MATAPEDIA6.com, BATAM —Cerita tentang energi tidak selalu berakhir di SPBU. Di Kota Batam, jejak aktivitas Pertamina juga terlihat dari berbagai program yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat, mulai dari pengelolaan sampah, urban farming, ketahanan pasokan bahan bakar, hingga pengembangan usaha berbasis budaya.
Rangkaian cerita itu terlihat dalam agenda site visit Apresiasi Jurnalistik Pertamina (AJP) bersama sejumlah media pada Senin (14/9/2026) yang mempertemukan sejumlah program Pertamina di Batam.
Perjalanan dimulai dari sektor yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari: lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.
Di Kampung Inovasi Kimara Urban Farming, program yang dijalankan masyarakat tidak hanya berbicara mengenai penghijauan.
Ada bank sampah, pembuatan eco enzyme, budidaya hidroponik, hingga pemanfaatan sampah organik agar kembali memiliki nilai guna.
Program tersebut memperlihatkan bagaimana persoalan sampah dapat diubah menjadi bagian dari aktivitas produktif masyarakat.
Bank sampah menjadi salah satu kegiatan yang dikelola masyarakat setempat. Ketua One Berseri, Ibu Kartini, menjadi bagian dari pengelolaan program tersebut.
Data yang tercatat dalam materi kunjungan menunjukkan bank sampah itu pernah memiliki 22.014 nasabah pada 2022. Pada 2026, perjanjian dengan anggota aktif tercatat sebanyak 18 orang.
Program tersebut juga mendapat pengakuan di tingkat lokal dengan meraih juara pertama di Kota Batam.
Pengelolaannya melibatkan berbagai unsur di lingkungan sekitar, termasuk kantor lurah, puskesmas, kampung, dan kecamatan.
Di balik kegiatan itu terdapat gagasan yang lebih besar: mengelola potensi kampung melalui pemberdayaan masyarakat sekaligus menghubungkan aktivitas pertanian perkotaan dengan pemanfaatan limbah.
Sampah organik menjadi salah satu perhatian.
Limbah dari kulit buah dan bahan organik lainnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan yang mendukung kegiatan pertanian, termasuk sebagai pupuk, sehingga masyarakat memiliki alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia.
Kegiatan bazar juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperkenalkan hasil produksi sekaligus mendorong peningkatan aktivitas usaha.
Dari lingkungan, perjalanan kemudian bergerak menuju sektor yang menjadi salah satu urat nadi aktivitas ekonomi Batam: energi.
Rombongan menuju Integrated Terminal Batam.
Di lokasi tersebut, peserta mendapatkan pemaparan sekaligus melihat langsung aktivitas terminal, termasuk proses penyaluran BBM dari tangki mobil.

Di balik bahan bakar yang kemudian sampai ke masyarakat, terdapat sistem distribusi yang harus berjalan secara terukur.
Ketahanan stok menjadi bagian penting karena kebutuhan energi di Batam tidak hanya berkaitan dengan mobilitas masyarakat, tetapi juga aktivitas ekonomi kota.
Dalam penjelasan Pertamina, sistem pasokan juga memiliki pola Regular, Alternative, and Emergency (RAE).
Sistem tersebut disiapkan sebagai salah satu upaya untuk mengantisipasi apabila sebuah depot mengalami gangguan atau tidak dapat menampung maupun memasok kebutuhan dalam jumlah tertentu.
Jr. SPV II Fuel Receiving & Storage – Fongky Ocotodiano A menyebutkan, apabila pasokan dari Tanjung Uban mengalami kendala, suplai dapat ditarik dari fasilitas lain seperti Fuel Terminal Medan maupun Teluk Kabung.
“RAE (Regular, Alternative, and Emergency) ini kan sebenarnya adalah salah satu upaya Pertamina ya untuk tanda kutip mencegah apabila di satu depot itu terjadi trouble atau terjadi sesuatu yang tidak bisa menampung banyak gitu,” ujarnya.
Baca juga:Kabut Asap Kiriman Mulai Ganggu Warga Padang, Pertamina Patra Niaga Salurkan 2.850 Masker
Sistem tersebut menunjukkan bahwa menjaga ketersediaan BBM tidak hanya mengandalkan satu titik pasokan.
“Pertamina juga memanfaatkan sistem digitalisasi untuk memantau kondisi stok di SPBU.
Sales Area Retail atau SAR memiliki dashboard yang dapat digunakan untuk memonitor kondisi SPBU. Ketika stok mulai menipis, SPBU dapat diminta melakukan pemesanan ke depot sehingga pengiriman dapat segera diatur sesuai slot yang tersedia.
Di Kepri sendiri terdapat sejumlah depot yang menjadi bagian dari sistem pasokan, antara lain Tanjung Uban, Kijang, Sambu, Batam, dan Natuna.
“Keberadaan beberapa depot tersebut membuat jaringan pasokan tidak hanya menopang kebutuhan masyarakat Kepulauan Riau, tetapi juga dapat mendukung distribusi ke wilayah lain,” ujarnya.
Namun, urusan energi di Batam kini juga bersinggungan dengan perubahan jenis bahan bakar.
Pertamina menjelaskan penerapan B50 sebagai pengganti Biosolar B40.
B50 menggunakan bahan baku nabati dari sawit. Dalam penjelasan di lapangan, salah satu sumber pasokan berasal dari Musim Mas yang memiliki aktivitas di sekitar kawasan tersebut.
Pertamina menyebut penerapan B50 di Regional Sumbagut telah mendekati 100 persen.
Ia menjelaskan, setelah peluncuran pada 5 Juli, implementasi di Regional Sumbagut pada 9 atau 10 Juli telah mencapai sekitar 70–80 persen dan kemudian terus dimasukkan secara bertahap.
“Kalau untuk B50, di Regional Sumbagut sudah hampir 100% pakai B50,” katanya.
B50 tersebut menggantikan Biosolar yang sebelumnya menggunakan B40 untuk konsumen bersubsidi. Sementara mengenai kuota, Pertamina menegaskan posisinya sebagai penyalur.

Penentuan kuota BBM bersubsidi berada pada ranah pemerintah daerah dan BPH Migas, sedangkan Pertamina menjalankan fungsi penyaluran ke SPBU.
Sistem pasokan itu juga diikuti pemantauan kondisi stok di lapangan, termasuk titik-titik yang dianggap krusial.
Di Batam, Pertamina memetakan wilayah yang membutuhkan perhatian ketika stok mulai menipis atau terjadi antrean panjang.
Namun, antrean di SPBU tidak selalu berkaitan dengan pasokan BBM.
Pertamina juga menyebut persoalan teknis di SPBU, seperti kerusakan dispenser, dapat memengaruhi kelancaran pelayanan.
Dari terminal energi, perjalanan site visit kemudian kembali kepada cerita yang lebih dekat dengan identitas kota: usaha berbasis budaya.
Rombongan menuju Rumah Batik Tenun Arios.
Di tempat ini, selembar kain membawa cerita berbeda. Motif tumbuhan dengan perpaduan warna menjadi bagian dari produk yang dikembangkan Batik Tenun Arios, UMKM asal Batam yang menjadi binaan Pertamina Patra Niaga.
Jika di Integrated Terminal Batam yang terlihat adalah bagaimana energi dijaga agar terus mengalir, di Rumah Batik Tenun Arios yang terlihat adalah bagaimana sebuah produk budaya berusaha bertahan dan berkembang mengikuti zaman.
Arios telah mengikuti program UMK Academy sejak 2024. Dalam perjalanan program tersebut, usaha ini berhasil menembus 20 besar nasional setelah melewati proses seleksi berjenjang dari lebih dari 1.000 UMK.
Pemilik Batik Tenun Arios, Atik Aritonang, mengatakan proses seleksi berlangsung cukup panjang.
“Kita ada sistem ukur. Dari seribu lebih, 800, 600, sampai 150, kemudian menjadi 20 orang. Itu diseleksi,” kata Atik.
Selama sekitar delapan bulan, peserta mengikuti proses pembelajaran yang tidak hanya membahas teori bisnis.
Ada berbagai tugas yang mendorong peserta mengembangkan usaha, termasuk kemampuan membuat konten dan memanfaatkan kanal digital.
“Walaupun kita online, kita belajar hampir satu tahun, sekitar delapan bulan. Banyak tugas yang diberikan. Saya juga banyak belajar tentang konten,” ujarnya.
Pertamina juga menilai berbagai kanal yang digunakan UMKM, termasuk media sosial dan e-commerce.
“Semua media kita juga dilihat, e-commerce kita juga dilihat oleh Pertamina. Kalau ilmu, memang kita banyak dapat dari Pertamina. Tinggal berikutnya bagaimana penerapannya,” katanya.
Di sinilah perjalanan Batik Tenun Arios menjadi menarik. Produk yang membawa unsur budaya tidak cukup hanya dibuat.
Ia harus ditemukan konsumen. Ia harus mampu tampil di ruang digital. Ia membutuhkan strategi pemasaran. Dan pada akhirnya, ia harus memiliki pasar agar dapat terus bertahan.
Karena itu, kain tradisional tidak hanya berbicara mengenai motif atau bahan. Ada cerita tentang bagaimana budaya dapat masuk ke dalam ekonomi kreatif.
Ada pula tantangan bagaimana membuat produk lokal memiliki daya saing ketika konsumen memiliki semakin banyak pilihan.
Sementara itu, Area Manager Communication, Relations & CSR Sumbagut Pertamina Patra Niaga, Fahrougi Andriani Sumampouw mengatakan UMK yang dinilai unggulan dan memiliki spesifikasi bisnis mumpuni dapat mengikuti proses seleksi serta kurasi.
“UMK yang unggulan dan memiliki spesifikasi atau kriteria bisnis yang mumpuni berhak mengikuti seleksi. Setelah itu dilakukan kurasi oleh para ahli di bidang bisnis dan mitra binaan,” kata Fahrougi.
Menurut dia, pembinaan UMK diarahkan agar pelaku usaha tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu meningkatkan keuntungan, inovasi, dan dampak ekonomi bagi masyarakat.
“Harapannya para alumni UMK Academy bisa semakin tinggi profitnya, semakin tinggi inovasinya, dan bisa memberikan multiplier effect kepada masyarakat, khususnya di wilayah Kota Batam,” ujarnya.
Pertamina juga memberikan kesempatan kepada UMK binaannya mengikuti ekspo dan berbagai kegiatan promosi.
Batik Tenun Arios sebelumnya pernah mengikuti kegiatan bersama Pertamina di Malang pada 2024.
Kini, Atik berharap tersedia ruang promosi yang lebih permanen melalui galeri atau rumah binaan bagi produk UMK binaan Pertamina di Batam.
Fahrougi mengatakan gagasan tersebut akan menjadi bahan evaluasi dan bagian dari inovasi untuk memperluas ruang promosi UMK di Batam dan Kepri.
“Ini pastinya akan menjadi evaluasi kami dan menjadi bagian dari inovasi. Terkait dengan ekspo di wilayah Kepri atau Batam, sesegera mungkin akan kita laksanakan, mungkin tahun depan,” katanya.
Ia juga membuka peluang Batik Tenun Arios kembali terlibat dalam kegiatan nasional, termasuk ekspo maupun pelatihan berkelanjutan.
“Kami berharap dalam berbagai kegiatan nasional, Batik Tenun Arios juga bisa kami libatkan dalam expo nasional ataupun event dan pelatihan yang sifatnya lebih berkelanjutan untuk keberlangsungan bisnis UMK,” ujarnya.
Rangkaian site visit tersebut akhirnya memperlihatkan tiga wajah berbeda dari satu ekosistem pemberdayaan.
Di Kampung Inovasi Kimara, masyarakat mengolah potensi lingkungan menjadi aktivitas produktif.
Di Integrated Terminal Batam, sistem distribusi bekerja menjaga energi tetap tersedia bagi masyarakat dan aktivitas ekonomi.
Sementara di Rumah Batik Tenun Arios, produk budaya didorong naik kelas melalui pembinaan, inovasi, pemasaran digital, dan perluasan pasar.
Ketiganya memang bergerak di bidang yang berbeda. Namun, benang merahnya sama: bagaimana potensi lokal tidak berhenti menjadi potensi.
Sampah diolah agar memiliki nilai guna. Lahan dan lingkungan dimanfaatkan untuk kegiatan produktif.
Energi disiapkan melalui sistem pasokan berlapis agar kebutuhan masyarakat tetap terjaga.
Sementara kain tradisional didorong agar tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga mampu tumbuh sebagai produk ekonomi kreatif.
Di tengah Batam yang terus berkembang sebagai kota industri dan tujuan investasi, cerita semacam ini menjadi penting.
Sebab wajah sebuah kota tidak hanya ditentukan oleh gedung tinggi, kawasan industri, pelabuhan, atau arus investasi.
Ada masyarakat yang mengelola lingkungannya. Ada sistem yang memastikan energi tetap tersedia.
Ada pelaku UMKM yang mempertahankan karya berbasis budaya sambil berusaha menemukan pasar baru.
Dari sampah hingga kain, dari kampung hingga terminal energi, semuanya memperlihatkan bahwa pembangunan juga memiliki wajah yang lebih dekat dengan masyarakat.
Baca juga:Nasib Ribuan Pekerja Ghim Li di Ujung Tanduk, Disnaker Minta Hak Dibayar Dulu
Penulis:Zalfirega|Editor:Trio











