keluh Ridwan salah seorang warga, menggambarkan dilema sehari-hari yang dihadapi masyarakat.
Menurut Ridwan, warga telah berulang kali menyampaikan keluhan melalui berbagai saluran, mulai dari kelurahan hingga aksi unjuk rasa di Kantor Wali Kota. Namun, aktivitas di Bukit Vista tetap berjalan.
“Kami bukan menghambat pembangunan, tapi berharap ada pengawasan yang serius dari pemerintah,” tuturnya.
Baca juga: Angka Perceraian Batam Menanjak, Amsakar Dorong Penguatan Keluarga Sejak Pra-Nikah
Warga mengajukan beberapa tuntutan konkret untuk mitigasi dampak. Mereka meminta pengelola proyek membuat saluran drainase khusus yang langsung menuju saluran induk, agar aliran air dan lumpur tidak menerobos permukiman.
Selain itu, penyiraman rutin di area proyek juga diharapkan dapat mengurangi polusi debu di musim kemarau.
“Intinya, kami hanya ingin lingkungan kami aman dan nyaman. Pembangunan boleh berjalan, tapi jangan mengorbankan warga yang sudah menempati wilayah ini,” kata Ridwan.
Penulis: Luci |Editor: Zalfirega


















