Kilas Balik Ekonomi Kepri 2025, Investasi dan QRIS Menguatkan Fondasi 2026

Selasa, 30 Desember 2025 - 14:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Rony Widijarto, Selasa (30/12/2025). Foto:dok/Zalfirega-matapedia

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Rony Widijarto, Selasa (30/12/2025). Foto:dok/Zalfirega-matapedia

MATAPEDIA6.com, BATAM-Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menutup tahun 2025 dengan kinerja ekonomi impresif di tengah tekanan global. Pada triwulan III 2025, ekonomi Kepri tumbuh 7,48 persen (year on year), melampaui pertumbuhan nasional 5,04 persen.

Capaian ini menjadikan Kepri sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Sumatera dan peringkat ketiga nasional.

Pertumbuhan tersebut terakselerasi dibandingkan triwulan sebelumnya dan ditopang kuat oleh industri pengolahan, pertambangan, konstruksi, serta perdagangan.

Dari sisi pengeluaran, Investasi, net ekspor, dan konsumsi rumah tangga menjadi mesin utama penggerak ekonomi.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Rony Widijarto, menilai kinerja tersebut mencerminkan daya tahan ekonomi daerah.

“Kepri mampu memanfaatkan momentum pemulihan, terutama dari industri berbasis ekspor dan arus investasi,” ujar Rony dalam bincang bareng dengan media, Selasa (30/12/2025).

Ia mengatakan, di tengah pertumbuhan tinggi, inflasi Kepri tetap terkendali. Pada November 2025, inflasi tercatat 0,23 persen (mtm) atau 2,31 persen (year to date) dengan inflasi tahunan 3,00 persen (yoy).

Baca juga:Polda Kepri Siapkan Penyidik Hadapi Era Baru KUHAP 2025, Sinergitas Penegakan Hukum Lebih Progresif

Angka ini masih berada dalam rentang sasaran nasional. Bank Indonesia mengaitkan stabilitas harga dengan efektivitas Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) yang dijalankan konsisten melalui strategi 4K keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, ketersediaan pasokan, dan komunikasi efektif.

Sektor perbankan turut menopang ekonomi. Kredit, aset, dan Dana Pihak Ketiga (DPK) terus tumbuh dengan rasio kredit bermasalah (NPL) rendah, menjaga stabilitas sistem keuangan daerah.

Dari sisi kesejahteraan, tingkat kemiskinan menurun dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) meningkat.

Namun, tingkat pengangguran terbuka dan rasio gini masih memerlukan perhatian serius.

Transformasi sistem pembayaran di Kepri berlangsung agresif. Bank Indonesia mencatat lonjakan signifikan akseptasi QRIS baik dari sisi jumlah pengguna, merchant, volume, maupun nilai transaksi.

Hingga November 2025, volume transaksi QRIS di Kepri mencapai 88,88 juta transaksi melonjak 197,31 persen (yoy).

Dari sisi nilai, transaksi menyentuh Rp10,25 triliun, tumbuh 132,84 persen (yoy).

“QRIS kini berfungsi sebagai infrastruktur ekonomi daerah, bukan sekadar alat pembayaran,” tegas Rony.

Digitalisasi ini mendorong efisiensi bisnis, memperluas pencatatan keuangan, dan membuka akses pembiayaan bagi UMKM.

Kepri memetik manfaat langsung dari QRIS Cross Border, khususnya dari wisatawan dan pelaku usaha lintas negara.

Dari Malaysia, volume transaksi mencapai 149.231 transaksi, naik 498 persen (yoy) dengan nilai Rp43,55 miliar atau melonjak 685 persen (yoy).

Sementara dari Singapura, transaksi menembus 25.735 transaksi, tumbuh 511 persen (yoy) dengan nilai Rp8,43 miliar, naik 504 persen (yoy).

Lonjakan ini memperkuat posisi Kepri sebagai gerbang ekonomi perbatasan berbasis transaksi non-tunai.

Meski digitalisasi menguat, uang kartal masih relevan, terutama pada periode musiman. Sepanjang 2025, net outflow uang kartal tercatat Rp359 miliar seiring meningkatnya kebutuhan tunai saat Ramadan, Idulfitri, dan akhir tahun.

Untuk menjamin ketersediaan rupiah, BI Kepri menggelar Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idulfitri (SERAMBI) 2025 di 147 titik dengan kebutuhan Rp2,3 triliun. Menjelang tutup tahun, BI kembali menyalurkan Rp2,01 triliun melalui SERUNAI 2025.

Bank Indonesia Kepri juga menggenjot pengembangan UMKM melalui tiga pilar: korporatisasi, peningkatan kapasitas, dan pembiayaan.

Sejumlah event strategis mencatat hasil konkret. Gebyar Melayu Pesisir (GMP) membukukan komitmen ekspor Rp1,4 miliar dari 24 UMKM dan penjualan Rp12,85 miliar, meningkat dari tahun sebelumnya.

Kepulauan Riau Ramadhan Fair (KURMA) mencatat penjualan UMKM lebih dari Rp2,7 miliar dan pembiayaan Rp2,19 miliar, melonjak signifikan dari 2024.

Melalui CERNIVAL, BI berhasil mengakselerasi transaksi digital dengan 140.026 transaksi QRIS dan nilai transaksi UMKM Rp253,6 juta dalam tiga hari—naik lebih dari 400 persen dibandingkan 2023.

Ke depan, ekonomi Kepri masih menghadapi risiko global, mulai dari tarif resiprokal, persaingan perdagangan internasional, hingga geopolitik.

Namun, peluang tetap terbuka lewat penurunan suku bunga, kepastian regulasi, dan promosi investasi.

Bank Indonesia memproyeksikan ekonomi Kepri tumbuh 6,5–7,3 persen pada 2025 dan 6,4–7,2 persen pada 2026. Inflasi diperkirakan tetap berada di sasaran 2,5 ±1 persen.

Menghadapi 2026, BI Kepri menyiapkan penguatan UMKM, digitalisasi pembayaran, elektronifikasi transaksi pemerintah daerah, serta penyediaan uang layak edar pada momen hari besar keagamaan.

“Kepri memiliki peluang besar. Tantangannya menjaga pertumbuhan tetap kuat sekaligus lebih inklusif,” tutup Rony.

Baca juga:Beredar! Video Diduga Tidak Pantas Mirip Oknum Pejabat Disperindag Batam, Klarifikasi dan Proses Kepegawaian Berjalan 

Editor:Zalfirega

Berita Terkait

BEI Gandeng Maskapai, Dorong Pilot dan Awak Kabin Jadi Investor Saham
Botasupal Kepri Musnahkan 5.454 Lembar Uang Palsu, BI Perkuat Perang Lawan Rupiah Tidak Asli
PT BSP Tanam 1.000 Mangrove di Pulau Ngenang, Perkuat Komitmen Hijau KEK Tanjung Sauh
BEI Rayakan 15 Tahun Kebangkitan, Pasar Modal Syariah Indonesia Makin Diakui Dunia
PLN Batam Perkuat Infrastruktur Listrik, Dony Oskaria Dorong Ketahanan Energi dan Daya Saing Kawasan
PLN Ingatkan:Instalasi Listrik Rumah Harus Direncanakan Sejak Awal
Kesalahan Investor Pemula: FOMO Saham hingga Abai Risiko, Ini Cara Menghindarinya
Telkom Catat TSR 35,7 Persen di 2025, Laba Tertekan Depresiasi Saat Transformasi Dipercepat

Berita Terkait

Kamis, 21 Mei 2026 - 20:57 WIB

BEI Gandeng Maskapai, Dorong Pilot dan Awak Kabin Jadi Investor Saham

Kamis, 21 Mei 2026 - 18:04 WIB

Botasupal Kepri Musnahkan 5.454 Lembar Uang Palsu, BI Perkuat Perang Lawan Rupiah Tidak Asli

Kamis, 21 Mei 2026 - 17:27 WIB

PT BSP Tanam 1.000 Mangrove di Pulau Ngenang, Perkuat Komitmen Hijau KEK Tanjung Sauh

Selasa, 19 Mei 2026 - 17:19 WIB

BEI Rayakan 15 Tahun Kebangkitan, Pasar Modal Syariah Indonesia Makin Diakui Dunia

Minggu, 17 Mei 2026 - 13:34 WIB

PLN Batam Perkuat Infrastruktur Listrik, Dony Oskaria Dorong Ketahanan Energi dan Daya Saing Kawasan

Berita Terbaru