Fesmed Selat Malaka AJI 2026 di Batam Bahas Kebebasan Pers dan Isu Publik Asia Tenggara

Sabtu, 26 September 2026 - 19:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Fesmed Selat Malaka AJI 2026 di Batam Bahas Kebebasan Pers dan Isu Publik Asia Tenggara. Foto:Istimewa

Fesmed Selat Malaka AJI 2026 di Batam Bahas Kebebasan Pers dan Isu Publik Asia Tenggara. Foto:Istimewa

70 / 100 Skor SEO

MATAPEDIA6.com, BATAM— Festival Media Selat Malaka Aliansi Jurnalis Independen (AJI) 2026 tidak sekadar mempertemukan jurnalis dari berbagai daerah.

Selama tiga hari, festival yang berlangsung di Batam dan Tanjungpinang, Kepulauan Riau, itu menjadi ruang untuk membahas kebebasan pers, hak asasi manusia, lingkungan, demokrasi, hingga persoalan masyarakat sipil di kawasan Asia Tenggara.

Fesmed Selat Malaka AJI 2026 berlangsung pada 19–21 September 2026. Rangkaian kegiatan mencakup seminar internasional, lebih dari 20 lokakarya dan diskusi, pentas seni dan budaya, konser musik, sarasehan, napak tilas Pulau Penyengat, serta konsolidasi AJI dari berbagai daerah di Indonesia.

Hampir 500 peserta menghadiri pembukaan sekaligus seminar internasional di Politeknik Negeri Batam pada Sabtu (19/9/2026).

Festival tahun ini mengangkat tema “Kemerdekaan Pers dan Keadilan HAM di Asia Tenggara.”

Pembukaan ditandai dengan pemukulan kompang oleh Ketua Umum AJI Indonesia Nany Afrida, Sekretaris Jenderal AJI Indonesia Bayu Wardhana, Direktur Politeknik Negeri Batam Bambang Hendrawan, Ketua Panitia Fesmed Selat Malaka 2026 Adam Zulfikar, Ketua AJI Batam Yogi Eka Sahputra, dan Ketua AJI Tanjungpinang Sutana.

Membaca Kondisi Pers di Asia Tenggara

Seminar internasional menjadi salah satu agenda utama pada hari pertama. Forum tersebut membahas kondisi kebebasan pers dan tantangan jurnalisme di Asia Tenggara.

Sejumlah tokoh dari jaringan media dan organisasi pers internasional hadir sebagai pembicara. Mereka antara lain Regional Director Asia Centre James Gomez, Pongpan Chunjai dari Prachatai Thailand, Koordinator Gerakan Media Merdeka (Geramm) Alyaa Alhadjri, serta Editor-in-Chief Japan Fact-check Center Daisuke Furuta.

Diskusi menyoroti tantangan yang dihadapi jurnalis di berbagai negara, sekaligus pentingnya membangun jaringan lintas negara ketika media menghadapi persoalan yang tidak mengenal batas wilayah.

Daisuke Furuta mengatakan, jurnalis perlu memperkuat hubungan dengan jaringan pers internasional. Menurutnya, jejaring tersebut dapat membantu memperluas perhatian terhadap kasus-kasus yang menimpa jurnalis di kawasan.

“Dan harapannya ada aksi nyata yang mengikutinya,” kata Daisuke.

Baca juga:Produksi Terhenti, Gaji Belum Cair: Nasib Ribuan Pekerja PT Ghim Li di Ujung Ketidakpastian dan Geruduk DPRD Batam

Ketua Panitia Fesmed Selat Malaka 2026 Adam Zulfikar mengatakan, festival tersebut menjadi ruang untuk memperluas percakapan mengenai kondisi media dan jurnalisme.

“Di tengah situasi seperti sekarang, ruang untuk berdiskusi, bertukar perspektif, dan membicarakan berbagai persoalan mesti terus diperbanyak,” katanya.

Menurut Adam, tantangan jurnalisme tidak hanya muncul di Indonesia. Sejumlah negara Asia Tenggara juga menghadapi persoalan serupa.

Karena itu, panitia memilih Selat Malaka sebagai ruang pertemuan untuk membicarakan berbagai isu lintas negara secara independen.

“Dari sini, kita melihat ada banyak isu melampaui batas negara yang bisa dibicarakan bersama, terutama terkait media, jurnalisme, lingkungan, demokrasi, dan masyarakat sipil,” ujarnya.

Dari Data Center hingga Perdagangan Orang

Pembahasan Fesmed tidak berhenti pada isu kebebasan pers. Setelah seminar internasional, peserta mengikuti lebih dari 20 lokakarya, seminar, diskusi publik, dan gelar wicara di berbagai ruang di Politeknik Negeri Batam.

Topiknya beragam dan bersinggungan langsung dengan kepentingan publik.

Peserta membahas pembangunan data center dan kebutuhan energi serta air, isu kelautan dan pulau-pulau kecil, tindak pidana perdagangan orang, peningkatan kapasitas jurnalistik, jurnalisme warga, hingga penulisan ilmiah populer untuk akademisi.

Adam mengatakan, panitia mendapat respons tinggi dari masyarakat. Hampir seluruh kelas terisi peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari akademisi, mahasiswa, peneliti, pemerintah, jurnalis, hingga masyarakat umum.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat kita masih peduli dengan keadaan sosial masyarakat yang berada di sekitar mereka,” katanya.

Sampah Plastik Jadi Plakat, ERK Tampil Perdana di Batam

Fesmed juga membawa isu lingkungan ke dalam rangkaian acaranya.

Pada malam pertama, peserta menikmati pentas seni dan budaya yang menampilkan Kumpulan Anak Seni (KUAS) Politeknik Negeri Batam, Malaykustik, hingga joget lambak.

Panitia kemudian menyerahkan plakat kepada para delegasi. Menariknya, plakat tersebut menggunakan sampah plastik hasil kolaborasi AJI Batam dan Free The Sea.

Ketua AJI Batam Yogi Eka Sahputra mengatakan, kolaborasi menjadi salah satu kunci pelaksanaan Fesmed Selat Malaka 2026.

Panitia melibatkan hampir 100 mahasiswa Politeknik Negeri Batam dalam berbagai kebutuhan acara. Mereka berasal antara lain dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma, PEC, Komunitas Anak Seni (KUAS), Pamdal, serta sejumlah pihak dari berbagai kampus di Batam.

“Terima kasih untuk semua pihak yang tidak bisa kami sebutkan satu per satu dalam kolaborasi ini,” kata Yogi.

Ia juga mengapresiasi kerja panitia yang mempersiapkan festival selama hampir satu tahun.

“Banyak apresiasi untuk panitia dari tamu undangan kita, semoga ini menjadi kenangan terindah untuk kita semua,” ujarnya.

Pada malam kedua, suasana Fesmed bergeser ke panggung musik. Grup musik Efek Rumah Kaca (ERK) tampil dalam konser yang sekaligus menjadi penampilan perdana mereka di Batam setelah 26 tahun berkiprah.

Panitia menggelar konser secara intim dan mengkhususkan akses bagi peserta yang mengikuti lokakarya atau seminar selama rangkaian Fesmed.

Penampilan ERK mendapat sambutan antusias. Para peserta bertahan hingga penghujung konser yang menjadi salah satu momen dalam rangkaian Fesmed.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Aliansi Jurnalis Independen,” kata Bagus, salah seorang pengunjung.

Menyusuri Penyengat, Berlanjut ke Konsolidasi AJI

Hari ketiga membawa rangkaian Fesmed ke Tanjungpinang dan Pulau Penyengat.

Para delegasi berangkat dari Batam menuju Tanjungpinang pada Senin pagi, 21 September 2026. Dari sana, mereka mengikuti napak tilas di Pulau Penyengat sekaligus membuat catatan perjalanan.

Setelah kembali ke Tanjungpinang, para delegasi berkumpul di Aula Kantor Lembaga Adat Melayu (LAM). Mereka mengikuti sarasehan yang diawali dengan makan berhidang khas Melayu.

Menjelang sore, kegiatan berlanjut dengan konsolidasi internal AJI yang dipimpin Sekretaris Jenderal AJI Indonesia Bayu Wardhana.

Ketua AJI Tanjungpinang Sutana menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan Fesmed Selat Malaka 2026.

“Terima kasih kepada seluruh panitia dan pihak yang telah mendukung terlaksananya acara ini,” ujar Sutana.

Ketua Umum AJI Indonesia Nany Afrida juga mengapresiasi pelaksanaan festival tersebut. Menurutnya, Fesmed menjadi ruang bagi pengurus AJI dari berbagai daerah untuk bertemu, bertukar informasi, serta membahas rencana dan program organisasi.

Ia menilai komunikasi antara pengurus nasional dan AJI kota penting untuk memperkuat organisasi.

Nany mengajak seluruh pengurus AJI di daerah menjaga komunikasi dan hubungan meski rangkaian Fesmed telah berakhir.

“Senang sekali bisa bertemu dengan teman-teman untuk menyampaikan semua rencana-rencana. Kita berharap ke depannya AJI semakin kuat,” ujar Nany.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada peserta dan panitia yang bekerja secara sukarela menyiapkan seluruh rangkaian festival.

“Jadi, kita berharap betul-betul ikut teman-teman semangat. Selamat kembali besok ke tempat masing-masing dan tetap jaga hubungan,” katanya.

Fesmed Selat Malaka AJI 2026 menjadi pelaksanaan pertama Festival Media yang berlangsung di dua kota sekaligus.

Dari Batam hingga Tanjungpinang dan Pulau Penyengat, rangkaian kegiatan mempertemukan jurnalis, akademisi, mahasiswa, masyarakat sipil, dan masyarakat umum dalam berbagai ruang diskusi.

Festival tersebut sekaligus memperluas jejaring untuk membicarakan persoalan media dan jurnalisme bersama isu publik yang berkembang di kawasan Selat Malaka.

 

Baca juga:AJI Batam dan Dompet Dhuafa Gelar Nobar-Diskusi Gaza, Hadirkan Delegasi Global Sumud Flotilla

Editor:Redaksi 

Berita Terkait

Polisi Tangkap Pria yang Acungkan Parang ke Tukang Parkir di Nagoya Saat Nongkrong di Kafe
Lapas Cipinang Percepat Penataan Hunian untuk Mendukung Pembinaan Keagamaan Warga Binaan
506 Ribu Batang Rokok Ilegal Digagalkan Bea Cukai Batam, 2 Speedboat Disita di Perairan Pulau Bulan
Perselisihan Parkir Mobil di Ruko Kavling Baru Sagulung Sempat Viral, Dua Pihak Berdamai
Polisi Bongkar Pembuatan 15 SIM C Palsu di Batam, Tarif Rp600 Ribu
Lahan 5,4 Hektare di Batam Dipersoalkan, Ahli Waris Daking Tuntut Kompensasi dari Dua Perusahaan
Puluhan Mobil Terjaring Razia di Batam, Program Pengampunan Pajak Tinggal 5 Hari Lagi
Sekolah Terintegrasi Merah Putih Mulai Dibangun di Rempang, Target Rampung 2028

Berita Terkait

Sabtu, 26 September 2026 - 19:05 WIB

Fesmed Selat Malaka AJI 2026 di Batam Bahas Kebebasan Pers dan Isu Publik Asia Tenggara

Sabtu, 26 September 2026 - 13:08 WIB

Polisi Tangkap Pria yang Acungkan Parang ke Tukang Parkir di Nagoya Saat Nongkrong di Kafe

Sabtu, 26 September 2026 - 12:06 WIB

Lapas Cipinang Percepat Penataan Hunian untuk Mendukung Pembinaan Keagamaan Warga Binaan

Jumat, 25 September 2026 - 20:09 WIB

506 Ribu Batang Rokok Ilegal Digagalkan Bea Cukai Batam, 2 Speedboat Disita di Perairan Pulau Bulan

Jumat, 25 September 2026 - 19:01 WIB

Perselisihan Parkir Mobil di Ruko Kavling Baru Sagulung Sempat Viral, Dua Pihak Berdamai

Berita Terbaru