MATAPEDIA6.com, JAKARTA-Di tengah meningkatnya literasi dan akses ke pasar modal, reksa dana dan Exchange-Traded Fund (ETF) tampil sebagai pintu masuk utama bagi investor ritel.
Kedua instrumen ini memungkinkan masyarakat menikmati potensi imbal hasil pasar modal tanpa harus menyeleksi saham satu per satu.
Berdasarkan rilis resmi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (24/12/2025), reksa dana menghimpun dana dari banyak investor untuk kemudian dikelola manajer investasi ke dalam portofolio saham, obligasi, pasar uang, atau efek lainnya. Skema ini memberi kemudahan diversifikasi sekaligus pengelolaan profesional.
ETF pada dasarnya merupakan bentuk reksa dana, namun unit penyertaannya diperdagangkan langsung di bursa layaknya saham. Karakter ini memadukan fleksibilitas transaksi saham dengan manfaat diversifikasi reksa dana. Faktor tersebut menjadikan ETF menarik bagi investor yang mengincar likuiditas intraday sekaligus paparan aset yang menyebar.
Baca juga:Wakil Gubernur Kepri Nyanyang Salurkan Rp1,15 Miliar untuk Korban Banjir Bandang Sumbar
Perbedaan pengalaman investasi langsung terasa saat investor ingin masuk atau keluar pasar dengan cepat. Reksa dana konvensional mengacu pada nilai aktiva bersih (NAB) akhir hari, sedangkan ETF bergerak sepanjang jam perdagangan bursa mengikuti mekanisme permintaan dan penawaran. Kondisi ini memberi ruang bagi investor untuk mengatur momentum transaksi secara lebih presisi.
Selain likuid, ETF membuka peluang strategi yang lebih luas. Investor dapat melakukan transaksi intraday dan, sesuai ketentuan yang berlaku, memanfaatkan fasilitas pasar seperti margin atau short selling. Fleksibilitas ini memperkuat posisi ETF sebagai instrumen yang adaptif terhadap dinamika pasar.
Data pasar mencerminkan lonjakan minat terhadap produk ETF. BEI terus mendorong pencatatan ETF baru. Hingga Oktober 2025, tercatat sekitar 45 produk ETF beredar di bursa, menawarkan variasi eksposur mulai dari indeks, sektor, hingga tema tertentu.
Dari sisi karakter, pasar mengenal ETF pasif yang meniru kinerja indeks dan ETF yang dikelola lebih aktif. Kehadiran produk baru, termasuk wacana ETF berbasis emas, menunjukkan ekosistem ETF terus berkembang sejalan dengan kebutuhan investor yang makin beragam.
Industri reksa dana juga mencatat pertumbuhan solid. Nilai dana kelolaan (AUM) industri reksa dana terus menanjak dan pada September–Oktober 2025 mencapai sekitar Rp621,7 triliun. Arus dana mengalir ke berbagai jenis reksa dana, mulai dari pasar uang hingga saham, didorong meningkatnya partisipasi investor ritel melalui aplikasi fintech dan platform digital.
Dari sisi jumlah produk, sekitar 1.900 reksa dana beredar di Indonesia. Banyaknya pilihan memberi keleluasaan strategi, namun sekaligus menuntut kehati-hatian. Perbedaan kinerja, biaya pengelolaan, dan struktur fee antarproduk membuat investor perlu menyesuaikan pilihan dengan tujuan, horizon investasi, dan profil risikonya.
Inklusi pasar modal pun melaju cepat. Data OJK dan pelaporan pasar pada 2025 menunjukkan jumlah investor pasar modal—tercatat melalui Single Investor Identification (SID) di KSEI—bergerak ke kisaran 18–19 juta investor pada paruh hingga akhir 2025.
Lonjakan ini mencerminkan meningkatnya minat masyarakat, seiring masifnya edukasi dan kemudahan pembukaan akun oleh broker serta manajer investasi.
Bagi investor pemula yang ingin masuk ke ETF, sejumlah prinsip praktis perlu diperhatikan. Tentukan tujuan investasi sejak awal, hitung seluruh biaya dan fee yang memengaruhi hasil bersih, serta cermati likuiditas ETF karena tingkat kuotasi antarproduk bisa berbeda.
Investor juga perlu memanfaatkan data indicative net asset value (iNAV), kinerja historis, dan portfolio composition file untuk memahami struktur aset dan risikonya. Informasi resmi dari OJK, BEI, KSEI, dan laporan manajer investasi tetap menjadi rujukan utama dalam pengambilan keputusan.
Baca juga: Sekda Batam Ingatkan ASN Patuhi Jadwal Libur Nataru, Dilarang Perpanjang Cuti di Luar Ketentuan
Editor:Redaksi


















