MATAPEDIA6.com, BATAM – Pemerintah pusat menaruh perhatian serius pada peran Batam dan Kepulauan Riau sebagai mesin pertumbuhan ekonomi nasional.
Dewan Pertahanan Nasional (DPN), lembaga strategis di bawah Presiden Republik Indonesia Jenderal (Purn) Prabowo Subianto, turun langsung ke lapangan untuk memastikan target pertumbuhan ekonomi nasional di atas 8 persen dapat tercapai.
Beberapa hari lalu, DPN melaksanakan kunjungan kerja ke Provinsi Kepulauan Riau, mencakup Pulau Bintan dan Pulau Batam. Kunjungan ini menjadi bagian dari pengumpulan data strategis sekaligus evaluasi kesiapan kawasan dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional.
Kunjungan tersebut dipimpin Deputi Bidang Geostrategi DPN Mayjen TNI Ari Yulianto, S.I.P., M.H.I., bersama Deputi Bidang Geoekonomi DPN Dr. Yayat Ruyat, M.Eng., beserta jajaran. Di Batam, DPN menggelar audiensi dan meninjau langsung sejumlah titik pertumbuhan strategis, salah satunya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Sauh.
Baca juga:Kepala BP Batam Sambut Pengurus Baru KADIN, Dorong Sinergi Jaga Laju Ekonomi Batam 2026
DPN menilai KEK Tanjung Sauh memiliki potensi besar dalam mendorong industrialisasi dan meningkatkan nilai tambah sumber daya nasional. Peninjauan ini difokuskan pada kesiapan infrastruktur, iklim investasi, serta dukungan kebijakan yang dibutuhkan agar KEK Tanjung Sauh mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi Batam dan berkontribusi signifikan terhadap ekonomi nasional.
Menurut DPN, langkah ini menjadi bagian dari strategi konkret pemerintah untuk memastikan Batam berfungsi sebagai katalis utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Batam dan Kepulauan Riau dinilai sangat strategis untuk memompa ekonomi nasional melalui transformasi ekonomi yang terukur dan berkelanjutan.
Kawasan ini tidak lagi diposisikan semata sebagai pusat manufaktur, tetapi berkembang menjadi hub teknologi tinggi dan destinasi investasi global. Status KEK yang menawarkan kepastian hukum serta insentif fiskal agresif terbukti efektif menarik arus Foreign Direct Investment (FDI) dalam skala besar.
DPN mendorong optimalisasi peran KEK, Kawasan Industri (KI), dan Free Trade Zone (FTZ) secara terpadu. Sinergi ini diharapkan melahirkan mesin pertumbuhan ekonomi yang komprehensif, di mana modal asing dan inovasi teknologi bergerak seiring untuk mengakselerasi produktivitas nasional di atas rata-rata.
Sebagai lembaga strategis negara, DPN juga memastikan pembangunan nasional di kawasan strategis berjalan selaras, aman, dan berkelanjutan.
DPN secara aktif memantau perkembangan KEK, KI, Proyek Strategis Nasional (PSN), serta industri strategis di seluruh Indonesia, termasuk di Bintan dan Batam, guna memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Dalam perannya, DPN mengidentifikasi potensi hambatan dari sisi geostrategi, geopolitik, dan geoekonomi, mulai dari infrastruktur, kebijakan lintas sektor, hingga kesiapan kawasan.
Langkah ini dilakukan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional tetap berada pada jalur yang ditargetkan.
Peninjauan tersebut menegaskan pentingnya pendekatan terpadu antara pertahanan negara, stabilitas kawasan, dan kebijakan ekonomi.
Fokus diarahkan pada penguatan regulasi, perizinan, tata kelola kawasan, serta koordinasi lintas instansi guna menciptakan iklim investasi yang kompetitif di tengah persaingan global.
Selain meninjau KEK Tanjung Sauh, DPN juga merencanakan audiensi dengan BP Batam. Agenda ini bertujuan menggali data dan berdiskusi terkait pengembangan KEK dan Kawasan Industri di Batam, sekaligus memperkuat perlindungan aset industri strategis di wilayah perbatasan.
DPN menilai posisi Batam sangat vital, tidak hanya sebagai pusat ekonomi, tetapi juga sebagai garda depan pengamanan ekonomi nasional.
Pengendalian aktivitas ekonomi dan perlindungan aset strategis menjadi kunci untuk memastikan kontribusi Batam terhadap target pertumbuhan ekonomi nasional dan daya saing global.
Akselerasi Pertumbuhan Melalui KEK
KEK Tanjung Sauh yang dikembangkan PT Batamraya Sukses Perkasa (PT BSP) – Panbil Group, masuk dalam daftar “kantong pertumbuhan” prioritas nasional.
Kawasan ini difokuskan pada pengembangan pelabuhan hub logistik internasional, industri energi, dan manufaktur modern.
DPN memproyeksikan KEK Tanjung Sauh mampu menyerap investasi skala besar yang berdampak langsung terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kepulauan Riau.
Namun, keunggulan geografis saja tidak cukup. Pemerintah menekankan pentingnya sinergi kebijakan dan kesiapan pengelola kawasan untuk membangun kepercayaan investor global.
Kunjungan DPN sekaligus menegaskan posisi KEK Tanjung Sauh sebagai aset vital negara dalam persaingan ekonomi di jalur strategis Selat Malaka.
KEK Tanjung Sauh memiliki sejumlah keunggulan utama, mulai dari konektivitas global melalui akses langsung ke Selat Phillips—salah satu jalur perdagangan tersibuk di dunia—hingga integrasi kawasan dengan pusat finansial Singapura dan pusat industri Johor Bahru dalam skema SIJORI.
Dukungan insentif fiskal berupa kemudahan pajak dan kepabeanan memperkuat daya tarik kawasan ini bagi investor domestik dan asing.
Dengan sinergi kebijakan pusat dan daerah, Batam dan Kepulauan Riau berpeluang menjadi mesin akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.
Dengan pengembangan yang konsisten dan dukungan penuh dari Dewan Pertahanan Nasional, KEK Tanjung Sauh optimistis menarik investasi berkualitas yang mampu menggerakkan ekonomi Batam melampaui rata-rata pertumbuhan nasional.
Baca juga:Villa Panbil Perkuat Citra Hunian Eksklusif Lewat Property Walk & Talk di Tengah Alam Panbil
Editor:Zalfirega


















