BI Tahan Suku Bunga 4,75 Persen, Fokus Redam Tekanan Rupiah di Tengah Gejolak Global

Selasa, 17 Maret 2026 - 19:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Bank Indonesia rapat secara virtual. Foto:Ist

Bank Indonesia rapat secara virtual. Foto:Ist

68 / 100 Skor SEO

MATAPEDIA6.com, JAKARTA-Bank Indonesia menahan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 16–17 Maret 2026. Langkah ini diarahkan untuk meredam tekanan terhadap nilai tukar Rupiah sekaligus menjaga inflasi tetap terkendali di tengah memburuknya kondisi global akibat perang di Timur Tengah.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan keputusan tersebut menjadi bagian dari strategi menjaga stabilitas sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

“Keputusan ini konsisten untuk memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah dan menjaga inflasi dalam sasaran 2,5±1% pada 2026–2027,” ujar Perry dalam keterangannya, Selasa (17/3/2026).

Baca juga:TelkomGroup Lepas 1.924 Pemudik, Perkuat Jaringan dan Armada Ramah Lingkungan Sambut Lebaran 2026

BI juga mempertahankan suku bunga Deposit Facility di level 3,75% dan Lending Facility sebesar 5,50%.

Di tengah tekanan global, bank sentral memperkuat intervensi di pasar valas, baik melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri maupun spot dan DNDF di dalam negeri.

Langkah ini diambil seiring meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik Timur Tengah yang mendorong penguatan dolar AS, kenaikan yield US Treasury, serta memicu arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

Perry menegaskan, BI tidak hanya mengandalkan kebijakan moneter. Bank sentral juga mengoptimalkan kebijakan makroprudensial untuk mendorong kredit ke sektor riil, serta memperkuat sistem pembayaran guna menjaga aktivitas ekonomi tetap tumbuh.

“Bank Indonesia terus mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan untuk menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan,” tegasnya.

Di sisi lain, BI memperketat sejumlah aturan transaksi valas yang mulai berlaku April 2026, termasuk penyesuaian batas pembelian valas dan peningkatan threshold transaksi derivatif.

Kebijakan ini ditujukan untuk memperkuat stabilitas Rupiah di tengah volatilitas pasar global.

Meski tekanan eksternal meningkat, BI melihat ekonomi domestik tetap terjaga. Pertumbuhan ekonomi pada awal 2026 ditopang konsumsi rumah tangga saat Ramadan dan Idulfitri, serta dorongan belanja pemerintah dan investasi.

Ke depan, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 4,9–5,7%. Sementara itu, inflasi diproyeksikan tetap terkendali meski ada tekanan dari kenaikan harga komoditas global.

Dengan bauran kebijakan yang diperkuat dan sinergi bersama pemerintah, BI optimistis stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga di tengah ketidakpastian global.

Baca juga:WFA Berlaku, Arus Mudik Lau: PELNI Catat Lonjakan Penumpang, Puncak Diprediksi H-3 Lebaran

Editor:Zalfirega

Berita Terkait

Dari Expo ke Transaksi, BI Kepri Perluas Pasar UMKM Lewat Gebyar Melayu Pesisir 2026
Padi Reborn Tampil di GMP 2026, BI Kepri Bidik Perputaran Ekonomi UMKM
40 Penghargaan ENSIA 2026 Jadi Cermin Inovasi Pertamina Sumbagut di Lapangan
Dari Sampah, Energi hingga Kain Tradisional: Menelusuri Jejak Program Pemberdayaan Pertamina di Batam
Bukan Cuma Industri, Batam Kini Bidik Investasi Kesehatan Berstandar Internasional
STANIA Gandeng Asahi Solder, Timah Indonesia Dibidik Naik Kelas ke Industri Elektronik
OJK Sebut Kredit Tetap Tumbuh, Industri Pengolahan Jadi Andalan Bisnis Perbankan hingga Triwulan III 2026
Penerbangan Lion Group dari Jakarta Mulai Dibuka Bertahap, Ini Alasannya

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 10:42 WIB

Dari Expo ke Transaksi, BI Kepri Perluas Pasar UMKM Lewat Gebyar Melayu Pesisir 2026

Selasa, 15 September 2026 - 11:31 WIB

40 Penghargaan ENSIA 2026 Jadi Cermin Inovasi Pertamina Sumbagut di Lapangan

Senin, 14 September 2026 - 19:50 WIB

Dari Sampah, Energi hingga Kain Tradisional: Menelusuri Jejak Program Pemberdayaan Pertamina di Batam

Minggu, 13 September 2026 - 13:52 WIB

Bukan Cuma Industri, Batam Kini Bidik Investasi Kesehatan Berstandar Internasional

Jumat, 11 September 2026 - 16:33 WIB

STANIA Gandeng Asahi Solder, Timah Indonesia Dibidik Naik Kelas ke Industri Elektronik

Berita Terbaru