Jambi Darurat Penipuan, Pedagang UMKM Resah Hadapi Beragam Modus Kejahatan

Sabtu, 25 April 2026 - 19:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Salah satu toko yang beroperasi 24 jam di kawasan Handil yang menjadi sasaran para pelaku penipuan di Jambi,Jumat (24/4/2026). Matapedia6.com/Ali

Salah satu toko yang beroperasi 24 jam di kawasan Handil yang menjadi sasaran para pelaku penipuan di Jambi,Jumat (24/4/2026). Matapedia6.com/Ali

66 / 100 Skor SEO

MATAPEDIA6.com, JAMBI – Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kota Jambi semakin resah atas maraknya berbagai modus penipuan yang menyasar pedagang, khususnya pemilik toko 24 jam atau yang dikenal sebagai “toko Madura”.

Menjamurnya toko kelontong yang buka 24 jam justru dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan untuk mencari celah.

Mereka berpindah dari satu toko ke toko lain, mengincar kelengahan penjaga toko dengan berbagai cara licik.

Salah satu modus yang paling sering terjadi adalah penipuan transfer. Pelaku berpura-pura telah mentransfer uang dalam jumlah besar, misalnya Rp500 ribu, namun setelah dicek, uang yang masuk hanya Rp500 rupiah.

Jika penjaga toko tidak teliti, mereka bisa saja langsung menyerahkan uang yang diminta.

“Kalau kita lengah dan tidak cek, pasti kita serahkan uang itu. Begitu kita bilang yang masuk cuma Rp500, pelaku langsung kabur dan cari toko lain,” ungkap Santi, salah satu pedagang di Jambi Timur, Jumat (24/4/2026).

Baca juga: Penipuan Bermodus Pungutan Uang Gotong Royong Marak di Jambi, Warga Diminta Waspada

Tak hanya itu, modus salah kembalian juga kerap terjadi. Pelaku mengaku membayar dengan uang Rp100 ribu, padahal sebenarnya hanya Rp10 ribu.

Saat penjaga toko tidak fokus atau enggan memeriksa CCTV, mereka dengan mudah mengambil keuntungan.

Modus lainnya pun tak kalah beragam. Mulai dari berpura-pura lupa membawa uang setelah melakukan transaksi pengisian saldo, hingga pura-pura hendak mengambil uang di kendaraan atau rumah, namun justru melarikan diri.

Ada pula aksi terorganisir yang melibatkan beberapa orang sekaligus. Mereka berpura-pura berbelanja dalam jumlah besar, sementara rekan lainnya mengalihkan perhatian penjaga toko.

Saat situasi lengah, barang belanjaan yang telah dikumpulkan langsung dibawa kabur.

Selain itu, peredaran uang palsu juga masih menjadi ancaman serius.

Pelaku biasanya beraksi saat toko ramai atau ketika penjaga dalam kondisi lelah, sehingga sulit membedakan uang asli dan palsu.

Baca juga: Pegawai Toko 24 Jam di Jambi Jadi Korban Hipnotis, HP Ditukar Emas Palsu

Tak berhenti di situ, sebagian pelaku bahkan menggunakan cara intimidasi. Mereka mengaku sebagai warga setempat atau membawa nama oknum tertentu untuk meminta diskon, uang keamanan, hingga sumbangan.

Modus terbaru yang mulai marak adalah berpura-pura mengenal pemilik toko. Pelaku meminta nomor telepon, lalu melakukan panggilan seolah-olah berkomunikasi dengan pemilik.

Dengan akting meyakinkan, penjaga toko akhirnya percaya dan menyerahkan uang atau barang.

Kasus terbaru terjadi di kawasan Handil pada Jumat (24/4/2026) sekitar pukul 19.00 WIB. Seorang pelaku berhasil menipu penjaga toko dengan modus tersebut hingga menyebabkan kerugian jutaan rupiah.

Aksi ini baru disadari setelah pergantian shift, ketika diketahui tidak ada instruksi dari pemilik toko.

Kondisi ini membuat para pelaku UMKM semakin resah. Mereka berharap adanya perlindungan lebih dari pemerintah dan aparat penegak hukum.

Rosmin, tokoh yang dituakan di kalangan pedagang, menilai penanganan harus lebih serius.

“Seharusnya aparat dan pemerintah hadir melindungi kami. Pelaku ini tidak kapok, bahkan wajahnya sudah banyak beredar di media sosial, tapi masih berani beraksi,” ujarnya.

Baca juga: Gengster Kian Beringas di Jambi, Jarah Toko Kelontong Gunakan Celurit

Para pedagang juga menilai keberadaan UMKM, khususnya toko 24 jam, telah memberikan kontribusi besar bagi perekonomian daerah.

Selain memudahkan masyarakat mendapatkan kebutuhan sehari-hari, usaha ini juga membuka lapangan pekerjaan dan membantu menekan angka pengangguran.

Namun di balik manfaat tersebut, para pedagang kini hanya menginginkan satu hal sederhana: rasa aman saat menjalankan usaha.

Sementara itu, Ali, pedagang lainnya, menduga maraknya penipuan ini dipicu oleh faktor ekonomi dan kebiasaan instan.

“Bisa jadi karena malas bekerja atau tingginya pengangguran. Tapi bisa juga karena mereka sudah terbiasa dapat uang cepat dari menipu,” kata Ali.

Penulis: Ali |Editor: Zalfirega

Berita Terkait

BNN RI Bongkar Jaringan Internasional Penyelundup Narkotika dari Malaysia di Batam
Srikandi PLN Batam Edukasi 450 Santri soal Keselamatan, Serahkan APAR dan Rambu K3 ke PPIT Imam Syafi’i
Polsek Lubuk Baja Razia Arena Game Sky City di Batam Usai Dugaan Judi, Hasil Pemeriksaan Tak Temukan Unsur Pidana
BP Batam Wajibkan Pemegang Alokasi Tanah Lapor Progres Pembangunan, Batas Akhir 31 Agustus 2026
PLN Batam Teken PJBTL 2 x 345 MVA dengan Altiva, Dukung Pengembangan Data Center Nongsa
Karutan Batam Fajar Teguh Wibowo Tinjau Blok Hunian, Pastikan Hak dan Pelayanan Warga Binaan Terpenuhi
248 Warga Binaan Rutan Batam Diusulkan Terima Remisi HUT RI, 12 Orang Berpeluang Langsung Bebas
Dinsos Batam Rawat Pria Telantar hingga Sembuh, Pemko Tanggung Biaya Kepulangan

Berita Terkait

Jumat, 31 Juli 2026 - 16:31 WIB

BNN RI Bongkar Jaringan Internasional Penyelundup Narkotika dari Malaysia di Batam

Jumat, 31 Juli 2026 - 11:24 WIB

Srikandi PLN Batam Edukasi 450 Santri soal Keselamatan, Serahkan APAR dan Rambu K3 ke PPIT Imam Syafi’i

Kamis, 30 Juli 2026 - 22:42 WIB

Polsek Lubuk Baja Razia Arena Game Sky City di Batam Usai Dugaan Judi, Hasil Pemeriksaan Tak Temukan Unsur Pidana

Kamis, 30 Juli 2026 - 22:00 WIB

BP Batam Wajibkan Pemegang Alokasi Tanah Lapor Progres Pembangunan, Batas Akhir 31 Agustus 2026

Kamis, 30 Juli 2026 - 10:31 WIB

PLN Batam Teken PJBTL 2 x 345 MVA dengan Altiva, Dukung Pengembangan Data Center Nongsa

Berita Terbaru