MATAPEDIA6.com, BATAM-Deretan rak kayu beraroma produk lokal menyambut siapa saja yang melangkah ke GPM Mart di K-Square, Batam. Di bawah pancaran lampu gerai yang terang, berbagai kemasan kudapan, kriya, hingga busana tertata rapi.
Seorang pengunjung tampak berdiri berlama-lama di depan meja display. Tangannya mengamati sebuah kemasan, membaca detail produk sebelum akhirnya memasukkannya ke keranjang belanja.
Pemandangan ritel modern itu sekilas tampak biasa, namun bagi para pelaku UMKM di Kepulauan Riau, rak-rak ini adalah panggung pertaruhan.
Di balik etalase yang bersih dan pendingin udara mall yang sejuk, ada helaan napas perjuangan para perajin lokal agar produk mereka tak sekadar jadi pajangan, melainkan mampu menembus pasar nasional.
GPM Mart hadir sebagai etalase utama perhelatan Gebyar Melayu Pesisir (GMP) 2026. Digelar oleh Bank Indonesia Perwakilan Kepulauan Riau bersama Pemerintah Provinsi Kepri pada 14–20 September 2026 di K-Square Mall, Batam, ajang ini menjadi ajang pembuktian taji produk lokal.
Bukan tanpa alasan langkah ini digenjot. Data menunjukkan, sebanyak 96 persen pelaku usaha di Kepri merupakan sektor UMKM (data per Juli 2026).
Sektor inilah yang menjadi bahan bakar utama pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepri yang sukses melesat hingga 6,99 persen pada Triwulan II-2026.
Melalui GMP 2026 yang melibatkan perwakilan UMKM dari 7 kabupaten/kota se-Kepri ini, panitia membidik target tak main-main: perputaran ekonomi dan nilai penjualan sebesar Rp 10,5 miliar.
Rangkaian program yang dihadirkan pun terverifikasi mencakup kurasi ekspor, onboarding digital, hingga program pelatihan tenun untuk mendorong peningkatan kelas UMKM lokal.
Pesan BI Kepri: Mengembangkan Warisan Melayu Jadi Nilai Tambah Ekonomi
Di tengah geliat promosi ini, Bank Indonesia Kepulauan Riau menegaskan arah strategis pengembangan UMKM di wilayah perbatasan tersebut.
Kepala Perwakilan BI Kepri, Rony Widijarto Purubaskoro, menekankan pentingnya mengembangkan warisan Melayu sebagai sumber nilai tambah ekonomi.
Menurutnya, produk budaya tidak boleh berhenti sebagai artefak sejarah semata, melainkan harus dikembangkan agar memiliki daya saing tinggi dan memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat pesisir.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui pendampingan berkelanjutan, penguatan integritas data usaha, hingga penyediaan infrastruktur pembayaran modern.
Kepri kini menjadi salah satu episentrum adopsi digital melalui transaksi QRIS Antarnegara (Cross Border).
Akumulasi transaksi lintas batas di kawasan ini bahkan telah menembus angka fantastis Rp 170 miliar, memudahkan wisatawan mancanegara melariskan produk lokal saat berkunjung ke Batam.
“Jadi selama event GMP 2026 total transaksi melalui pembayaran QRIS mencapai Rp 343.720.200,” sebut Rony.
Menembus Gelombang Seleksi dari Rumah Tenun
Jika di GPM Mart produk tampil dalam wujud akhirnya yang memikat, cerita berbeda berdenyut di Rumah Batik Tenun Arios, Batam. Di sanggar ini, bunyi helai benang dan aroma malam (wax) mengisi udara saban hari.
Di tempat ini, selembar kain membawa cerita berbeda. Di tangan Atik Aritonang, pemilik Batik Tenun Arios, selembar kain dengan motif tumbuhan dan perpaduan warna bukan cuma soal estetika.batik
Kain itu adalah gambaran bagaimana sebuah produk budaya berusaha bertahan dan berkembang mengikuti zaman.
“Wah ini produk budaya itu harus punya nilai tambah ekonomi. Kita ingin membuktikan kain tradisional Kepri punya daya saing,” kata wanita berdarah Batak itu.
Perjalanan Arios menjadikan produk lokal berskala nasional tidak membalikkan telapak tangan. Arios adalah salah satu UMKM binaan yang digemban dalam program UMK Academy sejak 2024.

Dalam perjalanan program tersebut, usaha ini berhasil menembus 20 besar nasional setelah melewati proses seleksi berjenjang dari lebih dari 1.000 UMK.
Atik mengenang betapa ketatnya kurasi dan pembelajaran berjenjang yang harus ia lewati.
“Kita ada sistem ukur. Dari seribu lebih, 800, 600, sampai 150, kemudian menjadi 20 orang. Itu diseleksi,” kata Atik kepada matapedia6 beberapa hari lalu di kediamannya.
Selama sekitar delapan bulan, peserta mengikuti proses pembelajaran yang tidak hanya membahas teori bisnis.
Ada berbagai tugas yang mendorong peserta mengembangkan usaha, termasuk kemampuan membuat konten dan memanfaatkan kanal digital.
“Walaupun kita online, kita belajar hampir satu tahun, sekitar delapan bulan. Banyak tugas yang diberikan. Saya juga banyak belajar tentang konten,” ujarnya.
Sembari belajar digitalisasi, pergerakan usaha Arios terus dipantau secara detail oleh pihak pembina untuk memastikan standar kesiapan produk.
“Semua media kita juga dilihat, e-commerce kita juga dilihat oleh Bank Indonesia Kepulauan Riau. Kalau ilmu, memang kita banyak dapat dari Bank Indonesia. Tinggal berikutnya bagaimana penerapannya,” kata Atik.
Di sinilah perjalanan Batik Tenun Arios menjadi menarik. Produk yang membawa unsur budaya tidak cukup hanya dibuat.
Ia harus ditemukan konsumen, tampil di ruang digital, memiliki strategi pemasaran, dan pada akhirnya memiliki pasar agar dapat terus bertahan.
Dari Transaksi hingga Mimpi Galeri Permanen
Batik Tenun Arios sebelumnya pernah mengikuti kegiatan bazar Gebyar Pesisir Melayu yang digelar oleh Bank Indonesia Kepri.
Pengalaman tersebut memberi gambaran nyata bagaimana produk lokal merespons minat pasar.
Namun bagi para pelaku UMKM, etalase seperti GMP 2026 atau GPM Mart di K-Square diharapkan tidak sekadar menjadi ajang musiman.
Kini, Atik berharap tersedia ruang promosi yang lebih permanen melalui galeri atau rumah binaan bagi produk UMK.
“Harapannya tentu ada ruang promosi yang lebih permanen, seperti galeri atau rumah binaan khusus bagi produk UMK,” tutur Atik penuh harap.
Di tengah derap langkah pengunjung K-Square Mall yang melintas di antara eskalator dan koridor megah, produk-produk UMKM Kepri kini berdiri sejajar dengan merek komersial lainnya.
Di antara lembaran kain tenun dan rak-rak GPM Mart yang tertata rapi, ada kisah tentang kegigihan, transformasi digital, dan asa lokal yang menolak menyerah pada zaman.
Kisah yang kini membuktikan bahwa produk pesisir Melayu siap menggoyang pasar global.
Baca juga:Cerita Pilu Wanita Korban Jambret Saat Hadir di Polsek Batam Kota
Penulis:Zalfirega|Editor:Trio











