MATAPEDIA6.com, BATAM – Perekonomian syariah di Kepulauan Riau terus bergerak. Kepulauan Riau Ramadan Fair (KURMA) 2026 hadir bukan sekadar festival, tetapi panggung konsolidasi ekonomi umat yang kian matang dari tahun ke tahun.
Pemerintah Provinsi Kepri bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS), serta sejumlah mitra strategis kembali menggelar KURMA untuk ketiga kalinya pada Ramadan 1447 Hijiriah.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau Rony Widijarto Purubaskoro mengatakan, panitia mendorong akselerasi ekonomi dan keuangan syariah (Eksyar) sekaligus memperluas akses pasar bagi pelaku UMKM lokal.
“KURMA 2026 juga masuk dalam rangkaian Road to Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Sumatera 2026 yang bermuara pada Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF),” ujarnya dalam sesi bincang bersama media di kantor Bank Indonesia Kepulauan Riau, Selasa (3/2/2026).
Sinergi ini menargetkan dua hal besar: memperkuat fondasi ekonomi syariah daerah dan mengangkat posisi Indonesia di pasar halal global.
Baca juga:Dari Barcelona ke Indonesia, Indosat Pamer 5G Berbasis AI dan Siap Terapkan di Tanah Air
Sejak digelar pertama kali pada 2024, KURMA langsung mencuri perhatian nasional. Wakil Presiden RI saat itu, Ma’ruf Amin, membuka KURMA perdana dan menegaskan pentingnya Kepri sebagai gerbang ekonomi syariah kawasan perbatasan.
Pada 2025, KURMA edisi kedua diresmikan oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon. Level dukungan yang terus meningkat menunjukkan bahwa Kepri tidak lagi sekadar penonton dalam arus besar ekonomi syariah nasional.
KURMA 2025 mencatat hasil konkret. Transaksi penjualan UMKM menembus Rp2,33 miliar.
Business matching pembiayaan mencapai Rp2,19 miliar. Tingkat pemahaman edukasi ekonomi syariah menunjukkan hasil kuat dengan rata-rata nilai post test 81,79.
“Angka-angka ini menegaskan bahwa KURMA bukan seremoni tahunan, melainkan mesin transaksi dan literasi,” sebut dia.
Inflasi Kepri Februari 2026 Tetap Terkendali
Di tengah geliat Ramadan, inflasi Kepri pada Februari 2026 tetap terjaga dalam kisaran target. Kenaikan harga terutama dipicu oleh emas perhiasan serta meningkatnya mobilitas dan konsumsi masyarakat. Komoditas seperti daging ayam ras dan buncis turut memberi andil.
Sejumlah daerah Indeks Harga Konsumen (IHK) seperti Batam, Tanjungpinang, dan Karimun mencatat dinamika harga yang relatif terkendali dibanding tekanan nasional. Stabilitas ini menjadi sinyal bahwa daya beli masih terjaga meski aktivitas ekonomi meningkat.
Perbankan Tumbuh Dua Digit, Kredit Melaju
Dari sisi sektor keuangan, perbankan di Kepri mencatat pertumbuhan solid. Posisi aset perbankan mencapai lebih dari Rp119 triliun dengan pertumbuhan dua digit secara tahunan. Kredit juga tumbuh signifikan, mencerminkan kepercayaan pelaku usaha yang tetap kuat.
Rasio kredit bermasalah (NPL) tetap terkendali di kisaran aman, sejalan dengan tren nasional. Penyaluran kredit terbesar mengalir ke sektor industri pengolahan, transportasi dan pergudangan, serta listrik, gas, dan air.
Struktur ini menunjukkan bahwa Kepri terus mengandalkan sektor riil sebagai motor penggerak.
Memasuki tahun ketiga, KURMA tidak lagi membangun fondasi—ia mulai mempercepat langkah. Pemerintah daerah, otoritas moneter, pelaku usaha, dan komunitas syariah kini bergerak dalam satu irama.
Ramadan menjadi momentum spiritual sekaligus akselerator ekonomi. Dari bazar UMKM hingga forum pembiayaan, dari literasi hingga transaksi miliaran rupiah, KURMA 2026 menegaskan satu hal: ekonomi syariah Kepri tidak berhenti pada wacana, tetapi terus tumbuh dengan data dan aksi nyata.
Baca juga:Tinjau Gudang Bulog Batam, Nyanyang Haris Pratamura Pastikan Stok Sembako Aman hingga Lebaran
Penulis:Zalfirega|Editor:Miezon



















