MATAPEDIA6.com, BATAM– Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Hang Nadim terus mendorong ekonomi sirkular sekaligus memperkuat pemberdayaan masyarakat di Batam.
Melalui Program KIMARA (Kampung Inovasi Sampah Permata Bandara), Pertamina membuktikan bahwa sampah tidak hanya bisa mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga menghasilkan nilai ekonomi bagi warga.
Program tersebut dijalankan bersama Unit Bank Sampah (UBS) RT One Berseri sebagai bagian dari upaya membangun sistem pengelolaan sampah terpadu berbasis ekonomi sirkular dan prinsip zero waste.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw, mengatakan AFT Hang Nadim membina UBS RT One Berseri agar mampu mengelola sampah secara produktif dan berkelanjutan.
“Melalui pembinaan UBS RT One Berseri, kami mendorong masyarakat mengolah sampah menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai jual. Program KIMARA tidak hanya memberi dampak positif bagi lingkungan, tetapi juga membuka peluang usaha dan meningkatkan pendapatan masyarakat, terutama kelompok ibu rumah tangga,” ujar Fahrougi dalam keterangannya, Selasa (2/6/2026).
Menurut Fahrougi, kolaborasi antara perusahaan dan masyarakat menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan yang bersih sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga.
Baca juga:OJK Perkuat BPR dan BPRS, Aset Tembus Rp236,69 Triliun dan Kredit UMKM Terus Tumbuh
Hasilnya, UBS RT One Berseri kini mampu mengelola berbagai jenis sampah secara produktif. Kelompok tersebut mengolah limbah buah dari kedai buah dan usaha jus menjadi eco enzyme.
“Setiap bulan, mereka mengolah sekitar 41 kilogram sampah organik untuk menghasilkan produk ramah lingkungan tersebut,” ujarnya.
Selain itu, sebanyak 231 kilogram sampah organik rumah tangga dimanfaatkan sebagai pakan maggot, sementara 39 kilogram lainnya diolah menjadi kompos.
Langkah ini membantu mengurangi volume sampah sekaligus menghasilkan produk yang bernilai ekonomi.
Tak berhenti pada pengelolaan sampah, kelompok binaan Pertamina ini juga mengembangkan budidaya hidroponik. Saat ini, hasil panen sayuran hidroponik mencapai sekitar 20 kilogram per bulan dan dipasarkan kepada masyarakat sekitar.
Aktivitas tersebut membuka sumber pendapatan baru sekaligus memperkuat ketahanan pangan keluarga.
Fahrougi menambahkan, pengelolaan sampah anorganik juga menunjukkan hasil yang signifikan. Setiap bulan, UBS RT One Berseri mampu mengumpulkan dan memilah sekitar tiga ton sampah anorganik untuk dijual ke perusahaan daur ulang.
“Dari seluruh aktivitas tersebut, kelompok binaan ini berhasil mengurangi timbunan sampah yang berakhir di TPA sekaligus menciptakan sumber pendapatan tambahan yang mendukung perekonomian anggota UBS RT One Berseri,” katanya.
Anggota UBS RT One Berseri, Nella Nelfia, mengaku merasakan langsung manfaat program yang telah berjalan selama empat tahun tersebut.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Pertamina, khususnya AFT Hang Nadim, yang terus mendampingi kelompoknya dalam pengelolaan sampah dan pengembangan hidroponik.
“Pertamina sudah membina kami selama empat tahun. Sekarang kami semakin mandiri dalam mengelola sampah dan pendapatan kami juga meningkat. Program ini mengajarkan bahwa keterbatasan lahan bukan alasan untuk tidak menanam sayuran. Dengan lahan sederhana di rumah, kami tetap bisa membudidayakan sayuran secara hidroponik,” ujar Nella.
Program KIMARA sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) poin 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.
Melalui pengurangan sampah, daur ulang, dan pemanfaatan kembali material yang masih bernilai, program ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat menjadi solusi lingkungan sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.
Baca juga:442 Jemaah Haji Kloter 1 Debarkasi Batam Tiba di Tanah Air, Disambut Sekda Firmansyah
Editor:Zalfirega
















