KSSK: Ekonomi Tumbuh Kuat, Stabilitas Sistem Keuangan Terjaga di Tengah Ketidakpastian Global

Jumat, 8 Mei 2026 - 20:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Menkeu bersama OJK dan Bank Indonesia. Foto:Istimewa

Menkeu bersama OJK dan Bank Indonesia. Foto:Istimewa

72 / 100 Skor SEO

MATAPEDIA6.com, JAKARTA — Ekonomi Indonesia menunjukkan daya tahan kuat di tengah gejolak global. Namun di balik pertumbuhan yang mengesankan, tekanan eksternal mulai menggerus stabilitas nilai tukar dan arus modal.

Dalam siaran pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), dikutip pada Jumat (8/5/2026), mencatat ekonomi nasional tumbuh 5,61 persen secara tahunan pada triwulan I 2026. Angka ini melampaui capaian kuartal sebelumnya yang berada di level 5,39 persen.

Pertumbuhan itu ditopang lonjakan belanja pemerintah, konsumsi rumah tangga yang tetap kuat, serta investasi yang mulai bergerak seiring proyek hilirisasi dan pembangunan infrastruktur.

Namun, di saat yang sama, tekanan global justru meningkat tajam.

Konflik di Timur Tengah mendorong lonjakan harga energi dan memperburuk rantai pasok global. Dampaknya langsung terasa pada meningkatnya inflasi dunia dan menguatnya dolar Amerika Serikat, seiring investor global memilih aset aman.

Baca juga:Fary Francis Tinjau Proyek Energi Angin 2GW di McDermott Batam, Tegaskan Sinyal Kuat Investasi

Situasi ini memicu arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

Sepanjang triwulan I 2026, investasi portofolio asing mencatat net outflow sebesar USD1,7 miliar. Tekanan tersebut ikut mendorong pelemahan nilai tukar rupiah ke level Rp16.995 per dolar AS pada akhir Maret 2026.

Pemerintah dan Bank Indonesia tidak tinggal diam.

Bank Indonesia memperkuat intervensi di pasar valas, baik melalui transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun intervensi offshore. Kebijakan suku bunga juga dijaga di level 4,75 persen untuk menahan tekanan terhadap rupiah.

Hasilnya mulai terlihat. Memasuki awal triwulan II, arus modal asing kembali mencatat net inflow sebesar USD3,3 miliar, sementara nilai tukar rupiah bergerak relatif stabil di kisaran Rp17.415 per dolar AS per 5 Mei 2026.

Di sisi domestik, fundamental ekonomi tetap terjaga.

Inflasi berhasil dikendalikan di level 2,42 persen secara tahunan pada April 2026, turun dari bulan sebelumnya. Penurunan ini ditopang stabilitas harga pangan, normalisasi permintaan pasca-Idulfitri, serta kebijakan subsidi energi.

Dari sisi fiskal, pemerintah menggenjot belanja negara sejak awal tahun. Hingga triwulan I 2026, realisasi belanja mencapai Rp815 triliun atau tumbuh 31,4 persen. Langkah ini diarahkan untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.

Program bantuan sosial, subsidi energi, hingga program Makan Bergizi Gratis menjadi motor utama penggerak konsumsi.

APBN pun kembali memainkan peran sebagai peredam guncangan (shock absorber), terutama di tengah tekanan harga energi global.

Sementara itu, kinerja eksternal tetap menunjukkan ketahanan. Neraca perdagangan mencatat surplus USD5,5 miliar sepanjang Januari hingga Maret 2026, meski defisit sektor migas masih membayangi.

Cadangan devisa juga tetap kuat di level USD148,2 miliar, setara dengan pembiayaan enam bulan impor—jauh di atas standar kecukupan internasional.

Meski begitu, risiko belum sepenuhnya mereda.

KSSK menegaskan ketidakpastian global masih tinggi, terutama akibat konflik geopolitik dan volatilitas pasar keuangan internasional. Tekanan terhadap nilai tukar, arus modal, dan pasar obligasi berpotensi berlanjut.

Karena itu, sinergi kebijakan antara pemerintah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan terus diperkuat untuk menjaga stabilitas sistem keuangan.

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 2026 tetap berada di kisaran 5,4 persen atau lebih, dengan dorongan dari percepatan belanja, penguatan investasi, serta penciptaan lapangan kerja.

Ekonomi Indonesia memang masih berdiri kokoh. Namun, di tengah badai global yang belum reda, kewaspadaan menjadi kunci agar stabilitas tidak sekadar bertahan—tetapi juga mampu melaju.

Baca juga:Pers dan Imigrasi Batam Bahas Keterbukaan Informasi di Media Gathering

Editor:Zalfirega 

Berita Terkait

BI Pertahankan Suku Bunga 5,75 Persen, Kredit Perbankan Tumbuh 13,65 Persen pada Agustus 2026
OJK Buka Kepemilikan Saham Bursa Efek untuk Investor dan Publik
Gebyar Melayu Pesisir 2026 Bidik Pasar Lebih Luas bagi UMKM Kepri
General Cargo Batu Ampar Tembus 102 Persen Target Tahunan, Kinerja Pelabuhan Batam Tumbuh 8 Persen
OJK Ambil Alih Pengawasan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis Mulai 2027
Rp2,44 Triliun RKA BP Batam 2027, Infrastruktur dan Investasi Jadi Fokus
Dari Expo ke Transaksi, BI Kepri Perluas Pasar UMKM Lewat Gebyar Melayu Pesisir 2026
Padi Reborn Tampil di GMP 2026, BI Kepri Bidik Perputaran Ekonomi UMKM

Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 20:50 WIB

BI Pertahankan Suku Bunga 5,75 Persen, Kredit Perbankan Tumbuh 13,65 Persen pada Agustus 2026

Senin, 21 September 2026 - 13:30 WIB

OJK Buka Kepemilikan Saham Bursa Efek untuk Investor dan Publik

Sabtu, 19 September 2026 - 15:21 WIB

Gebyar Melayu Pesisir 2026 Bidik Pasar Lebih Luas bagi UMKM Kepri

Sabtu, 19 September 2026 - 11:04 WIB

General Cargo Batu Ampar Tembus 102 Persen Target Tahunan, Kinerja Pelabuhan Batam Tumbuh 8 Persen

Jumat, 18 September 2026 - 20:05 WIB

OJK Ambil Alih Pengawasan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis Mulai 2027

Berita Terbaru