MATAPEDIA6.com, BATAM — Krisis air bersih di Kota Batam kembali memicu keluhan warga. Di saat kebutuhan air terus meningkat, masyarakat justru menghadapi aliran yang mati berhari-hari, debit air yang mengecil, hingga kenaikan tarif yang dinilai tidak sebanding dengan kualitas pelayanan.
Keluhan itu datang dari sejumlah wilayah, mulai dari Baloi Indah di Kecamatan Lubuk Baja hingga Sagulung dan Batu Aji. Warga mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga karena pasokan air belum mengalir normal.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kepastian pelayanan air bersih di Batam. Masyarakat kini menanti langkah konkret BP Batam dan pihak pengelola untuk mengatasi gangguan pasokan yang terus dikeluhkan.
Air Mati Dua Hari, Satu Ember Pun Tak Penuh
Nurjanah, warga Kampung Pisang, RT 01/RW 07, Baloi Indah, Kecamatan Lubuk Baja, menjadi salah satu warga yang merasakan langsung dampak gangguan pasokan air tersebut.
Ia mengatakan air di lingkungannya mati total selama dua hari berturut-turut, sejak Sabtu (19/9/2026) hingga Minggu (20/9/2026).
Memasuki Senin (21/9/2026), air memang kembali mengalir. Namun, debitnya sangat kecil sehingga warga kesulitan menampung air untuk kebutuhan sehari-hari.
Bahkan, setelah menampung air sejak tengah malam hingga pagi, Nurjanah mengaku belum bisa memenuhi kebutuhan rumah tangganya.
“Hari ini hidup tapi air kecil, nampung dari tengah malam sampai ke pagi satu ember enggak penuh,” ujar Nurjanah dengan nada kecewa.
Kondisi itu membuat aktivitas rumah tangga terganggu. Warga kesulitan memperoleh air untuk memasak, mencuci pakaian, hingga memenuhi kebutuhan sanitasi di kamar mandi.
Bagi Nurjanah dan warga lainnya, kembalinya aliran air belum menjadi solusi selama debitnya masih terlalu kecil untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Warga Sagulung dan Batu Aji Ikut Mengeluh
Keluhan serupa juga datang dari wilayah Sagulung dan Batu Aji. Warga Dapur 12, Sagulung, disebut mengalami gangguan pasokan air selama berhari-hari.
Di tengah kondisi tersebut, warga juga mempersoalkan kenaikan tarif air bulanan. Mereka mengaku sebelumnya membayar sekitar Rp 50 ribu per bulan, tetapi kini tagihannya meningkat menjadi Rp 70 ribu.
Baca juga:Air Kembali Lancar di GMP Tahap 2 Batam, Warga Apresiasi BP Batam
Wandra menilai kenaikan tarif tersebut tidak sejalan dengan pelayanan yang mereka rasakan.
“Ini tidak masuk akal, pelayanan kurang, bayar air naik lagi,” ujar Wandra.
Keluhan itu memperlihatkan persoalan yang dihadapi warga bukan hanya soal air yang tidak mengalir, tetapi juga beban biaya yang harus mereka tanggung ketika pelayanan belum berjalan sesuai harapan.
BP Batam dan Air Batam Hilih (ABH) Dinanti Beri Kepastian
Sebagai pemegang kendali pengelolaan air di Batam, BP Batam kini menghadapi tuntutan masyarakat agar segera memberikan kepastian mengenai penyelesaian gangguan pasokan.
Warga membutuhkan penjelasan mengenai penyebab air mati, langkah penanganan di wilayah terdampak, serta kepastian kapan distribusi air dapat kembali normal.
Di tengah keluhan tersebut, masyarakat juga menanti kejelasan mengenai kebijakan tarif dan kesesuaiannya dengan kualitas pelayanan yang diterima pelanggan.
Air bersih merupakan kebutuhan dasar yang menyangkut kehidupan sehari-hari. Karena itu, gangguan pasokan yang berlangsung berhari-hari tidak cukup dijawab dengan kembalinya aliran air dalam debit kecil.
Warga membutuhkan pelayanan yang konsisten, pasokan yang memadai, serta informasi yang jelas ketika gangguan terjadi.
Keluhan mengenai krisis air bersih juga datang dari kawasan Nongsa. Warga di wilayah tersebut turut merasakan dampak gangguan pasokan air yang menghambat aktivitas rumah tangga.
Kondisi ini menambah panjang daftar wilayah di Batam yang menghadapi persoalan serupa. Masyarakat berharap BP Batam dan pihak pengelola air segera mengambil langkah nyata agar pasokan kembali normal dan kebutuhan air bersih warga terpenuhi.
Di tengah keluhan dari berbagai kecamatan, warga menanti kepastian penanganan. Mereka berharap persoalan air bersih tidak terus berlarut tanpa kejelasan penyelesaian.
Baca juga:Warga Batam Keluhkan Air Mati, Ternyata Ada Perbaikan Gangguan Sistem Kelistrikan di Duriangkang
Editor:Zalfirega










