Rupiah Anjlok ke Rp 17.859 per Dolar AS

Kamis, 28 Mei 2026 - 15:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

tangkapan layar screenshot google rupiah pada Kamis (28/5/2026). Foto:ist

tangkapan layar screenshot google rupiah pada Kamis (28/5/2026). Foto:ist

70 / 100 Skor SEO

MATAPEDIA6.com, JAKARTA-Nilai tukar rupiah kembali terpukul di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (28/5/2026). Tekanan pasar mendorong rupiah menembus level Rp17.859 per dolar AS atau melemah 58 poin setara 0,33 persen.

Data Bloomberg pada pukul 09.21 WIB mencatat pelemahan itu sekaligus menjadi titik terendah baru sepanjang sejarah (all time low) rupiah. Pasar bereaksi keras terhadap meningkatnya ketidakpastian global, terutama memanasnya konflik AS-Iran serta tekanan terhadap kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Pelaku pasar terus memburu aset aman berbasis dolar AS. Arus modal keluar dari negara berkembang ikut memperbesar tekanan terhadap mata uang regional, termasuk rupiah.

Baca juga:TNI AL Bongkar Dugaan Penyelundupan LTJ dan Unsur Radioaktif Senilai Triliunan di Kepri

Di tengah tekanan tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pemerintah belum melihat pelemahan rupiah sebagai ancaman serius bagi APBN. Pemerintah, kata dia, telah menghitung berbagai skenario risiko sejak awal, termasuk kemungkinan lonjakan harga minyak dunia dan tekanan kurs.

“Kita udah hitung. Pada waktu simulasi USD102 per barel itu asumsi rupiahnya juga sudah kita perhitungkan,” ujar Purbaya di Kantor Ditjen Pajak, dilansir dari Kumparan di Jakarta, Rabu (27/5/2026).

Purbaya menegaskan pemerintah belum perlu mengubah atau menghitung ulang postur APBN. Menurutnya, kondisi pasar keuangan domestik masih relatif terkendali meski rupiah terus melemah.

Ia menyoroti pergerakan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah yang masih stabil sebagai salah satu penahan gejolak pasar. Stabilitas itu, lanjutnya, muncul dari langkah pemerintah bersama otoritas keuangan dalam menjaga kepercayaan investor agar tekanan tidak berkembang menjadi kepanikan pasar.

Meski demikian, pelemahan rupiah tetap menjadi alarm serius bagi perekonomian nasional. Tekanan kurs berpotensi meningkatkan biaya impor, memperbesar beban utang berdenominasi dolar AS, hingga memicu kenaikan harga barang di dalam negeri apabila berlangsung dalam jangka panjang.

Pasar kini menanti langkah lanjutan Bank Indonesia dan pemerintah untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tensi geopolitik global yang terus memanas.

Baca juga:PLN Batam Salurkan 18 Sapi dan 50 Kambing untuk Masyarakat pada Idul Adha 1447 H

Editor:Zalfirega

Berita Terkait

Investasi Kripto Tanpa Izin OJK, Satgas PASTI Setop YWWSDC dan RTHAE
BP Batam Catat Investasi Rp38,97 Triliun pada Semester I 2026
OJK Dorong Pelajar Mulai Menabung Sejak Dini untuk Hindari FOMO
Laris Manis di KKI 2026, UMKM Unggulan Kepri Kantongi Omzet Rp 5,3 Miliar
OJK Akselerasi Inovasi dan Pengawasan Keuangan Digital lewat Digination Day 2026
BATIC 2026 Bahas Autonomous AI dan Penguatan Infrastruktur Digital Asia Pasifik
30,3 Juta Investor Pasar Modal Indonesia, Minat Investasi Terus Tumbuh
BP Batam dan Polri Perkuat Keamanan serta Kepastian Hukum untuk Dukung Investasi di Batam

Berita Terkait

Senin, 31 Agustus 2026 - 17:37 WIB

Investasi Kripto Tanpa Izin OJK, Satgas PASTI Setop YWWSDC dan RTHAE

Senin, 31 Agustus 2026 - 12:10 WIB

BP Batam Catat Investasi Rp38,97 Triliun pada Semester I 2026

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 14:26 WIB

OJK Dorong Pelajar Mulai Menabung Sejak Dini untuk Hindari FOMO

Jumat, 28 Agustus 2026 - 13:57 WIB

Laris Manis di KKI 2026, UMKM Unggulan Kepri Kantongi Omzet Rp 5,3 Miliar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 19:26 WIB

OJK Akselerasi Inovasi dan Pengawasan Keuangan Digital lewat Digination Day 2026

Berita Terbaru