MATAPEDIA6.com, BATAM — Salah satu warung kopi sederhana di kawasan Perumnas, Sagulung, aroma robusta bercampur obrolan hangat para pelanggan yang sibuk menatap layar ponsel. Di atas meja, selembar kertas kecil dengan kode hitam-putih terpasang di sisi toples gula.
Bukan nomor rekening, bukan pula nota belanja — melainkan kode QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard), alat pembayaran digital yang kini menjelma menjadi nadi baru ekonomi di Kepulauan Riau.
“Anak muda sekarang jarang bawa uang tunai. Jadi saya ikut-ikut pakai QRIS,” kata Edi, pemilik warung kopi Semangi, sambil menuang kopi ke cangkir pelanggannya, Rabu (5/11/2025). “Cepat, gak ribet. Uangnya langsung masuk ke rekening. Pelanggan juga suka karena bisa bayar dari HP.”
Cerita Edi bukan pengecualian. Di Batam dan sekitarnya, QRIS menjelma menjadi simbol perubahan cara bertransaksi. Dari penjaja gorengan keliling, pedagang pasar, hingga toko oleh-oleh di Nagoya Hill — semua mulai bergantung pada teknologi pembayaran digital ini. Apa yang dulu hanya dikenal di kafe modern, kini sudah merambah warung kopi di gang sempit Sagulung.
QRIS, Jembatan Ekonomi Antar Pulau
Bagi wilayah kepulauan seperti Kepri yang tersebar di lebih dari 2.400 pulau, akses ke layanan keuangan konvensional sering menjadi tantangan. Distribusi uang tunai tidak selalu lancar, biaya transaksi tinggi, dan jarak ke bank kerap menjadi kendala utama bagi pelaku usaha kecil.
Di titik inilah QRIS hadir sebagai solusi. “QRIS bukan sekadar metode transaksi, tapi alat pemberdayaan ekonomi,” ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Rony Widijarto Priyo dalam kesempatan berbeda.
Menurutnya, kehadiran QRIS memungkinkan pelaku UMKM di pulau-pulau kecil menerima pembayaran tanpa harus memiliki mesin EDC atau membuka rekening rumit. “Inilah inklusi keuangan yang nyata,” tegasnya.
QRIS tidak hanya mempermudah transaksi, tapi juga mendorong ekonomi digital di daerah kepulauan. Dengan dukungan program QRIS Jelajah Indonesia Bank Indonesia Kepri menggandeng generasi muda, komunitas kreatif, hingga pelaku UMKM untuk memperluas edukasi digitalisasi pembayaran.
Data yang Bicara
Transformasi digital di Kepri bukan sekadar wacana. Berdasarkan data Bank Indonesia Kepri, nilai transaksi QRIS hingga September 2025 mencapai Rp7,7 triliun atau melonjak 140,6 persen dibanding tahun sebelumnya.
Baca juga:AJI Batam dan BI Kepri Dorong Jurnalis Muda Tulis Isu UMKM, Gaungkan Literasi Ekonomi Lokal
Jumlah pengguna aktif pun naik tajam menjadi 539 ribu akun dengan sektor kuliner, ritel, dan transportasi sebagai penyumbang utama.
Rinciannya menunjukkan pertumbuhan yang konsisten:
2023: 16,14 juta transaksi senilai Rp2,31 triliun
Mei 2024: 11,5 juta transaksi senilai Rp2,47 triliun
September 2025: 21,5 juta transaksi senilai Rp7,7 triliun
Sekitar 80 persen transaksi berasal dari pelaku UMKM Batam, menandakan perubahan besar di sektor ekonomi rakyat.
Dulu, pedagang kecil hanya bergantung pada uang tunai. Kini, mereka mulai memanfaatkan QRIS untuk mencatat transaksi, mengatur keuangan, bahkan mendapatkan akses pembiayaan dari lembaga keuangan digital.
Tantangan di Tengah Perubahan
Meski tumbuh pesat, literasi digital di pulau-pulau kecil masih menjadi pekerjaan rumah. Beberapa wilayah seperti Tambelan, Midai, dan Anambas belum memiliki koneksi internet stabil, membuat sebagian pedagang kesulitan saat jaringan terputus.
“Kalau sinyal hilang, ya nunggu. Tapi saya tetap pakai karena lebih aman daripada uang tunai,” ujar Edi sambil tertawa kecil.
Selain itu, masih ada sebagian masyarakat yang ragu menggunakan pembayaran digital karena kekhawatiran terhadap keamanan data. Bank Indonesia Kepri menanggapi hal ini dengan menggencarkan sosialisasi dan edukasi publik.
Melalui kegiatan seperti Road to Carnival 2025 dan lomba karya tulis feature bertema QRIS Antarnegara: Penguat Ekonomi Lintas Batas, BI berupaya menumbuhkan kesadaran bahwa digitalisasi adalah langkah maju menuju ekonomi yang lebih inklusif.
Dampak Langsung bagi Ekonomi Daerah
Tak hanya efisien, penerapan QRIS terbukti memberi dampak nyata terhadap pertumbuhan ekonomi Kepri. Transaksi non-tunai membantu perputaran uang menjadi lebih cepat, mengurangi biaya logistik pengiriman uang antar daerah, dan meningkatkan pendapatan pelaku UMKM.
Bagi sektor pariwisata, QRIS juga mempermudah transaksi wisatawan domestik maupun mancanegara. Di kawasan Nongsa dan Lagoi, sejumlah destinasi wisata sudah sepenuhnya mengandalkan pembayaran digital.
Hal ini mendukung program Cross Border QRIS yang memungkinkan wisatawan dari negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia melakukan pembayaran lintas batas dengan kurs otomatis — sebuah terobosan strategis yang digagas Bank Indonesia.
“QRIS lintas batas akan menjadi game changer bagi ekonomi Kepulauan Riau,” ujar Rony Widijarto Priyo. “Karena Kepri berada di perbatasan, setiap kemudahan transaksi akan berdampak langsung pada perdagangan dan pariwisata.”
Inklusi Keuangan yang Semakin Luas
Dari sisi kebijakan, BI Kepri menegaskan bahwa transformasi digital tak hanya soal teknologi, tapi juga tentang pemerataan akses ekonomi. Melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah, kampus, dan lembaga keuangan, BI menggelar berbagai pelatihan penggunaan QRIS bagi pelaku usaha mikro.
Banyak pelaku usaha perempuan di pasar tradisional kini mulai berani membuka tabungan digital karena sudah terbiasa bertransaksi lewat QRIS. Fenomena ini membentuk ekosistem baru — di mana uang berputar lebih cepat, ekonomi lebih transparan, dan peluang usaha makin terbuka.
Menuju Ekonomi Kepri yang Inklusif dan Tangguh
QRIS mungkin hanya kode persegi hitam-putih, tapi di baliknya mengalir denyut ekonomi baru.
Satu pemindaian QR kini bukan lagi sekadar transaksi, melainkan simbol perubahan — dari ekonomi konvensional menuju ekosistem digital yang inklusif dan efisien.
Bagi Kepulauan Riau, transformasi ini bukan sekadar modernisasi sistem pembayaran, tetapi strategi nyata menuju kemandirian ekonomi daerah. Bank Indonesia, melalui kebijakan digitalisasi sistem pembayaran, telah membuka jalan bagi UMKM, pelaku usaha pesisir, hingga generasi muda untuk ikut berperan dalam pertumbuhan ekonomi masa depan.
“QRIS membuat usaha kecil bisa besar tanpa batas,” kata Edi menutup percakapan sore itu.
Dari warung kopi Sagulung hingga pusat kota Batam, QRIS telah menjembatani ribuan kisah ekonomi rakyat — kecil, cepat, dan pasti — menuju Kepri yang lebih tangguh dan inklusif.
Baca juga:AJI Batam dan BI Kepri Bangkitkan Pers Kampus, Tanamkan Etika dan Integritas di Bulan Bahasa
Penulis:Zalfirega|Editor:Trio

















