MATAPEDIA6.com, BATAM– Laut Kepulauan Riau masih menjadi medan operasi paling sibuk bagi Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Tanjungpinang sepanjang 2026.
Hingga awal Agustus, mayoritas misi penyelamatan dipicu kecelakaan laut, sementara enam korban masih belum ditemukan meski berbagai teknologi pencarian telah dikerahkan.
Kepala Kantor SAR Tanjungpinang, Fazzli, mengatakan Basarnas telah menangani 28 kejadian hingga awal Agustus 2026.
“Dari jumlah tersebut, 20 kasus merupakan kecelakaan laut, sedangkan delapan lainnya masuk kategori kondisi yang membahayakan manusia,” ujarnya kepada wartawan coffee morning di Batam, Jumat (7/8/2026).
Wilayah operasi Kantor SAR Tanjungpinang mencakup Pos SAR Batam, Bintan, Karimun, dan Lingga.
Selama rangkaian operasi tersebut, Basarnas menangani 61 korban. Sebanyak 45 orang berhasil diselamatkan, 10 korban ditemukan meninggal dunia, sementara enam korban lainnya masih dalam status belum ditemukan.
“Sebanyak 45 orang berhasil diselamatkan, 10 korban ditemukan meninggal dunia, dan hingga saat ini masih ada enam korban yang belum ditemukan,” kata Fazzli.
Baca juga:Komisaris dan Direksi Pertamina Sidak SPBU di Sumut, Pastikan Stok BBM Aman dan Layanan Tetap Normal
Menurut Fazzli, sebagian besar korban yang belum ditemukan berasal dari insiden kecelakaan laut. Luasnya wilayah perairan Kepri menjadi tantangan utama dalam setiap operasi pencarian.
Ia menjelaskan, tim SAR kerap memulai operasi tanpa mengetahui secara pasti titik korban tenggelam. Kondisi tersebut diperumit arus laut yang kuat serta perubahan arah angin yang membuat area pencarian terus bergeser.
“Kalau kejadian di laut, sering kali titik pasti korban tenggelam belum diketahui. Ditambah arus laut yang kuat dan arah angin yang berubah-ubah membuat area pencarian semakin luas,” ujarnya.
Meski menghadapi tantangan tersebut, Basarnas tetap menyiagakan seluruh Pos SAR selama 24 jam untuk merespons laporan masyarakat. Setiap operasi dijalankan sesuai prosedur standar pencarian dan pertolongan.
Apabila korban belum ditemukan, operasi pencarian berlangsung hingga tujuh hari dengan mempertimbangkan perkembangan situasi di lapangan sebelum dilakukan evaluasi.
Untuk meningkatkan peluang menemukan korban, Basarnas Kepri kini mengandalkan sejumlah peralatan modern. Salah satunya AquaEye yang mampu mendeteksi objek atau korban di bawah permukaan air hingga kedalaman sekitar 100 meter.
Selain itu, Basarnas juga menyiagakan dua unit helikopter untuk menjangkau lokasi yang sulit diakses melalui jalur laut.
Operasi pencarian turut diperkuat thermal drone yang mampu mendeteksi panas tubuh manusia dari udara dengan jangkauan terbang sekitar satu kilometer. Perangkat ini dinilai efektif membantu pencarian pada malam hari maupun saat jarak pandang terbatas.
Fazzli menegaskan peningkatan kemampuan personel dan modernisasi peralatan menjadi bagian dari komitmen Basarnas memberikan layanan pencarian dan pertolongan yang cepat serta efektif.
Ia juga berharap angka kecelakaan yang menimbulkan korban jiwa, termasuk kasus bunuh diri yang beberapa kali terjadi di Batam, dapat terus menurun seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap keselamatan dan kesehatan mental.
“Harapan kami tentu kejadian-kejadian seperti ini dapat berkurang. Kami akan terus meningkatkan kesiapsiagaan personel dan peralatan agar setiap operasi SAR dapat berjalan secepat dan seefektif mungkin,” tutup Fazzli.
Baca juga:SMKN 3 Batam Taklukkan SMAN 14 Lewat Duel Sengit, Rebut Gelar Massive Super League 2026
Editor:Zalfirega










