MATAPEDIA6.com, BATAM– Sore itu, antrean kendaraan mengular di sebuah SPBU kawasan Batu Aji dan Sagulung Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri). Motor dan mobil berbaris dengan rapi di sebelah jalur kiri dan kanan mengeluarkan suara mesin menderu klakson pun sesekali berbunyi untuk manju ke arah petugas seragam biru dan merah untuk mengisi tangki kendaran.
Di balik pemandangan biasa ini, tersimpan kisah besar: bagaimana energi, dari solar hingga biofuel, menentukan arah masa depan Indonesia.
Andi, pengemudi ojek online berusia 34 tahun, menyalakan mesin motornya dengan wajah sedikit gelisah.
“Kalau stok BBM aman, kami bisa tenang cari rezeki. Tapi kalau macet distribusi, langsung terasa di dapur. Nggak bisa narik, nggak bisa belanja,” ujarnya pada matapedia6.
Energi bukan sekadar bahan bakar. Ia adalah denyut kehidupan. Dari SPBU yang tak pernah sepi, tabung elpiji 3 kg yang berpindah tangan di pasar, hingga avtur yang menghidupi Bandara Hang Nadim—semua menjadi potongan cerita besar kedaulatan energi Indonesia.
Energi Rakyat: Elpiji dan Antrean BBM
Di dapur rumah tangga sederhana di Sagulung, Misna, ibu rumah tangga 42 tahun, sedang menanak nasi dengan kompor gas kecil. Tabung melon terletak dengan rapi hanya tinggal beberapa isi.
“Kalau langka, susah sekali. Harganya bisa naik. Kami orang kecil paling terasa,” keluh wanita berkerudung itu.
Kisah Misna dan Andi menggambarkan realitas transisi energi: tidak cukup bicara soal kilang, teknologi, dan investasi. Ia menyangkut dapur rakyat kecil. Energi murah, stabil, dan terjangkau masih menjadi urat nadi masyarakat bawah.
Batam, sebagai kota industri dan gerbang internasional, menghadapi dilema ganda: kebutuhan energi masyarakat sehari-hari dan tuntutan dunia internasional untuk menurunkan emisi.
Tonggak B40: Ambisi Energi Hijau
Tahun 2025 menjadi penanda sejarah. Indonesia resmi menerapkan B40, campuran 40% biodiesel sawit dengan solar. Targetnya 15,6 juta kiloliter (KL) disalurkan sepanjang tahun. Hanya dalam 45 hari pertama, 1,2 juta KL telah terdistribusi. Hingga Juni 2025, realisasi mencapai 6,8 juta KL atau hampir 50% dari target tahunan.
Program biodiesel bukan sekadar soal energi alternatif. Pemerintah menghitung, B40 mampu menghemat devisa hingga Rp147,5 triliun per tahun, menyerap lebih dari 2 juta tenaga kerja, serta memangkas emisi sekitar 41 juta ton CO₂e.
“Dari B40 menuju B100, kita ingin menunjukkan bahwa Indonesia mampu berdiri sejajar dengan negara maju dalam transisi energi,” sebut Area Manager Communication, Relations & CSR Kilang Pertamina Internasional Agustiawan pada wartawan dalam sosialisasi AJP di Batam, Jumat (29/8/2025).
Namun ambisi ini bukan tanpa tantangan. B50 dijadwalkan pada 2026, sementara B100 masih menghadapi uji teknis, kapasitas kilang, serta risiko fluktuasi harga sawit.
Miliaran Dolar Investasi Pertamina Menyusun Peta Energi Hijau Indonesia
Investasi energi tidak lagi hitungannya miliaran rupiah, melainkan ratusan triliun. Pertamina melalui Kilang Pertamina Internasional (KPI) menegaskan bahwa satu proyek pembangunan kilang minyak baru saja bisa menyedot dana raksasa. Revitalisasi kilang Cilacap, misalnya, mencapai USD 7,437 juta. Sementara untuk proyek kilang baru, kebutuhan investasinya diperkirakan hingga ratusan triliun rupiah.
Nilai fantastis ini menggambarkan bahwa transformasi energi Indonesia tidak hanya soal distribusi BBM ke masyarakat, tetapi juga strategi jangka panjang: memastikan kilang nasional siap memproduksi energi masa depan, dari B40, B50, hingga B100.
Baca juga: Pertamina Patra Niaga Sumbagut Pastikan BBM dan LPG Aman Selama Libur Panjang HUT RI ke-80
“Setiap proyek kilang adalah proyek strategis bernilai raksasa,” tulis laman resmi Kilang Pertamina Internasional (KPI).
Kilang dan Diplomasi Energi
Suara mesin di kilang Pertamina bukan sekadar dentuman industri, melainkan simbol arah bangsa. Dari balik pipa-pipa baja dan tangki raksasa, lahir energi yang tidak hanya menggerakkan mesin, tetapi juga geopolitik Indonesia.

Di tengah krisis energi global akibat konflik Rusia–Ukraina dan ketidakpastian harga minyak dunia, biodiesel memberi Indonesia posisi tawar baru. “Biofuel adalah kartu diplomasi. Kita tidak lagi hanya tergantung pada impor minyak fosil, tapi punya energi hijau dari dalam negeri,” ujar seorang analis energi dari Universitas Gadjah Mada dikutip dalam beberapa media.
Dengan cadangan sawit terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi mengubah pasar energi global. Tetapi potensi itu membawa pertanyaan: apakah transisi energi berbasis sawit benar-benar hijau, atau sekadar memindahkan beban emisi ke lahan perkebunan?
Bioavtur: Misi Hijau dari Bandara Hang Nadim
Batam bukan hanya soal SPBU dan elpiji. Bandara Hang Nadim, salah satu hub penerbangan regional, mengandalkan avtur sebagai darah kehidupan. Setiap pesawat yang lepas landas membawa cerita tentang konektivitas Batam dengan dunia.
Pertamina kini tengah mengembangkan bioavtur dari minyak jelantah (used cooking oil). Teknologi ini sudah diuji pada penerbangan komersial dan terbukti aman. Bayangkan: pesawat yang terbang dari Hang Nadim menuju Singapura, Kuala Lumpur, atau Jakarta, menggunakan bahan bakar dari sisa minyak goreng rumah tangga.
Jika bioavtur benar-benar diadopsi massal, Batam bisa menjadi laboratorium hidup transisi energi Asia Tenggara.
Perbandingan Global: Belajar dari Brasil, Eropa, dan Amerika
Indonesia tidak sendiri dalam transisi energi. Brasil telah lama memimpin dengan bioetanol berbasis tebu, yang kini menjadi tulang punggung transportasi darat mereka. Uni Eropa mendorong Sustainable Aviation Fuel (SAF) sebagai standar baru penerbangan, meski kerap menentang ekspansi sawit Indonesia karena isu deforestasi. Amerika Serikat mengembangkan biofuel berbasis jagung, sembari tetap mengandalkan shale oil.
Perbandingan ini menunjukkan bahwa transisi energi selalu berangkat dari sumber daya domestik. Indonesia dengan sawit, Brasil dengan tebu, Amerika dengan jagung. Pertanyaannya: apakah Indonesia bisa menghindari jebakan “ketergantungan tunggal” dan memperluas portofolio energi hijau ke surya, angin, dan gas?
Seorang ekonom energi dari LPEM UI menegaskan, “Biodiesel itu penting, tapi jangan sampai kita terjebak dalam monokultur energi. Transisi harus inklusif, bukan hanya sawit.” Demikian dikutip dari berbagai media.
Energi Rakyat, Energi Dunia
Dari dapur kecil Misnah di Sagulung, dari motor Andi yang mengantre di SPBU, hingga kilang raksasa di Dumai dan Balikpapan—semua terhubung dalam satu narasi besar. Energi bukan hanya soal konsumsi, tetapi juga soal masa depan bangsa.
Ketika pesawat lepas landas dari Batam dengan bioavtur, itu bukan sekadar penerbangan. Itu adalah pesan diplomasi: Indonesia tidak lagi sekadar konsumen energi global, tetapi pemain utama yang membawa visi hijau ke panggung dunia.
Transisi energi Indonesia adalah perjalanan maraton, bukan sprint. Dari B40 hari ini hingga B100 di masa depan, dari dapur rakyat hingga meja diplomasi internasional, semua langkah adalah bagian dari narasi besar kedaulatan energi.
Mungkin suatu hari, ketika kembali melihat antrean SPBU di Batam, cerita yang muncul bukan lagi soal kekhawatiran kehabisan stok, melainkan bagian dari perjalanan panjang bangsa menuju masa depan hijau. Energi bukan lagi sekadar denyut kehidupan, melainkan denyut sejarah Indonesia.
Baca juga:Pertamina Patra Niaga Sumbagut Meriahkan HUT RI ke-80 dengan Promo dan Aktivasi Sepanjang Agustus
Penulis: Zalfirega|Editor:Trio