Berlayar dari Pesisir: UMKM Menuju Ekonomi Digital Belakang Padang

Minggu, 16 November 2025 - 17:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Deputi Kepala Perwakilan BI Kepri, Ardhienus, di acara Berlayar Belakang Padang 2025 yang merayakan festival digital masyarakat Kepri, Sabtu (15/11/2025) malam. Foto:Is/matapedia

Deputi Kepala Perwakilan BI Kepri, Ardhienus, di acara Berlayar Belakang Padang 2025 yang merayakan festival digital masyarakat Kepri, Sabtu (15/11/2025) malam. Foto:Is/matapedia

MATAPEDIA6.com, BATAM — Belakang Padang selalu membawa kisah kontras: pulau kecil yang menyimpan posisi strategis, sederhana tetapi sarat potensi. Di titik ini Indonesia berdiri paling dekat dengan Singapura—pusat ekonomi global yang berdenyut setiap detik.

“Posisi geografisnya membuat pulau ini menjadi jembatan interaksi ekonomi lintas negara yang sangat strategis sehingga tepat dijadikan ikon baru ekonomi digital perbatasan,” ujar Deputi Kepala Perwakilan BI Kepri, Ardhienus, di acara Berlayar Belakang Padang 2025 yang merayakan festival digital masyarakat Kepri, Sabtu (15/11/2025).

Pernyataan itu bukan basa-basi. Digitalisasi, terutama transaksi nontunai, telah merata di Kepulauan Riau—bahkan hingga pesisir seperti Belakang Padang, pulau tua yang disebut-sebut telah lebih dulu hidup sebelum Batam modern dibangun pemerintah.

Selama puluhan tahun, ritme ekonomi masyarakat pesisir bertumpu pada wisatawan lokal, perdagangan mingguan, dan kebutuhan rumah tangga yang keluar-masuk pulau.

Namun akses mereka terhadap pasar modern, teknologi keuangan, dan permodalan formal masih terbatas.

Sebagian besar pedagang tetap mengandalkan transaksi tunai, pencatatan manual dalam buku kecil, dan pemasaran yang mengandalkan kabar dari mulut ke mulut.

Di titik itulah Bank Indonesia masuk—dengan strategi yang tidak memaksa, tetapi mengajak—membawa digitalisasi ke lini paling dasar masyarakat pesisir.

Ardhienus menegaskan, Belakang Padang dipilih bukan sekadar karena letaknya. Pulau ini adalah jendela keluar-masuk ekonomi kecil perbatasan, sebuah laboratorium peradaban maritim yang sedang bersiap menyambut ekonomi digital.

Kehadiran program digitalisasi bahkan disambut antusias. Semangat kolektif itu menjadi modal sosial yang mempercepat transformasi.

Baca juga: Dari Warung Kopi Sagulung, QRIS Jadi Nadi Ekonomi Baru di Kepulauan Riau

UMKM di pulau ini bukan hanya pedagang kecil. Mereka adalah jantung ekonomi lokal—penyedia kuliner harian, pelaku kerajinan, penggerak wisata, hingga penyokong jasa transportasi laut.

Namun mereka juga memikul masalah klasik: akses permodalan terbatas, pemasaran manual, pencatatan transaksi tidak rapi, ketergantungan uang tunai, dan minim literasi digital.

Digitalisasi menjadi jawabannya—tetapi harus diracik sesuai konteks pesisir.

Di sinilah kegiatan Berlayar memainkan perannya. Alih-alih memberi seminar teknis yang sulit dicerna, BI meramu edukasi melalui budaya, hiburan rakyat, dan interaksi langsung. Pedagang tidak diminta belajar teori; mereka diminta mencoba lebih dulu.

Satu pedagang otak-otak bercerita bagaimana QRIS mengubah ritme jual-belinya: pembeli lebih cepat dilayani, uang kembalian tak lagi merepotkan, dan transaksi otomatis tercatat di aplikasi.

Data BI memperkuat cerita itu. Kepri menjadi salah satu provinsi dengan pertumbuhan QRIS tercepat di Sumatra: – 530.327 pengguna akhir 2024, tumbuh 26,49% YoY. – 55,4 juta pengguna nasional, tumbuh 21,08% YoY. – 952.360 pengguna di Kepri per September 2025—hampir 1 juta.

Lonjakan ini menggambarkan dua hal: penerimaan masyarakat terhadap transaksi digital sangat tinggi, dan potensi ekonomi pesisir tumbuh lebih besar dari perkiraan awal.

QRIS bukan sekadar metode pembayaran; ia menjadi jembatan yang menghubungkan pelaku usaha kecil dengan ekosistem ekonomi yang lebih luas.

Di wilayah perbatasan, BI bahkan mendorong QRIS cross-border—membuka kemungkinan wisatawan Singapura dan Malaysia membayar dengan sistem mereka, lalu otomatis terkonversi ke rupiah.

Salah satu keunikan Berlayar adalah pesannya: digitalisasi tidak menghapus budaya pesisir, tetapi memperkuatnya. Kuliner otak-otak, gonggong, ikan asap; kerajinan miniatur perahu; tradisi Melayu; wisata bahari; hingga perahu transportasi lokal—semua diberi panggung digital.

“Ini sangat bermanfaat bagi masyarakat (kampung) kami,” ujar Panca, warga Belakang Padang.

Ia menyebut masyarakat berbondong-bondong datang saat festival. Pedagang meraup keuntungan. Kegiatan berlangsung dari pagi hingga malam, dan ketika senja turun, derap langkah warga mulai memenuhi lapangan kecil depan pelabuhan.

Anak-anak berlarian, pedagang sate mengipas bara, dan pemilik kedai kopi meletakkan ponselnya di dekat kasir—bukan untuk memotret pelanggan, tetapi menyiapkan QR code bagi pembeli malam itu.

Di pulau yang kerap disebut Little Singapore ini, tumbuh kesadaran baru: digitalisasi bukan monopoli kota besar. Ia bisa lahir dari meja kayu sederhana di warung pesisir.

Program Berlayar menjadi pintu masuk itu: mempertemukan tradisi bahari dengan ekosistem pembayaran digital.

Pesisir yang Dekat, Peluang yang Jauh

Belakang Padang hanya terpaut beberapa kilometer dari Singapura, tetapi jarak literasi digitalnya dulu terasa jauh. UMKM hidup dalam ritme sederhana: memproduksi, menjual, bergantung pada wisatawan lokal, tanpa banyak sentuhan teknologi.

Namun modal sosialnya besar: letak strategis, arus wisatawan dari Batam, keterhubungan historis dengan perdagangan lintas negara, budaya maritim yang mengakar, dan karakter masyarakat pesisir yang adaptif.

Melihat itu, BI melihat Belakang Padang bukan sebagai wilayah pinggiran—melainkan halaman depan Indonesia untuk ekonomi digital.

Baca juga:Aksi Jurnalis Batam: Stop Pembungkaman Pers, Hentikan Gugatan Rp200 Miliar Menteri ke Tempo!

Transformasi digital di Kepri memang sedang bergerak cepat. Angka pengguna QRIS yang mendekati satu juta pada 2025 memperlihatkan kecepatan adaptasi masyarakat pesisir.

Kini di warung-warung kecil, QRIS berdiri sejajar dengan toples kerupuk; di kios ikan asap, pembeli memindai sebelum pulang; di pedagang es tebu, QRIS digunakan ketika uang tunai menipis.

Digitalisasi menjadi bagian hidup. Manfaatnya nyata: transaksi cepat, pemasaran luas, peluang cross-border terbuka.

Namun UMKM tetap menghadapi tantangan: pemasaran manual, akses pasar terbatas, pencatatan tidak terstruktur, minim pembiayaan formal, dan belum sepenuhnya terhubung dengan ekosistem digital. Tantangan ini kini menjadi pekerjaan rumah pemerintah daerah.

Program Berlayar hadir memecah kebekuan itu. BI mengemas pelatihan dalam bentuk budaya dan hiburan, bukan teori. Literasi dilakukan di sela keramaian, simulasi transaksi berlangsung sambil masyarakat menonton panggung musik.

Menghidupkan Identitas, Menumbuhkan Ekonomi

Pesan inti Berlayar jelas: budaya bukan halangan digitalisasi. Belakang Padang memiliki modal budaya besar—kuliner, musik, kerajinan, wisata bahari.

Pemasaran digital memperluas akses mereka, QRIS mempercepat layanan, pencatatan digital mempermudah nelayan mengakses pembiayaan bank.

Digitalisasi bukan menggantikan budaya—melainkan memperkuatnya.

Tantangannya tetap ada: internet tidak merata, literasi rendah, kekhawatiran soal keamanan digital, preferensi tunai, keterbatasan perangkat. Karena itu BI tidak memaksa. Mereka mendekatkan teknologi kepada warga, bukan sebaliknya.

Belakang Padang membuktikan bahwa perbatasan bukan daerah tertinggal, tetapi lokomotif baru. Dekat dengan Singapura, peluang wisata besar, mobilitas ekonomi rakyat tinggi, dan transaksi cross-border terbuka di masa depan. Itulah alasan Berlayar dipusatkan di pulau ini: sebagai wajah terdepan Indonesia.

Ardhienus menegaskan keberhasilan Berlayar lahir dari sinergi pemerintah daerah, perbankan, mitra strategis, dan masyarakat. Berlayar bukan sekadar nama; ia simbol perjalanan bersama. Pulau kecil ini dipersiapkan menjadi ikon ekonomi digital perbatasan.

Menurut BI, literasi keuangan digital harus meningkat: penggunaan QRIS, perlindungan konsumen, dan gerakan Cinta, Bangga, Paham Rupiah. Pertumbuhan QRIS di Kepri menjadi bukti kesiapan masyarakat menyongsong ekonomi digital.

Beberapa tahun lalu, sulit membayangkan pedagang ikan asap memegang ponsel untuk transaksi digital. Kini itu pemandangan biasa.

Digitalisasi bukan hak kota besar, tetapi hak seluruh warga negara—termasuk mereka yang tinggal di pulau kecil yang menjaga garis depan negeri.

Sinergi pemerintah, perbankan, dan masyarakat membuat digitalisasi tidak hanya berjalan, tetapi mengakar: inklusif, merata, membumi, dan memberdayakan.

Di Belakang Padang, ombak kecil terus memecah dermaga. Hidup berjalan seperti biasa—pedagang membuka kios, nelayan melaut, anak-anak bermain di tepian pasir.

Namun kini ada satu perubahan kecil: ketika pelanggan membeli ikan asap, pedagang cukup mengulurkan ponsel dan berkata, “Scan saja.”

Perubahan kecil itu menyimpan jejak masa depan. Dari pesisir yang tenang ini, Indonesia menulis bab baru: UMKM lebih kuat, ekonomi lebih inklusif, perbatasan lebih berdaya.

Belakang Padang bukan sekadar destinasi wisata. Ia tumbuh sebagai ikon ekonomi digital perbatasan.

BI menegaskan, pulau-pulau perbatasan harus menjadi halaman depan Indonesia. Di sinilah kita berhadapan langsung dengan negara maju. Di sinilah arus wisatawan dan perdagangan kecil bergerak setiap hari.

Digitalisasi memastikan masyarakat pesisir tidak menjadi penonton—melainkan pemain dalam ekonomi modern.

Berlayar bukan seremoni. Ia adalah peta jalan besar: memperluas penggunaan QRIS, integrasi cross-border, perlindungan konsumen digital, literasi keuangan inklusif, dan sinergi budaya-digital sebagai kekuatan ekonomi baru.

Transformasi ini perjalanan panjang. Layar baru sedang dibentang. Belakang Padang menunjukkan bahwa pulau kecil mampu menyalakan perubahan besar.

Dan seperti namanya, Berlayar—masyarakat pesisir kini benar-benar menaikkan layar: menjemput angin ekonomi digital yang membawa mereka menuju masa depan yang inklusif, berdaya, dan penuh harapan.

Baca juga: Ekonomi Kepri Triwulan III 2025 Tumbuh 7,48 Persen, Industri dan Investasi Jadi Mesin Penggerak Utama

Penulis:Zalfirega|Editor:Trio

Berita Terkait

Wisuda ke-22, Universitas Batam Luluskan 724 Wisudawan
Indosat AIvolusi5G: Otak Cerdas di Balik Jaringan Kepri yang Makin Gesit dan Tahan Serangan Digital
Pasar Rakyat Tiban Kampung Antar Batam Raih Penghargaan Nasional Predikat Pasar Tertib Ukur
Batam Jadi Tuan Rumah Kegiatan CommuniAction 2025 Kementerian Komdigi RI
PLN Batam Gelar Konsultasi Publik Usulan Perubahan Regulasi Tarif Listrik untuk Jaga Keandalan Pasokan dan Daya Saing Industri
Task Force Batu Aji Gelar Sapu Sampah Liar di Empat Titik Tanjung Uncang dengan Armada Berat
Pematangan Jalan Zona A TPA Punggur Terus Dikebut, Dinas Bina Marga Kerja Hingga Malam
RSBP Batam Raih Trusted Achievement Award 2025 di Yogyakarta

Berita Terkait

Sabtu, 29 November 2025 - 21:47 WIB

Wisuda ke-22, Universitas Batam Luluskan 724 Wisudawan

Jumat, 28 November 2025 - 14:06 WIB

Indosat AIvolusi5G: Otak Cerdas di Balik Jaringan Kepri yang Makin Gesit dan Tahan Serangan Digital

Kamis, 27 November 2025 - 22:11 WIB

Pasar Rakyat Tiban Kampung Antar Batam Raih Penghargaan Nasional Predikat Pasar Tertib Ukur

Kamis, 27 November 2025 - 21:51 WIB

Batam Jadi Tuan Rumah Kegiatan CommuniAction 2025 Kementerian Komdigi RI

Kamis, 27 November 2025 - 13:58 WIB

PLN Batam Gelar Konsultasi Publik Usulan Perubahan Regulasi Tarif Listrik untuk Jaga Keandalan Pasokan dan Daya Saing Industri

Berita Terbaru

OJK Digital Financial Literacy di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Foto:OJK Kepri

Nasional

OJK Genjot Literasi Keuangan Digital Mahasiswa UMSU

Sabtu, 29 Nov 2025 - 11:28 WIB