Kebutuhan Air Batam Meningkat, Lingga Masuk Radar BP Batam

Rabu, 7 Oktober 2026 - 20:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam Amsakar Achmad usai paripurna DPRD Kota Batam, Rabu (7/10/2026). Foto:Istimewa

Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam Amsakar Achmad usai paripurna DPRD Kota Batam, Rabu (7/10/2026). Foto:Istimewa

62 / 100 Skor SEO

MATAPEDIA6.com, BATAM — Batam mulai membidik sumber air baku dari luar daerah untuk menjaga laju pertumbuhan kota. Kabupaten Lingga masuk radar utama karena memiliki cadangan dan debit air yang dinilai lebih besar, tetapi rencana itu terbentur satu persoalan besar: kebutuhan investasi yang sangat tinggi.

Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, mengatakan kebutuhan air baku terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk, permukiman, ekonomi, dan investasi.

“Ketersediaan air baku kita memang meningkat karena pertumbuhan Batam, baik pertumbuhan perumahan, pertumbuhan penduduk maupun pertumbuhan ekonomi, investasi,” kata Amsakar usai menghadiri rapat paripurna di DPRD Batam, kepada wartawan, Rabu (7/10/2026).

Kondisi itu mendorong BP Batam mencari sumber air alternatif di luar Batam. Dua wilayah yang masuk kajian yakni Kabupaten Lingga dan Kabupaten Bintan.

Keduanya bukan pilihan baru. Perusahaan pengelola air baku Batam sebelumnya sudah mengkaji potensi sumber air dari dua daerah tersebut.

“Opsi saat ini mencari sumber air baku alternatif dari Kabupaten Lingga dan Kabupaten Bintan. Pernah dilakukan studi oleh perusahaan pengelola air baku Batam yang sebelumnya,” ujar Amsakar.

Dari dua opsi itu, Lingga menawarkan ketersediaan air yang lebih besar. Persoalannya, jarak dan kebutuhan infrastrukturnya membuat biaya pengembangan jauh lebih mahal.

“Di Lingga, sumbernya banyak, debit airnya tinggi, tapi cost-nya besar. Di Bintan, sumbernya terbatas, cost-nya murah,” kata Amsakar.

Menurut dia, jika dukungan pembiayaan memungkinkan, Lingga dapat menjadi pilihan untuk memenuhi kebutuhan air Batam dalam jangka panjang.

“Jikalau memang ada investor yang sanggup atau APBN cukup, kita harus memilih Lingga karena ketersediaan jangka panjangnya relatif lebih menjamin,” ujarnya.

Jarak Lingga sekitar lima jam perjalanan laut dari Batam membuat proyek tersebut membutuhkan pembangunan infrastruktur distribusi yang tidak sederhana. BP Batam harus menghitung kebutuhan jaringan perpipaan, sistem distribusi, pembiayaan, hingga skema kerja sama dengan investor.

Amsakar mengatakan BP Batam sudah tiga kali bertemu dengan Bupati dan Wakil Bupati Lingga. Pertemuan tersebut membahas kemungkinan kerja sama serta skema pembiayaan yang paling realistis.

“Kami juga sudah tiga kali bertemu dengan Bupati dan Wakil Bupati Lingga. Ini hanya memikirkan bagaimana skema pembiayaan yang paling mungkin, mitra yang paling mungkin untuk masuk ke situ,” katanya.

Baca juga:APBD Batam 2027 Disiapkan untuk Tekan Banjir, Perkuat UMKM dan Serap Tenaga Kerja Lokal

BP Batam kini meminta tim internal menyusun roadmap yang diperkuat kajian akademik. Kajian itu akan menghitung kebutuhan air, nilai investasi, skema pembiayaan, model kerja sama, hingga mekanisme pengiriman air baku dari Lingga ke Batam.

Amsakar menyebut kajian mengenai potensi sumber air Lingga bahkan sudah berlangsung sejak lama.

“Gambaran sederhana, di tahun 1991 khusus untuk Lingga itu ada kajian, tapi saya lupa angkanya. Yang pasti sudah,” ujarnya.

Investor Harus Hitung Balik Modal

Besarnya nilai investasi menjadi tantangan ketika proyek tersebut hendak menggandeng investor swasta.

Investor, kata Amsakar, tentu akan menghitung kapan modal yang mereka keluarkan bisa kembali sebelum masuk ke proyek penyediaan air baku.

“Angkanya cukup besar investasinya, sehingga kalau kita mau gandeng investor, mereka mempertimbangkan dengan cermat soal break-even point-nya. Kapan akan kembali ke titik pengembalian modalnya,” kata Amsakar.

Artinya, rencana membawa air dari Lingga ke Batam bukan hanya persoalan menemukan sumber air. BP Batam juga harus memastikan proyek tersebut memiliki skema pembiayaan dan model bisnis yang dapat menopang investasi jangka panjang.

Di sisi lain, Batam tidak bisa hanya mengandalkan satu solusi. BP Batam menyiapkan tiga strategi untuk memperkuat ketahanan air, yakni mencari sumber air baku baru, membangun waduk atau bendungan baru, serta memperkuat pemantauan jaringan distribusi melalui Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA).

Namun, pembangunan waduk baru membutuhkan waktu panjang.

Amsakar memperkirakan waduk baru paling cepat beroperasi sekitar tujuh tahun setelah pembangunan. Waktu tersebut bisa bertambah jika kapasitas dan luas waduk semakin besar.

“Problemnya juga ada, karena membuat waduk baru itu baru dapat operasional paling cepat tujuh tahun,” ujarnya.

Interkoneksi Duriangkang-Nongsa Dikebut

Sambil menyiapkan solusi jangka panjang, BP Batam tetap menangani persoalan pasokan air di wilayah yang mengalami tekanan.

Salah satunya melalui interkoneksi jaringan dari Waduk Duriangkang menuju Nongsa. Amsakar memastikan pekerjaan tersebut sudah selesai dan air mulai mengalir ke wilayah Nongsa.

“Sudah selesai, sebelum sampai ke sini. Malam kemarin sudah selesai dan sekarang sudah distribusi,” katanya.

BP Batam selanjutnya mendorong penggunaan booster untuk meningkatkan tekanan sehingga air dapat lebih cepat masuk ke jaringan rumah warga.

Penanganan juga menyasar 18 wilayah yang masuk kategori stress area. Sejumlah pekerjaan dilakukan, termasuk meningkatkan kapasitas Instalasi Pengolahan Air (IPA) dari sekitar 2 liter per detik menjadi 5 liter per detik serta membangun jaringan perpipaan menuju Sengkuang.

“Kita menangani yang parsial ini, di samping itu tim sedang bekerja terutama untuk menuntaskan roadmap soal air,” ujar Amsakar.

BP Batam juga ingin menghidupkan kembali SCADA agar kondisi jaringan dapat dipantau secara real time. Dengan sistem tersebut, gangguan di jaringan diharapkan bisa diketahui lebih cepat sebelum meluas.

“Jadi opsi yang ketiga yang juga harus dipikirkan itu bagaimana agar ketika ada problem real time dapat dilihat. Jadi SCADA itu harus dibuat kembali,” tegasnya.

Waduk Nongsa Tertekan, Warga Keluhkan Pasokan

Kebutuhan mencari sumber air baru semakin mendesak setelah penurunan muka air Waduk Nongsa menekan produksi air untuk masyarakat.

Kondisi itu memicu aksi puluhan ibu rumah tangga dari Kavling Bakau Serip, Kelurahan Sambau, Kecamatan Nongsa, yang menutup akses masuk Nongsa Digital Park pada Senin (5/10/2026).

Warga mengeluhkan pasokan air bersih yang disebut sudah terhenti lebih dari tiga bulan. Selama itu, mereka mengandalkan air tangki yang menurut warga keruh dan berbau.

“Kami demo supaya air kami mengalir, kami tidak mau lagi air tangki, airnya kotor, keruh, bau. Intinya kami cuma mau air,” kata Dewi Susanti, warga Kavling Bakau Serip.

Dewi juga mempersoalkan tagihan yang tetap berjalan ketika pasokan air tidak normal. Warga turut mengaitkan gangguan tersebut dengan keberadaan pusat data di kawasan Nongsa Digital Park.

“Semenjak ada data center, air kami tidak mengalir,” ujarnya.

Namun, Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano, membantah anggapan bahwa kebutuhan air pusat data menjadi penyebab berkurangnya pasokan masyarakat.

Menurut Denny, sejumlah pusat data yang beroperasi sudah menyiapkan sistem pengolahan air sendiri. Salah satunya berada di kawasan Kabil Industrial Estate (KIE).

Denny menyebut tekanan utama pasokan air saat ini berasal dari kondisi kemarau yang diperparah fenomena El Nino.

Penurunan debit Waduk Nongsa kemudian ikut menekan kemampuan produksi IPA di kawasan tersebut.

Dalam kondisi normal, IPA Nongsa mampu memproduksi sekitar 90 liter per detik. Namun, ketika debit air baku turun, produksinya kini hanya sekitar 25 liter per detik.

“Saat ini mereka semua sedang menyiapkan SWRO. Kalau yang sudah jalan, contoh di sini, mereka dapat dari pengolahan mereka sendiri di KIE,” kata Denny, Senin (5/10/2026) malam.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan air Batam mulai bersinggungan langsung dengan agenda pertumbuhan kota. Kebutuhan rumah tangga, kawasan industri, pusat data, permukiman, hingga investasi sama-sama membutuhkan kepastian pasokan air.

Karena itu, rencana membidik sumber air Lingga menjadi salah satu opsi jangka panjang BP Batam.

Tantangannya bukan lagi sekadar mencari air, tetapi memastikan investasi besar untuk membawanya ke Batam memiliki skema pembiayaan yang realistis dan mampu menjawab kebutuhan kota dalam jangka panjang.

Baca juga:Video: TMA Waduk Nongsa Turun 4,5 Meter, BP Batam Percepat Interkoneksi Air

 

Editor:Zalfirega

Berita Terkait

Imigrasi Batam Tahan Keberangkatan 1.009 Penumpang Diduga PMI Nonprosedural
Tiga Bulan Krisis Air, Warga Sambau Blokade Akses Nongsa Digital Park: “Kami Cuma Mau Air”
Polri Mutasi 88 Pati-Pamen, 19 Kapolda dan PJU Mabes Berganti
Ekonomi Batam Tumbuh 7,28 Persen, Investasi Rp40 Triliun dan Proyek AI Perkuat Posisi di Panggung Global
Bea Cukai Batam Gagalkan Pengiriman Rokok Ilegal Rp2,53 Miliar di Perairan Batam, 2 Kru Diamankan
Asep Safrudin Promosi Jadi Kabareskrim, Suhendri Ditunjuk sebagai Kapolda Kepri
Pengemudi Honda Mobilio Jadi Tersangka Usai Tabrak Motor dan Tinggalkan Lokasi di Batam
Tiga Terdakwa Perantara Jual Beli Narkotika Divonis 5-6 Tahun Penjara 

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 20:29 WIB

Kebutuhan Air Batam Meningkat, Lingga Masuk Radar BP Batam

Selasa, 6 Oktober 2026 - 17:53 WIB

Imigrasi Batam Tahan Keberangkatan 1.009 Penumpang Diduga PMI Nonprosedural

Senin, 5 Oktober 2026 - 23:39 WIB

Tiga Bulan Krisis Air, Warga Sambau Blokade Akses Nongsa Digital Park: “Kami Cuma Mau Air”

Minggu, 4 Oktober 2026 - 15:04 WIB

Polri Mutasi 88 Pati-Pamen, 19 Kapolda dan PJU Mabes Berganti

Minggu, 4 Oktober 2026 - 14:49 WIB

Ekonomi Batam Tumbuh 7,28 Persen, Investasi Rp40 Triliun dan Proyek AI Perkuat Posisi di Panggung Global

Berita Terbaru