MATAPEDIA6.com, BATAM — Industri manufaktur dan investasi menjadi dua motor utama yang menjaga laju ekonomi Kepulauan Riau (Kepri). Pada triwulan III 2026, pertumbuhan ekonomi provinsi ini mencapai 7,52 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), tertinggi di antara seluruh provinsi di Sumatera.
Angka tersebut meningkat dibandingkan pertumbuhan triwulan II 2026 yang sebesar 6,99 persen. Kinerja ekonomi Kepri juga melampaui pertumbuhan Sumatera sebesar 4,95 persen dan nasional sebesar 5,47 persen.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau Rony Widijarto P mengatakan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada November 2026, ekonomi Kepri secara kumulatif hingga triwulan III tumbuh 7,19 persen.
“Angka ini juga lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi Sumatera sebesar 5,04 persen dan nasional sebesar 5,45 persen,” ujarnya dalam keterangannya, Jumat (6/11/2026).
Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi Kepri. Sektor ini tumbuh 7,79 persen dengan kontribusi 3,18 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Kinerja industri pengolahan ikut menguat seiring meningkatnya aktivitas manufaktur, terutama industri elektronik yang menjadi salah satu sektor unggulan Kepri.
Penguatan sektor manufaktur juga tercermin dari kinerja ekspor nonmigas. Pada triwulan III 2026, ekspor nonmigas Kepri tumbuh 9,56 persen secara tahunan, berbalik dari kontraksi 0,88 persen pada triwulan sebelumnya.
Baca juga:Urus Praktik Mahasiswa hingga Penelitian, RSUD Embung Fatimah Kembangkan Layanan Digital
Selain industri pengolahan, sektor konstruksi turut menopang pertumbuhan ekonomi. Sektor ini tumbuh 6,61 persen dengan kontribusi 1,25 poin persentase.
Aktivitas pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), kawasan industri, hingga proyek pusat data atau data center di Batam ikut menjaga pergerakan sektor konstruksi.
Sementara itu, sektor pertambangan dan penggalian tumbuh 6,26 persen dengan kontribusi 0,73 poin persentase. Perdagangan besar dan eceran mencatat pertumbuhan 7,99 persen dengan kontribusi 0,66 poin persentase. Meski masih tumbuh positif, kedua sektor tersebut mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya.
Investasi Masih Menjadi Penopang
Dari sisi pengeluaran, investasi melalui Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) masih menjadi penopang utama ekonomi Kepri. Komponen ini tumbuh 5,65 persen dengan kontribusi 2,38 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi.
Meski melambat cukup tajam dibandingkan pertumbuhan 24,08 persen pada triwulan II 2026, aktivitas investasi tetap berjalan seiring pembangunan proyek strategis, kawasan industri, dan KEK di sejumlah wilayah Kepri.
Konsumsi rumah tangga juga memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi. Komponen ini tumbuh 4,15 persen dengan andil 1,60 poin persentase.
Daya beli masyarakat turut mendapat dukungan dari optimisme konsumen. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Kepri pada triwulan III 2026 mencatat rata-rata 120,08 atau berada di atas level optimistis 100.
Sementara itu, net ekspor tumbuh 7,31 persen dengan kontribusi 1,18 poin persentase. Konsumsi pemerintah juga masih tumbuh 4,86 persen, meski lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 15,83 persen.
Inflasi Menjadi Tantangan
Di tengah pertumbuhan ekonomi yang kuat, tekanan harga kebutuhan masyarakat masih perlu mendapat perhatian.
Pada Oktober 2026, Kepri mencatat inflasi tahunan sebesar 3,51 persen. Secara bulanan, inflasi mencapai 0,38 persen.
Kenaikan harga sejumlah komoditas hortikultura, seperti cabai merah, cabai rawit, kacang panjang, bawang merah, dan sawi hijau, menjadi pemicu utama.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi 1,36 persen secara bulanan dengan kontribusi 0,40 poin persentase. Cabai merah menjadi komoditas dengan andil terbesar, yakni 0,36 poin persentase.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa menjaga pertumbuhan ekonomi juga membutuhkan pengendalian harga pangan agar daya beli masyarakat tetap terjaga.
BI Perkuat Sektor Pariwisata dan UMKM
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau menyatakan BI akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Di tingkat daerah, BI juga memperkuat kolaborasi dengan pemerintah dan pelaku usaha. Salah satunya melalui Kepri Economic Forum (KEF) 2026 yang berlangsung pada 21–22 Oktober 2026.
Forum tersebut mempertemukan regulator, akademisi, dan pelaku usaha untuk merumuskan strategi penguatan sumber pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Pengembangan pariwisata dan UMKM menjadi salah satu fokus pembahasan. BI mendorong digitalisasi, peningkatan kualitas produk, penguatan destinasi wisata, serta perluasan keterlibatan UMKM dalam rantai pasok industri pariwisata.
Di sisi lain, BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat pengendalian harga melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).
Program tersebut mengacu pada strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Dengan penguatan industri manufaktur, keberlanjutan investasi, serta pengembangan pariwisata dan UMKM, Kepri memiliki sejumlah sumber pertumbuhan untuk menjaga momentum ekonomi.
Tantangannya adalah memastikan pertumbuhan tersebut berjalan seiring dengan stabilitas harga dan peningkatan daya beli masyarakat.
Baca juga:Pertamina Bentuk Satgas Lingkungan Sekolah di Padang Pariaman, Dorong Siswa Ubah Sampah Jadi Peluang
Editor:Zalfirega











