MATAPEDIA6.com, BATAM– Kinerja pasar modal Indonesia sepanjang 2025 menunjukkan akselerasi nyata. Setelah melewati tahun politik, pelaku usaha kembali agresif menghimpun dana.
Stabilitas mulai terbentuk, sentimen membaik, dan perusahaan semakin percaya diri memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan jangka panjang.
Dalam keterangan pers PT Bursa Efek Indonesia pada Senin (23/2/2026). Mencatat 858 penerbitan efek sepanjang 2025. Angka ini melonjak 26 persen dibandingkan 2024 yang hanya mencapai 680 penerbitan.
Lonjakan tersebut menandai kembalinya gairah transaksi dan meningkatnya optimisme pelaku pasar terhadap prospek ekonomi.
Baca juga:Pertamina Sumbagut Perketat Standar Layanan SPBU Selama Ramadhan 1447 H
Sebanyak 26 perusahaan resmi melantai di bursa. Sektor Basic Materials dan Consumer Non-Cyclicals memimpin dengan masing-masing empat emiten baru.
Basic Materials menyerap dana Rp5,1 triliun, sementara Consumer Non-Cyclicals menghimpun Rp2,6 triliun. Investor jelas memburu sektor dengan fundamental kuat dan daya tahan tinggi terhadap fluktuasi ekonomi.
Bukan hanya jumlah yang naik, kualitas emiten juga ikut terkerek. Rata-rata dana yang dihimpun melalui IPO melonjak tajam dari Rp348,7 miliar pada 2024 menjadi Rp696,1 miliar pada 2025.
Angka ini mengirim sinyal kuat: perusahaan yang masuk bursa kini memiliki skala bisnis lebih matang, tata kelola lebih rapi, dan daya tarik investasi lebih solid.
Pasar obligasi dan sukuk turut mencetak rekor. Hingga 31 Desember 2025, tercatat 181 emisi dari 79 perusahaan dengan total dana Rp216,64 triliun—tertinggi sepanjang sejarah.
Obligasi konvensional mendominasi 117 penerbitan, disusul sukuk mudharabah sebanyak 25 penerbitan.
Sektor keuangan menjadi motor utama dengan 40 emisi dan dana terhimpun Rp125,59 triliun.
Capaian ini menegaskan peran pasar obligasi dan sukuk sebagai tulang punggung pembiayaan jangka menengah dan panjang, sekaligus mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap instrumen pendanaan terstruktur.
Namun, masuk ke pasar modal bukan perkara instan. Perusahaan harus menyiapkan laporan keuangan yang sehat, tata kelola yang transparan, struktur organisasi yang kuat, serta kepatuhan penuh terhadap regulasi.
Mereka juga wajib mencermati stabilitas kebijakan domestik dan dinamika global yang dapat memengaruhi sentimen pasar.
Untuk menjaga kualitas emiten, BEI memperkuat pembinaan melalui program IDX Incubator. Program ini membuka pendaftaran hingga 8 Maret 2026 dan membekali perusahaan dengan pendampingan intensif menuju Initial Public Offering (IPO).
Kepala Divisi Pengembangan Perusahaan Tercatat BEI, Listyorini Dian Pratiwi, menegaskan IDX Incubator tidak sekadar mendorong jumlah emiten, tetapi memastikan kesiapan bisnis, tata kelola, dan pemahaman regulasi sebelum perusahaan melantai di bursa.
Dengan fondasi yang kuat, emiten diharapkan tumbuh berkelanjutan dan memberi nilai tambah bagi investor serta perekonomian nasional.
Memasuki 2026, peluang semakin terbuka. Stabilitas pasar membaik, kualitas emiten meningkat, dan ekosistem pendanaan kian matang. Pasar modal tak lagi sekadar alternatif pembiayaan, melainkan panggung utama pertumbuhan korporasi Indonesia.
Editor:Zalfirega



















