MATAPEDIA6.com BATAM — Perayaan Imlek 2577 tak berhenti pada pesta lampion dan barongsai. Di balik gemerlap Night Party Nagoya Lantern Festival di Jalan Raya Nagoya Citywalk, Sabtu (14/2/2026), BP Batam mengunci momentum percepatan Wilayah Penataan dan Pengembangan (WPP) Prioritas New Nagoya.
Agenda budaya ini berubah menjadi panggung strategis. Ribuan warga memadati kawasan Nagoya. Puluhan UMKM kuliner memutar roda ekonomi.
Pemerintah dan pelaku usaha berdiri dalam satu garis kepentingan: menghidupkan kembali jantung perdagangan Batam dengan wajah baru.
Anggota/Deputi Infrastruktur BP Batam, Mouris Limanto, menegaskan arah kebijakan tidak lagi sebatas pembenahan jalan. Ia mendorong transformasi menyeluruh.
Baca juga:Kelurahan Tanjung Pinggir Juara Umum MTQH XXIV Kecamatan Sekupang 2026
“Kami membangun Nagoya bukan sekadar koridor transportasi. WPP New Nagoya harus melahirkan ruang publik yang hidup, produktif, dan berdaya saing internasional,” tegas Mouris.
Pernyataan itu menandai perubahan pendekatan. Revitalisasi tidak hanya menyasar fisik, tetapi juga ekosistem ekonomi. BP Batam memadukan tiga pilar utama: konektivitas, aktivasi ruang publik, dan penguatan perdagangan.
Dari sisi infrastruktur, pemerintah akan mempercepat integrasi drainase terpadu, memperluas dan menata jalur pedestrian ramah wisatawan, serta memperbaiki kualitas tata kawasan. Langkah ini menjawab persoalan klasik Nagoya: kemacetan, genangan, dan ketidakteraturan visual kota.
Di sisi ekonomi, WPP New Nagoya memposisikan event budaya sebagai mesin penggerak. Festival, bazaar, dan atraksi kreatif dirancang bukan sekadar hiburan musiman, tetapi sebagai instrumen pengungkit daya beli dan perputaran uang di pusat kota.
Model ini mencerminkan strategi urban modern: kota tumbuh melalui kombinasi infrastruktur kuat dan ruang publik aktif. Nagoya diarahkan menjadi etalase Batam di mata wisatawan regional.
“Integrasi antara infrastruktur, event, dan UMKM akan memperkuat posisi Batam sebagai destinasi wisata dan pusat perdagangan regional,” ujar Mouris.
Optimisme serupa datang dari Owner Nagoya Citywalk, Suhendro. Ia menyatakan kesiapan sektor swasta menjadi mitra implementasi WPP. Menurutnya, kawasan dengan tata ruang tertib dan agenda event rutin akan meningkatkan daya saing komersial.
Secara analitik, sinergi ini menunjukkan pergeseran paradigma pembangunan Batam. Pemerintah tidak lagi berdiri sendiri. Swasta dan pelaku UMKM masuk sebagai simpul utama ekosistem.
Event Night Party Nagoya Lantern Festival yang berlangsung 13–16 Februari 2026 menghadirkan bazaar UMKM, festival lampion, atraksi barongsai, lion dance, hingga fashion show Imlek.
Namun lebih dari itu, festival ini menjadi simulasi kecil konsep New Nagoya: ruang publik yang ramai, ekonomi yang bergerak, dan infrastruktur yang siap menopang pertumbuhan.
Imlek membawa pesan optimisme. BP Batam menangkap momentum itu sebagai energi kolektif untuk membentuk Nagoya yang modern, inklusif, dan kompetitif di tingkat regional.
Jika konsisten dieksekusi, New Nagoya tak sekadar proyek tata kota. Ia berpotensi menjadi model integrasi budaya, ekonomi, dan infrastruktur di Batam.
Baca juga:RAT Kopkar BP Batam Menggeliat, Amsakar Dorong Transformasi Digital dan Ekspansi Usaha
Editor:Zalfirega


















