Dishub Lepas Tangan Masalah Angkot di Batam, Pemilik: Sudah Dianggap Tak Ada

Sabtu, 19 Juli 2025 - 17:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Potret angkutan umum di Kota Batam yang pernah berjaya dan saat ini kondisinya sudah banyak yang tidak laik, bahkan sangat membahayakan dijalan raya, Sabtu (19/7/2025). Matapedia6.com/Luci

Potret angkutan umum di Kota Batam yang pernah berjaya dan saat ini kondisinya sudah banyak yang tidak laik, bahkan sangat membahayakan dijalan raya, Sabtu (19/7/2025). Matapedia6.com/Luci

MATAPEDIA6.com, BATAM – Di tengah maraknya layanan transportasi online dan kehadiran bus Trans Batam, sejumlah angkutan kota (angkot) tua seperti Bimbar masih setia melayani masyarakat Kota Batam.

Meski kondisi fisik terlihat jauh dari kata laik jalan, angkot-angkot ini tetap menjadi pilihan sebagian warga karena ongkos murah dan akses yang menjangkau pelosok kota.

Namun, nasib angkot tua ini kian memprihatinkan tdak hanya tergerus zaman, mereka juga dihadapkan pada minimnya dukungan dari pemerintah maupun koperasi transportasi yang dulunya menaungi mereka.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Batam, Salim, mengatakan tanggung jawab peremajaan angkot swasta sepenuhnya berada di tangan pemilik kendaraan atau badan usaha yang mengelolanya.

“Peremajaan hanya kami lakukan untuk Trans Batam. Angkutan umum swasta seperti angkot dan taksi berada di bawah kendali pemilik atau koperasi masing-masing. Kami hanya melakukan pengawasan teknis, seperti uji KIR dan kelayakan kendaraan,” ujar Salim, Sabtu (19/7/2025).

Baca juga: Wakil Kepala BP Batam Genjot Investasi, Dorong Industri Maritim dan Pariwisata Bahari

Ia juga menyebutkan saat ini belum ada alokasi anggaran dari Pemerintah Kota Batam untuk membantu peremajaan angkot swasta, termasuk bantuan suku cadang.

Namun ke depan, Dishub berencana memperluas jangkauan Trans Batam dengan sistem feeder ke kawasan permukiman.

“Kami ingin layanan Trans Batam menjangkau lebih banyak warga. Tapi tetap, keselamatan penumpang adalah prioritas, sehingga angkot swasta tetap harus melalui uji kelayakan rutin,” lanjutnya.

Pemilik: Kami Sudah Tak Dianggap Ada Lagi

Sementara itu, para pemilik dan sopir angkot Bimbar mengaku kondisi mereka sudah berada di titik nadir.

Seorang pemilik angkot jurusan Dapur 12–Jodoh yang enggan disebutkan namanya, mengaku merasa tidak lagi mendapat perhatian dari pemerintah maupun koperasi transportasi.

“Kita ini ibarat tinggal tunggu waktu saja. Tak ada lagi yang mengatur, tak ada yang mengawasi. Jalan sendiri, urus sendiri. Kalau ditangkap, ya diurus biar bisa jalan lagi,” ucapnya dengan nada getir.

Baca juga: DPRD Batam Sahkan Perda Angkutan Massal Berbasis Jalan, Trans Batam Siap Bertransformasi

Ia menjelaskan para sopir kini bekerja tanpa aturan.

Mobil dibawa pagi dan dikembalikan sore, dengan setoran yang bahkan kadang hanya Rp100–150 ribu per hari.

Jika mobil mogok, sopir cukup memberi kabar dan kendaraan ditinggal begitu saja di pinggir jalan.

“Kalau rusak, tinggalin aja. Polisi pun udah tak peduli. Kita ini udah dianggap tak ada,” katanya.

Lebih miris lagi, pemilik mengakui tak lagi membayar pajak kendaraan karena merasa hanya tinggal menunggu waktu hingga mobil benar-benar tak bisa dipakai.

“Bisa lihat sendiri di jalan, banyak bodi mobil udah hancur. Mesin aja yang masih nyala. Kalau udah benar-benar rusak, ya dijual kiloan, jadi besi tua,” tambahnya.

Angkot-angkot tua seperti Bimbar pernah menjadi tulang punggung mobilitas warga Batam lintas kecamatan.

Dengan ciri khas warna merah untuk rute Dapur 12–Jodoh, dan biru untuk Tanjunguncang–Batam Center, mereka pernah berjaya.

Namun kini, trayek mereka diambil alih Trans Batam.

Ditambah kehadiran ojek online, Grab, Maxime, dan akses kendaraan pribadi yang makin mudah, membuat Bimbar kehilangan penumpang sedikit demi sedikit.

“Semua jalur sudah diambil Trans Batam. Orang naik motor, pesan online. Kami ini cuma mau cari rezeki halal. Kalau ini mati, kami kerja apa lagi?” keluh pemilik.

Fenomena angkot tua di Batam mencerminkan tantangan besar dalam sistem transportasi kota antara modernisasi dan keberpihakan sosial.

Baca juga: Ditlantas, BPTD, dan Jasa Raharja Gelar Ramp Check Angkutan Orang dan Barang di Batam

Di satu sisi, pemerintah ingin menghadirkan layanan publik yang layak dan aman.

Di sisi lain, ada kelompok masyarakat yang menggantungkan hidup pada sistem lama yang makin tersisih.

Perlu ada kebijakan transisi yang adil, agar peremajaan transportasi tak hanya soal kendaraan, tapi juga menyelamatkan nasib para pekerja dan pelaku sektor transportasi informal yang kini merasa “tak dianggap ada lagi”.

Penulis: Luci |Editor: Zalfirega

Berita Terkait

Polisi Ungkap Penyelewengan Pertalite, Modus Jerigen hingga Pertamini di Batam
Pagar DPRD Batam Rp 2,3 Miliar: Akan Dibangun 228 Meter, Proyek Masih Tahap Awal
Operasi Senyap Imigrasi Batam: Ratusan WNA Disapu, Dugaan Jaringan Scamming Internasional Dibongkar
Pertamina DPR RI dan BPH Migas Tinjau SPBU di Riau, Pastikan Distribusi BBM Lancar
Wujudkan Batam Cerdas dan Hijau, BP Batam: Stop Perusakan Jati Emas!
Kemenag Batam Gandeng Dinas Koperasi, Koperasi Madrasah 
TVRI Siarkan Piala Dunia, BP Batam Dorong Euforia hingga Dampak Ekonomi UMKM
Imigrasi Batam Deportasi 24 WN Tiongkok Usai Operasi Wira Waspada di Opus Bay

Berita Terkait

Rabu, 6 Mei 2026 - 20:39 WIB

Polisi Ungkap Penyelewengan Pertalite, Modus Jerigen hingga Pertamini di Batam

Rabu, 6 Mei 2026 - 20:18 WIB

Pagar DPRD Batam Rp 2,3 Miliar: Akan Dibangun 228 Meter, Proyek Masih Tahap Awal

Rabu, 6 Mei 2026 - 14:17 WIB

Operasi Senyap Imigrasi Batam: Ratusan WNA Disapu, Dugaan Jaringan Scamming Internasional Dibongkar

Rabu, 6 Mei 2026 - 13:40 WIB

Pertamina DPR RI dan BPH Migas Tinjau SPBU di Riau, Pastikan Distribusi BBM Lancar

Rabu, 6 Mei 2026 - 11:16 WIB

Kemenag Batam Gandeng Dinas Koperasi, Koperasi Madrasah 

Berita Terbaru