MATAPEDIA6.com, JAKARTA– Dunia investasi sedang diuji oleh derasnya arus isu politik global. Dari konflik geopolitik hingga tensi diplomatik antarnegara, setiap manuver politik di panggung dunia kini bisa mengguncang harga saham, obligasi, dan nilai tukar hanya dalam hitungan jam.
Menurut Direktur Utama BEI, Iman Rachman, di tengah pusaran ketidakpastian itu, investor dituntut bukan sekadar cermat membaca pasar—tetapi juga tangguh menghadapi badai.
“Setiap kali dunia dihebohkan dengan perang, embargo, atau pernyataan keras dari pemimpin negara besar, pasar modal biasanya bereaksi spontan: volatilitas melonjak, harga bergejolak, dan sentimen pun berubah cepat,” ujarnya dalam keterangannya, Selasa (28/10/2025).
Di sinilah strategi menjadi kunci. Investor yang matang tak cukup hanya menunggu arah angin; mereka harus mampu membaca pola, menilai risiko, dan menyiapkan langkah antisipatif.
Baca juga: Bursa Efek Indonesia Kian Dominan di Asia Tenggara, 15 Persen Investor dari Sumatra Berkontribusi
Gejolak politik memang sulit dikendalikan, tetapi bukan berarti tak bisa diantisipasi. Investor berpengalaman tahu bahwa badai politik bersifat sementara, sementara fundamental ekonomi pada akhirnya tetap menjadi penentu arah jangka panjang.
Karena itu, menjaga perspektif jangka panjang dan disiplin terhadap rencana investasi justru menjadi benteng utama di tengah situasi global yang tak menentu.
Ketika kepanikan merebak, justru peluang bisa muncul. Harga saham yang jatuh di bawah nilai wajar kerap menjadi ladang emas bagi investor yang rasional dan sabar.
Namun strategi ini menuntut keberanian dan keyakinan tinggi—termasuk kemampuan membaca momentum dan menahan diri dari godaan panic selling.
Diversifikasi pun menjadi tameng klasik yang tetap relevan. Menyebar investasi ke berbagai sektor dan instrumen—mulai dari saham, obligasi, hingga reksa dana—mampu menekan risiko ketika isu global mengguncang satu wilayah atau industri tertentu.
“Sebab ketika satu sektor goyah, sektor lain bisa menjadi penyeimbang,” katanya.
Pemahaman makroekonomi juga tak kalah penting. Lonjakan harga minyak akibat konflik, misalnya, akan memberi dampak berbeda pada negara eksportir dan importir.
Bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak, kenaikan harga bisa menekan neraca perdagangan dan rupiah. Dengan memahami hubungan ini, investor bisa menentukan sektor mana yang masih prospektif, dan mana yang harus dihindari sementara.
Di era digital, tantangan baru muncul: arus informasi yang deras dan sering kali bias. Satu cuitan di media sosial dapat memicu kepanikan pasar. Investor cerdas tahu cara memilah—mana informasi valid, mana sekadar rumor. Literasi informasi menjadi bekal penting agar tak mudah terseret arus isu sesaat.
Namun, tidak semua gejolak politik global berdampak langsung pada Indonesia. Kebijakan suku bunga The Fed, misalnya, lebih berpengaruh pada arus modal dan nilai tukar rupiah dibanding konflik regional di belahan dunia lain. Memahami skala pengaruh inilah yang membuat investor domestik tetap tenang dan fokus pada faktor yang relevan.
Baca juga:CMSE 2025 Pecah Rekor Pengunjung, Dua Hari yang Bikin Gedung BEI Penuh Sesak
Pasar modal Indonesia sendiri menunjukkan ketahanan yang patut diapresiasi. Sepanjang satu dekade terakhir, jumlah investor domestik melonjak tajam—terutama pasca pandemi. Likuiditas kian kuat, ketergantungan pada modal asing berkurang, dan kepercayaan publik terhadap pasar meningkat.
Beragam inovasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) juga memperluas pilihan strategi investasi: mulai dari ETF, waran terstruktur, hingga Single Stock Futures. Sementara regulasi yang diperkuat OJK dan BEI memastikan ekosistem pasar yang makin transparan dan kompetitif.
Isu politik global memang tak akan pernah berhenti, tetapi investor dengan disiplin, visi panjang, dan strategi matang akan selalu menemukan jalannya. Karena dalam dunia investasi, badai bukan alasan untuk berhenti berlayar—melainkan momentum untuk menguji seberapa kuat arah dan kendali seorang nakhoda.
Baca juga:IDXCarbon Dongkrak Posisi Indonesia Jadi Pemain Utama Pasar Karbon Asia
Editor:Zalfirega

















