MATAPEDIA6.com, BATAM – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kepulauan Riau memperkuat sinergi dengan Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Batam untuk menekan praktik pembiayaan ilegal sekaligus meningkatkan pelindungan konsumen. Langkah ini juga diarahkan menjaga pertumbuhan industri pembiayaan tetap sehat di tengah meningkatnya aktivitas ekonomi di Kepri.
Komitmen tersebut mengemuka dalam audiensi Kepala OJK Kepri Sinar Danandjaya bersama jajaran pengurus baru APPI Batam di Kantor OJK Kepri, Batam, Senin (27/7/2026).
Pertemuan itu menjadi forum konsolidasi regulator dan pelaku industri untuk memperkuat stabilitas sektor jasa keuangan sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi daerah.
Ketua APPI Batam Herman hadir bersama Sekretaris Resgiantoro dan Bendahara Jessica Riviera Ayuthaya.
Dalam kesempatan itu, Sinar mengucapkan selamat kepada kepengurusan baru APPI Batam dan berharap asosiasi semakin aktif menjaga integritas industri pembiayaan serta memperkuat pelindungan konsumen.
“Kami berharap APPI terus menjaga soliditas organisasi, mempertahankan kinerja industri yang baik, memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, serta meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat,” kata Sinar.
OJK mencatat industri pembiayaan di Kepulauan Riau masih menunjukkan performa positif. Hingga Maret 2026, penyaluran pembiayaan tumbuh 12,78 persen secara tahunan (year on year/yoy), jauh melampaui pertumbuhan nasional yang berada di level 0,61 persen.
Dari sisi kualitas pembiayaan, rasio Non-Performing Financing (NPF) Kepri tercatat 1,36 persen, lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional sebesar 2,83 persen. Angka tersebut menunjukkan risiko pembiayaan di daerah masih terkendali.
Baca juga:PLN Batam Pastikan Pasokan Listrik Data Center, Perkuat Daya Tarik Investasi Teknologi
Sementara itu, data April 2026 menunjukkan Kota Batam tetap menjadi motor utama industri pembiayaan di Kepri. Nilai pembiayaan di Batam mencapai Rp5,22 triliun atau sekitar 85 persen dari total pembiayaan di provinsi tersebut.
Selain membahas kinerja industri, OJK dan APPI Batam juga menyoroti indikasi aktivitas perusahaan pembiayaan yang tidak berizin di Batam dan sekitarnya.
Keberadaan perusahaan ilegal dinilai berpotensi merugikan masyarakat sekaligus menciptakan persaingan usaha yang tidak sehat.
“OJK bersama APPI Batam akan terus memperkuat pengawasan dan langkah preventif terhadap indikasi aktivitas perusahaan pembiayaan ilegal. Kami mengimbau masyarakat memastikan legalitas perusahaan pembiayaan sebelum menggunakan produk atau layanan yang ditawarkan,” ujar Sinar.
OJK juga meminta masyarakat memanfaatkan layanan resmi OJK untuk mengecek legalitas perusahaan jasa keuangan sekaligus melaporkan apabila menemukan dugaan aktivitas keuangan ilegal.
Dalam pertemuan itu, OJK turut menekankan pentingnya penerapan market conduct oleh seluruh perusahaan pembiayaan.
Penguatan tata kelola dinilai penting karena sektor pembiayaan masih menjadi salah satu penyumbang pengaduan konsumen di Kepri.
Sepanjang Januari hingga Juni 2026, sektor pembiayaan menempati urutan ketiga dalam jumlah pengaduan yang diterima OJK Kepri.
Adapun sektor Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (LPBBTI) mencatat 323 pengaduan, disusul perbankan sebanyak 199 pengaduan.
Tiga persoalan yang paling banyak dikeluhkan masyarakat meliputi restrukturisasi pembiayaan sebanyak 163 pengaduan, perilaku petugas penagihan sebanyak 130 pengaduan, serta Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) sebanyak 111 pengaduan.
Menyikapi kondisi tersebut, OJK meminta APPI Batam mendorong seluruh anggotanya memperkuat penyelesaian pengaduan melalui mekanisme internal dispute resolution, menerapkan praktik penagihan sesuai ketentuan, meningkatkan transparansi restrukturisasi pembiayaan, serta memastikan kualitas pemutakhiran data SLIK.
Melalui kolaborasi yang semakin erat, OJK berharap industri pembiayaan di Kepulauan Riau terus tumbuh sehat, memperkuat tata kelola, meningkatkan pelindungan konsumen, dan memberi kontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Baca juga:Indosat Raup Pendapatan Rp30,7 Triliun pada Semester I 2026, AI Jadi Motor Pertumbuhan Bisnis
Editor:Zalfirega










