RSUD Embung Fatimah Mulai Bedah Aneurisma Otak, Warga Kepri Tak Perlu Lagi ke Medan atau Jakarta

Jumat, 28 Agustus 2026 - 13:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin bersama Direktur RSUD Embung Fatimah Batam dan para dokter serta perawat, Jumat (28/8/2026). Foto:Rega/matapedia

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin bersama Direktur RSUD Embung Fatimah Batam dan para dokter serta perawat, Jumat (28/8/2026). Foto:Rega/matapedia

68 / 100 Skor SEO

MATAPEDIA6.com, BATAM— Pasien di Kepulauan Riau yang mengalami aneurisma otak kini punya pilihan penanganan di daerah sendiri. RSUD Embung Fatimah Batam untuk pertama kalinya berhasil melakukan operasi clipping aneurisma otak pada Senin, 25 Agustus 2026.

Operasi tersebut menjadi tonggak baru layanan bedah saraf di Kepri. Selama ini, pasien dengan kondisi serupa umumnya harus menjalani rujukan ke Pekanbaru, Medan, hingga Jakarta.

Terobosan itu mendapat perhatian Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin. Saat berkunjung ke Batam, Jumat (28/8/2026), Budi menyempatkan diri mengecek langsung kesiapan layanan RSUD Embung Fatimah, termasuk tenaga medis dan peralatan yang mendukung tindakan berteknologi tinggi.

Budi menilai kemampuan rumah sakit daerah seperti RSUD Embung Fatimah penting untuk memperpendek rantai rujukan. Pemerintah, kata dia, menargetkan sebagian besar pelayanan kesehatan dapat dituntaskan di daerah sehingga pasien tidak harus menempuh perjalanan jauh.

“Supaya kalau orang ada di Batam, tidak perlu dibawa ke Medan atau ke Jakarta. Kalau bisa, 80 sampai 90 persen pelayanan kesehatan itu selesai di daerah,” kata Budi.

Menurut Budi, penguatan layanan tersebut sejalan dengan target pemerintah meningkatkan angka harapan hidup masyarakat Indonesia hingga lebih dari 70 tahun. Salah satu tantangan terbesar ialah penyakit dengan angka kematian tinggi, termasuk stroke.

Stroke membutuhkan penanganan cepat. Keterlambatan dapat meningkatkan risiko kematian maupun kecacatan. Karena itu, pemerintah mendorong rumah sakit daerah memperkuat kemampuan diagnosis hingga tindakan medis lanjutan.

Untuk layanan stroke, rumah sakit setidaknya harus memiliki CT Scan yang memadai. Kemampuan itu kemudian perlu diperkuat dengan layanan kateterisasi dan operasi untuk menangani pasien dengan perdarahan otak.

“Penyakit yang paling banyak menyebabkan kematian, khususnya pada usia lanjut, salah satunya adalah stroke. Karena itu, layanan penanganan stroke harus diperkuat,” ujar Budi.

Direktur RSUD Embung Fatimah, drg Raden Roro Sri Widjayanti Suryandari, mengatakan operasi clipping aneurisma otak pada 25 Agustus menjadi tindakan pertama yang dilakukan di Kepulauan Riau.

Baca juga:Inovasi Nurse-log RSUD Embung Fatimah Raih Juara III Nasional, Pangkas Proses Kredensial Perawat Secara Digital

Tim RSUD Embung Fatimah menjalankan operasi tersebut dengan dukungan program pengampuan dari Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) Prof Dr dr Mahar Mardjono Jakarta.

“Operasi ini merupakan yang pertama kali dilakukan di Kepulauan Riau. Alhamdulillah kami mendapat pengampuan dari Rumah Sakit Pusat Otak Nasional,” kata Roro pada wartawan.

Operasi clipping dilakukan dengan menjepit bagian pangkal aneurisma menggunakan klip khusus. Tindakan itu menghentikan aliran darah menuju bagian pembuluh yang melemah sehingga menekan risiko aneurisma pecah dan menyebabkan perdarahan otak.

Keberhasilan tersebut sekaligus menunjukkan RSUD Embung Fatimah mulai mampu mengembangkan layanan bedah saraf yang sebelumnya hanya tersedia di rumah sakit rujukan luar daerah.

Budi mengatakan pemerintah memang menyiapkan layanan bedah saraf kompleks di tingkat provinsi.

Namun, jika rumah sakit di daerah sudah memiliki dokter dan kemampuan teknis yang memadai, pemerintah akan memberikan dukungan agar layanan itu berkembang.

“Untuk layanan yang lebih kompleks seperti clipping, bypass, dan bedah saraf endoskopik, sebenarnya kita siapkan di tingkat provinsi. Tapi ternyata di beberapa daerah ada potensi dokter dan rumah sakit yang sudah mampu. Kalau memang mampu, tentu kita akan dukung,” ujarnya.

Dukungan pemerintah tidak hanya menyasar peralatan. Budi menekankan kesiapan dokter dan tenaga medis juga menjadi syarat penting agar rumah sakit mampu menjalankan layanan secara mandiri.

“Kalau alatnya dibutuhkan dan dokternya ada, kita bantu. Jangan sampai masyarakat harus menunggu lama atau harus pergi jauh untuk mendapatkan pelayanan,” katanya.

Dokter spesialis bedah saraf RSUD Embung Fatimah, dr Andi Nugraha Sendjaja, mengatakan keberhasilan operasi perdana tersebut tidak terlepas dari pendampingan RSPON.

Menurut Andi, RSUD Embung Fatimah saat ini baru memiliki sekitar 50 persen peralatan yang dibutuhkan untuk melakukan operasi clipping aneurisma secara mandiri.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadiki saat di RSUD Embung Fatimah Batam, Jumat (28/8/2026). Foto:Rega/matapedia

Rumah sakit sudah memiliki CT Scan dengan kemampuan angiografi. Namun, tim masih membutuhkan sejumlah peralatan khusus, termasuk mikroskop bedah saraf dan perangkat endoskopi.

Dalam operasi perdana, sebagian alat masih dipinjam dari rumah sakit lain.

“Untuk operasi kemarin, ada beberapa alat yang masih harus kita pinjam. Ke depan, tadi Pak Menteri sudah menyampaikan akan membantu melengkapi agar kami bisa mandiri,” kata Andi.

Kelengkapan alat menjadi langkah berikutnya agar RSUD Embung Fatimah tidak hanya mampu melakukan operasi perdana, tetapi juga menangani lebih banyak kasus bedah saraf tanpa bergantung pada fasilitas rumah sakit di luar Kepri.

Andi mengatakan kemandirian tersebut akan langsung berdampak kepada pasien dan keluarganya.

Meski biaya pengobatan pasien dapat ditanggung BPJS Kesehatan, keluarga tetap menghadapi biaya transportasi, penginapan, serta kebutuhan lain ketika pasien harus menjalani perawatan di luar daerah.

“Walaupun biaya pengobatan bisa ditanggung BPJS, tetap ada biaya lain yang harus dikeluarkan keluarga ketika pasien dirujuk ke luar daerah,” ujarnya.

Roro menilai penguatan layanan kesehatan memiliki arti khusus bagi Kepri. Karakter wilayah kepulauan dan posisi sebagai daerah perbatasan membuat akses terhadap layanan medis menjadi persoalan tersendiri.

Karena itu, RSUD Embung Fatimah terus mendorong pengembangan layanan penyakit prioritas, mulai dari kanker, jantung, stroke, urologi hingga nefrologi.

“Kalau masyarakat harus terus dirujuk keluar daerah, tentu akan menjadi persoalan. Apalagi bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan ekonomi,” kata Roro.

Menurutnya, masyarakat Kepri membutuhkan rumah sakit daerah yang mampu menangani semakin banyak kasus kompleks tanpa harus memindahkan pasien ke luar provinsi.

“Kita ini daerah terdepan. Sebagai pintu masuk Indonesia, pelayanan kesehatan di sini harus bagus dan harus terus diperkuat,” ujarnya.

Keberhasilan clipping aneurisma otak menjadi salah satu langkah awal. Tantangannya kini bukan lagi sekadar membuktikan bahwa operasi tersebut bisa dilakukan di Batam, tetapi memastikan RSUD Embung Fatimah memiliki dokter, alat, dan sistem pendukung yang cukup untuk melakukannya secara mandiri.

Dengan begitu, operasi perdana 25 Agustus tidak berhenti sebagai catatan sejarah. Layanan itu diharapkan menjadi pintu bagi pasien Kepri untuk mendapatkan penanganan bedah saraf yang lebih cepat tanpa harus menyeberang ke provinsi lain.

Baca juga:Fajar Pergi, Bambang Datang: Menjaga Jejak Hampir 2 Tahun di Rutan Batam

Penulis:Zalfirega|Editor:Miezon

 

Berita Terkait

Bukan Membatasi Kritik, Li Claudia Dorong Komunikasi Terbuka dengan Media
Fajar Pergi, Bambang Datang: Menjaga Jejak Hampir 2 Tahun di Rutan Batam
Sidang Pledoi Dju Seng dalam Kasus Dugaan Perusakan Mangrove Ditunda, Ini Alasannya
Polda Kepri Gagalkan 5 Calon PMI Nonprosedural Berangkat ke Malaysia, 5 Tersangka Ditangkap
Bareskrim Tangkap Pemilik HH Club Planet Batam Yuwanky di Bandara Soetta
BP Batam dan Pemko Tuntaskan 29 Titik Banjir, Li Claudia Chandra Evaluasi Langsung Drainase Kota
Polda Kepri Pastikan Penyidikan Dugaan Kekerasan Terkait PG Djuwita Masih Berjalan dan Periksa Pelapor hingga Ahli Psikologi Forensik
Resmikan GSIH di NDP, Pemko Batam Dorong Anak Muda Buat Teknologi Global

Berita Terkait

Jumat, 28 Agustus 2026 - 13:38 WIB

Bukan Membatasi Kritik, Li Claudia Dorong Komunikasi Terbuka dengan Media

Jumat, 28 Agustus 2026 - 13:19 WIB

RSUD Embung Fatimah Mulai Bedah Aneurisma Otak, Warga Kepri Tak Perlu Lagi ke Medan atau Jakarta

Jumat, 28 Agustus 2026 - 12:05 WIB

Fajar Pergi, Bambang Datang: Menjaga Jejak Hampir 2 Tahun di Rutan Batam

Jumat, 28 Agustus 2026 - 08:16 WIB

Sidang Pledoi Dju Seng dalam Kasus Dugaan Perusakan Mangrove Ditunda, Ini Alasannya

Kamis, 27 Agustus 2026 - 22:37 WIB

Bareskrim Tangkap Pemilik HH Club Planet Batam Yuwanky di Bandara Soetta

Berita Terbaru