Pendataan Warga Kampung Dragon Kabil Tidak Transparan, Pertamina: Kami Cek Dulu

Jumat, 7 Juni 2024 - 12:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Puluhan warga di Kampung Dragon Kabil yang terdampak rencana penggusuran oleh pihak Pertamina yang belum mendapat ganti rugi atas rumah dan kandang ternak mereka, Kamis (7/6/2024) Matapedia6.com/ Luci.

Puluhan warga di Kampung Dragon Kabil yang terdampak rencana penggusuran oleh pihak Pertamina yang belum mendapat ganti rugi atas rumah dan kandang ternak mereka, Kamis (7/6/2024) Matapedia6.com/ Luci.

MATAPEDIA6.com, BATAM – Puluhan warga yang selama ini berternak dan berkebun di Kampung Dragon Kelurahan Kabil, Kecamatan Nongsa, sesalkan pendataan rencana penggusuran akan dilakukan oleh pihak pertamina, bersama Direktorat Pengamanan (Ditpam) Kota Batam.

Kekesalan warga dikarenakan pendataan dilaksanakan terkesan terselubung dan syarat kepentingan, dimana sebagian warga sudah terima sebagian lagi belum terima.

Bahkan ada warga yang disuruh membuat pernyataan dan menandatangani pencairan uang kompensasi. Namun uang kompensasi tersebut malah diambil orang lain.

Menyiram Hati Daci saat ditemui di lokasi Kampung Drangon menjelaskan pendataan Rumah dan pondok warga dilakukan sejak Agustus 2023 lalu.

Petugas pendataan datang ke lokasi langsung dari Direktorat Pengamanan (Ditpam) BP Batam.

Oknum dari Ditpam datang dan langsung melakukan penomoran rumah dan pondok warga tanpa melakukan koordinasi terlebih dahulu.

“Jadi rumah warga itu langsung di kasih nomor pakai cat pilot warna merah,” kata Daci kepada wartawan, Kamis (6/6/2024).

Dia menjelaskan awalnya oknum Ditpam datang mendata warga akan diberikan kompensasi oleh Pertamina sebagai pemilik lahan.

“Kompensasi yang akan diberikan yakni untuk kandang kecil sebesar Rp 3 juta, kandang besar Rp 5 juta dan untuk rumah Rp 7 juta,” kata Daci.

Menurut dia sebagian warga sudah menerima kompensasi tersebut dan warga sudah terima uang kompensasi, rumahnya sudah dibongkar.

Namun yang paling mengherankan, kata Daci, belum semua rumah dan kandang warga didata, tetapi pendataan sudah dihentikan.

“Saat ini masih ada kurang lebih 40 rumah dan pondok yang belum di data,” kata Daci.

“Kami bukan tidak mau digusur, tetapi mereka berharap jangan ada pilih kasih,” tambah dia.

Warga juga menduga ada permainan di balik rencana penggusuran dan pemberian uang kompensasi kepada warga tersebut.

“Kita sudah tanyakan kepada pertamina, pihak pertamina menyebut sudah dibayar, ” ujarnya.

Kampung Dragon diketahui terdapat kurang lebih 200 kepala keluarga yang tinggal baik berkebun dan beternak, dari 200 KK tersebut sebagian sudah di data dan diganti rugi, sementara sebagian belum terdata kurang lebih 40 KK.

Di tempat yang sama, Lustina warga lainnya menambahkan pendataan dan ganti rugi melalui Ditpam bukan dari pemilik lahan sendiri.

Pendataan dianggap tidak adil karena rumah dan kandang ukuran kecil dibayar namun kandang bagus malah tidak masuk hitungan dengan alasan tidak layak.

“Jadi kita bingung seperti apa pendataan  dilakukan, seperti apa sebetulnya kondisi bangunan agar masuk hitungan,” kata Lustina.

Khenoki warga lainnya menyebut pendataan dilakukan terkesan tertutup dan tidak transparan.

“Yang heran mereka melakukan pendataan saat warga tidak ada di rumah. Jadi oknum Ditpam BP Batam ini langsung main kasih nomor pakai cat pilot,” kata Khenoki.

Dia juga mengatakan ada salah satu data warga yang rumahnya sudah di data dan sudah menandatangani surat pernyataan kesediaan membongkar. Namun uang ganti rugi malah diambil orang lain.

“Kita tidak tahu siapa yang ambil, itu nomor rumah 09, uang ganti rugi sudah diambil, tetapi tidak tahu siapa yang ambil. Kita tahu hal itu setelah Rapat Dengar Pendapat (RDP) di kantor Komisi I DPRD Kota Batam,” kata Khenoki.

Sementara mengenai rencana penggusuran akan dilakukan oleh Pertamina di Kampung Dragon pihak pertamina menyebut hal itu urusan BP Batam.

“Saya kurang paham terkait isu BP Batam,” kata Area Manager Communication & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, Susanto August Satria.

Sementara mengenai pendataan warga Susanto August Satria enggan merinci lebih lanjut dan akan mengecek terlebih dahulu.

“Saya cek dulu,” singkat Susanto.

Cek berita dan artikel lainnya di Google News

Penulis: Luci |Editor: Zalfirega

Berita Terkait

TNI AL Bongkar Dugaan Penyelundupan LTJ dan Unsur Radioaktif Senilai Triliunan di Kepri
Momen Iduladha di Batam, Pemko Catat 1.020 Titik Salat Id dan 7.011 Hewan Kurban
Panbil Group Salurkan 24 Hewan Kurban hingga Pulau Ngenang dan Tanjung Sauh di Batam
Lapas Batam Sembelih 8 Hewan Kurban, Warga Binaan Ikut Berpartisipasi di Idul Adha 1447 H
Rutan Batam Sembelih 22 Hewan Kurban, Jumlah Meningkat Tajam dari Tahun Lalu
Aweng Kurniawan: Gerindra Turun Langsung Salurkan Kurban, Sapi 1 Ton dari Prabowo untuk Pulau Kasu
Tambah 19 Unit Armada, Trans Batam Pangkas Waktu Tunggu dan Perkuat Layanan Port to Port
Pemko Batam Raih Penghargaan Kemendikbud, Kolaborasi Sekolah Swasta dalam SPMB

Berita Terkait

Kamis, 28 Mei 2026 - 12:25 WIB

TNI AL Bongkar Dugaan Penyelundupan LTJ dan Unsur Radioaktif Senilai Triliunan di Kepri

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:11 WIB

Panbil Group Salurkan 24 Hewan Kurban hingga Pulau Ngenang dan Tanjung Sauh di Batam

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:00 WIB

Lapas Batam Sembelih 8 Hewan Kurban, Warga Binaan Ikut Berpartisipasi di Idul Adha 1447 H

Rabu, 27 Mei 2026 - 11:13 WIB

Rutan Batam Sembelih 22 Hewan Kurban, Jumlah Meningkat Tajam dari Tahun Lalu

Rabu, 27 Mei 2026 - 10:33 WIB

Aweng Kurniawan: Gerindra Turun Langsung Salurkan Kurban, Sapi 1 Ton dari Prabowo untuk Pulau Kasu

Berita Terbaru

tangkapan layar screenshot google rupiah pada Kamis (28/5/2026). Foto:ist

Bisnis

Rupiah Anjlok ke Rp 17.859 per Dolar AS

Kamis, 28 Mei 2026 - 15:13 WIB