MATAPEDIA6.com, JAKARTA — Gejolak harga saham menjadi tantangan yang tidak bisa dihindari investor di pasar modal. Ketika harga bergerak turun dalam waktu singkat, keputusan menjual saham karena panik justru berpotensi mengganggu strategi investasi yang telah disusun sejak awal.
Di tengah kondisi pasar yang dinamis, investor perlu mengandalkan perencanaan keuangan, pemahaman risiko, dan disiplin dalam mengambil keputusan.
Sebab, keberhasilan investasi tidak hanya bergantung pada kemampuan membaca arah pasar, tetapi juga pada ketahanan menghadapi perubahan kondisi ekonomi.
Direktur Bursa Efek Indonesia (BEI), Umi Kulsum, mengatakan ketangguhan investor tidak ditentukan oleh kemampuan memprediksi pergerakan pasar. Menurutnya, investor perlu menjaga disiplin dan menghindari keputusan impulsif ketika menghadapi fluktuasi harga.
“Investor yang tangguh adalah investor yang tetap disiplin serta tidak mengambil keputusan secara impulsif ketika pasar berfluktuasi. Dengan semakin luasnya akses masyarakat ke pasar modal, diharapkan masyarakat juga semakin mampu untuk mengambil keputusan investasi secara legal, logis, dan sesuai dengan profil risiko masing-masing,” ujar Umi dalam keterangannya, Sabtu (31/10/2026).
Salah satu langkah penting untuk menjaga konsistensi investasi adalah menetapkan tujuan dan jangka waktu sejak awal.
Dengan perencanaan tersebut, investor dapat memilih instrumen yang sesuai dengan kebutuhan keuangan serta tingkat risiko yang sanggup ditanggung.
Strategi ini juga membantu investor agar tidak mudah mengubah keputusan hanya karena pergerakan harga dalam jangka pendek. Terlebih, setiap instrumen investasi memiliki karakteristik dan tingkat risiko yang berbeda.
Selain menentukan tujuan, diversifikasi menjadi strategi untuk mengelola risiko portofolio. Investor dapat menyebarkan dana ke beberapa aset atau instrumen sehingga kinerja investasi tidak hanya bergantung pada satu jenis aset.
Baca juga:Investasi Batam Capai Rp59,73 Triliun, BP Batam Apresiasi Kontribusi 19 Kategori Investor
Namun, strategi investasi tidak cukup hanya mengandalkan perhitungan angka. Faktor psikologis juga berpengaruh terhadap keputusan investor.
Kepanikan ketika harga saham turun atau rasa percaya diri berlebihan saat harga melonjak dapat mendorong keputusan yang tidak sejalan dengan rencana keuangan.
Karena itu, investor perlu membedakan gejolak pasar jangka pendek dengan target investasi jangka panjang. Evaluasi terhadap kondisi pasar tetap diperlukan, tetapi keputusan sebaiknya tidak semata-mata mengikuti tren media sosial, pemberitaan terkini, maupun langkah investor lain.
Kesiapan keuangan juga menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan investasi. Sebelum mengalokasikan dana ke pasar modal, investor perlu memastikan ketersediaan dana darurat dan mengelola utang secara bijak.
Kedua hal tersebut membantu menjaga stabilitas keuangan ketika menghadapi kebutuhan mendadak, seperti kehilangan pekerjaan atau biaya kesehatan.
Dengan kondisi keuangan yang lebih siap, investor tidak harus mencairkan aset investasi secara terburu-buru saat pasar sedang mengalami tekanan.
Investor juga perlu mengevaluasi portofolio secara berkala. Langkah ini bertujuan memastikan komposisi aset tetap sesuai dengan tujuan keuangan, jangka waktu investasi, dan profil risiko. Jika kondisi keuangan atau target investasi berubah, penyesuaian portofolio dapat dilakukan secara terukur.
Apabila menghadapi tekanan pasar atau perubahan kondisi keuangan yang signifikan, investor dapat meminta panduan dari profesional keuangan yang berkualifikasi dan berizin.
Pentingnya ketahanan investor tersebut menjadi salah satu perhatian dalam kampanye World Investor Week (WIW) 2026. Tahun ini, WIW mengangkat tiga isu utama, yakni Investor Resilience, Digital Deception dan Scam Alert.
Melalui kampanye tersebut, investor didorong untuk memperkuat ketahanan finansial dan psikologis, meningkatkan kewaspadaan terhadap informasi investasi digital, serta mengenali berbagai modus penipuan yang dapat merugikan masyarakat.
Di Indonesia, BEI turut mendukung kampanye tersebut melalui kegiatan Ring the Bell for Financial Literacy 2026 bertema Stay Smart. Stay Alert. Stay Resilient.
Kegiatan yang berlangsung pada 14 Oktober 2026 di Main Hall BEI, Jakarta, itu menghadirkan calon investor, investor, dan media.
Salah satu agenda utamanya berupa talk show yang membahas ketahanan investor serta pengelolaan keuangan.
Pada akhirnya, menghadapi fluktuasi pasar bukan berarti investor harus menghindari setiap risiko.
Justru, pemahaman terhadap karakter investasi, perencanaan keuangan yang matang, dan disiplin dalam mengambil keputusan menjadi modal penting untuk menjaga keberlanjutan investasi.
Dengan literasi keuangan yang semakin baik, investor diharapkan tidak hanya mampu memanfaatkan peluang pasar modal, tetapi juga lebih siap menghadapi tekanan dan risiko dalam perjalanan investasinya.
Baca juga:RUPSLB BEI Setujui Dividen Khusus Rp1,564 Triliun dan Anggaran 2027
Editor:Zalfirega











