MATAPEDIA6.com, SURABAYA— Tokenisasi aset nyata atau Real World Assets (RWA) membuka peluang baru bagi pengembangan bisnis dan investasi digital di Indonesia.
Inovasi ini berpotensi memperluas akses pembiayaan, meningkatkan efisiensi transaksi, hingga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk berpartisipasi di pasar keuangan.
Namun, investor tetap perlu memahami legalitas, keamanan, dan risiko sebelum mengambil keputusan.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong generasi muda memahami peluang sekaligus tantangan tokenisasi aset seiring berkembangnya inovasi keuangan digital.
OJK menyampaikan pesan tersebut dalam kegiatan Digital Financial Literacy (DFL) 2026 bertema “Dari Aset Nyata ke Aset Digital, Kenalan dengan Tokenisasi dan Peluang di Indonesia” di Universitas Airlangga (UNAIR), Surabaya, Senin (12/10/2026).
Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso, menjadi pembicara dalam kuliah umum tersebut. Ia menilai perkembangan teknologi keuangan menuntut regulator, pelaku industri, dan masyarakat meningkatkan kapasitas agar mampu memanfaatkan peluang sekaligus mengendalikan risiko.
“Perkembangan inovasi keuangan digital berlangsung sangat cepat, sehingga kita harus terus meningkatkan kapasitas agar tidak tertinggal. Kerangka regulasi harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, disertai peningkatan kapasitas sumber daya manusia, baik di industri maupun regulator. Hal ini penting agar kita tetap relevan dan mampu memanfaatkan peluang inovasi digital untuk mendukung pengembangan sektor keuangan,” ujar Adi dalam keterangannya, Rabu (14/10/2026).
Menurut Adi, kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI), Big Data, komputasi awan (Cloud Computing), dan teknologi buku besar terdistribusi (Distributed Ledger Technology/DLT) menghadirkan berbagai peluang pengembangan produk dan layanan keuangan.
Namun, pelaku industri perlu mengimbangi pemanfaatan teknologi tersebut dengan regulasi yang adaptif, tata kelola yang baik, sistem keamanan yang memadai, dan sumber daya manusia yang kompeten.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi regulator, pemerintah, industri, dan perguruan tinggi untuk membangun ekosistem inovasi keuangan digital yang kredibel dan berkelanjutan.
Baca juga:OJK Cabut Izin PT Porto Ventura Kapital, Tak Bisa Disehatkan
Kolaborasi tersebut dapat mempertemukan hasil riset akademik dengan kebutuhan industri sehingga inovasi yang berkembang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Tokenisasi Aset Buka Peluang Pembiayaan dan Investasi
Tokenisasi RWA menjadi salah satu inovasi yang mendapat perhatian dalam DFL 2026. Melalui proses ini, teknologi digital merepresentasikan aset nyata atau hak ekonomi yang berkaitan dengan aset tersebut dalam bentuk token.
Dalam dunia bisnis, tokenisasi berpotensi meningkatkan efisiensi transaksi, memperluas akses terhadap instrumen keuangan, serta menghadirkan alternatif pembiayaan bagi pelaku usaha. Inovasi ini juga dapat mendukung pendalaman pasar keuangan dengan membuka model partisipasi baru bagi masyarakat.
Adi menyebut sejumlah inovasi tokenisasi di Indonesia telah mengikuti mekanisme Sandbox OJK, antara lain tokenisasi emas, surat utang negara, dan manfaat properti.
“Indonesia memiliki peluang yang sangat besar dalam pengembangan inovasi keuangan digital. Saat ini, sejumlah inovasi telah melalui mekanisme Sandbox OJK, antara lain tokenisasi emas, tokenisasi surat utang negara, dan tokenisasi manfaat properti. Perkembangan ini menunjukkan besarnya peluang yang dapat kita manfaatkan melalui kolaborasi untuk mendukung pengembangan sektor keuangan dan perekonomian Indonesia,” kata Adi.
Meski menawarkan peluang bisnis, tokenisasi membutuhkan fondasi hukum dan tata kelola yang kuat. Pelaku industri perlu memastikan kejelasan aset yang mendasari token, hak ekonomi pemegang token, kewajiban para pihak, transparansi informasi, serta keamanan sistem yang digunakan.
Kepastian tersebut penting untuk menjaga kepercayaan investor dan mencegah kesenjangan informasi antara penyelenggara dengan masyarakat.
Melalui Sandbox, OJK memfasilitasi pengujian inovasi teknologi sektor keuangan dengan mempertimbangkan aspek regulasi, pengelolaan risiko, dan pelindungan konsumen. Mekanisme ini membantu menilai kesiapan suatu inovasi sebelum pengembangannya menjangkau masyarakat secara lebih luas.
OJK Ingatkan Investor Muda Waspadai Janji Keuntungan
Di tengah terbukanya peluang investasi digital, Adi mengingatkan mahasiswa agar tidak terburu-buru menanamkan modal hanya karena mengikuti tren. Investor perlu memeriksa legalitas penyelenggara, memahami karakteristik produk, serta menghitung risiko sebelum menginvestasikan uangnya.
“Dalam berinvestasi, kita harus memperhatikan dua aspek utama, yaitu legal dan logis. Pastikan produk dan penyelenggaranya memiliki legalitas yang jelas serta jangan mudah tergiur dengan penawaran keuntungan yang tidak masuk akal. Lakukan riset secara mandiri, pahami risikonya, dan jangan mengambil keputusan investasi hanya karena mengikuti orang lain atau takut tertinggal tren (FOMO),” tegas Adi.
Ia menilai literasi keuangan menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk memilah informasi, menilai tawaran investasi, dan mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan yang rasional.
Selain memahami produk keuangan digital, mahasiswa perlu membangun kebiasaan mengelola keuangan sejak dini. Mereka dapat memulai dengan menabung dan berinvestasi sesuai kebutuhan, kemampuan finansial, serta profil risiko masing-masing.
Kebiasaan tersebut membantu generasi muda menyusun perencanaan keuangan jangka panjang sekaligus mengurangi risiko mengambil keputusan investasi tanpa pertimbangan yang matang.
Kolaborasi Kampus dan Industri Kembangkan Ekosistem Digital
DFL 2026 turut menghadirkan diskusi panel yang melibatkan narasumber dari OJK, Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif, Kementerian Komunikasi dan Digital, Indonesia Fintech Society (IFSoc), Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI), serta perwakilan pelaku industri.
Para narasumber membahas perkembangan tokenisasi RWA, pemanfaatan teknologi blockchain, peluang bisnis di Indonesia, dan tantangan membangun ekosistem keuangan digital yang tepercaya.
Diskusi juga menyoroti kepastian hukum atas aset yang mendasari token, transparansi informasi, keamanan teknologi, tata kelola, serta kejelasan hak ekonomi pemegang token. Berbagai aspek tersebut menentukan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap produk tokenisasi.
Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Manusia UNAIR, Ardianto, mengatakan perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membekali mahasiswa dengan pengetahuan mengenai perkembangan teknologi dan inovasi keuangan digital.
“Perguruan tinggi tidak sekadar berperan sebagai ruang transfer pengetahuan, tetapi juga benteng dalam membangun kesadaran kritis mahasiswa,” kata Ardianto.
Ia menilai transformasi sektor keuangan global menuntut perguruan tinggi terus mengikuti perkembangan teknologi. Kampus juga perlu membekali mahasiswa dengan kemampuan berpikir kritis agar mereka mampu menilai peluang dan tantangan inovasi secara cermat.
Sementara itu, Pelaksana Harian Kepala OJK Provinsi Jawa Timur, Asep Hikayat, menyebut Surabaya memiliki potensi untuk mendukung peningkatan literasi dan inklusi keuangan digital. Sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi, pendidikan, dan inovasi, Surabaya memiliki modal untuk memperkuat ekosistem tersebut.
Menurut Asep, perkembangan ekosistem digital dan kemampuan generasi muda beradaptasi dengan teknologi dapat membantu memperluas pemahaman masyarakat terhadap inovasi sektor jasa keuangan.
Kegiatan DFL 2026 berlangsung secara hibrida dan diikuti sekitar 700 peserta secara daring maupun luring. Peserta terdiri atas sivitas akademika UNAIR dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Surabaya.
Melalui kegiatan ini, OJK mendorong mahasiswa menggali peluang riset, kewirausahaan, pengembangan solusi teknologi, dan karier di industri keuangan digital, termasuk bidang blockchain dan tokenisasi RWA.
OJK juga akan melanjutkan penguatan literasi keuangan digital bersama perguruan tinggi, asosiasi industri, dan pemangku kepentingan lainnya.
Upaya ini diarahkan untuk memperluas manfaat inovasi, memperkuat pelindungan konsumen, serta mendorong pertumbuhan ekosistem keuangan digital yang inklusif dan bertanggung jawab.
Baca juga:Ekonomi Batang Tumbuh 8,38 Persen, OJK Ajak ASN Ikut Jadi Investor Pasar Modal
Editor:Zalfirega











