Telkom Catat TSR 35,7 Persen di 2025, Laba Tertekan Depresiasi Saat Transformasi Dipercepat

Selasa, 12 Mei 2026 - 11:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Direktur Utama Telkom Dian Siswarini. Foto:Ist

Direktur Utama Telkom Dian Siswarini. Foto:Ist

66 / 100 Skor SEO

MATAPEDIA6.com, JAKARTA— PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk menutup tahun buku 2025 dengan kinerja solid di tengah tekanan industri. Perseroan mencatat total shareholder return (TSR) 35,7%, ditopang capital gain 28,4% dan dividend yield 7,3%, sekaligus menegaskan efektivitas strategi transformasi yang mulai berdampak ke pasar.

Telkom mengantongi pendapatan konsolidasi Rp146,7 triliun. Laba bersih tercatat Rp17,8 triliun dengan margin 12,1%, sementara normalized net income mencapai Rp22,7 triliun. EBITDA menembus Rp72,2 triliun dengan margin 49,2%, atau Rp73,2 triliun secara normalisasi.

Namun, perusahaan secara sadar menekan laba jangka pendek. Telkom mempercepat depresiasi aset sebagai bagian dari agenda total governance reset. Langkah ini memangkas laba bersih 9,5% secara tahunan, tetapi memperkuat transparansi dan akurasi laporan keuangan.

Direktur Utama Dian Siswarini menegaskan, 2025 menjadi titik krusial transformasi. “Strategi TLKM 30 kami jalankan untuk mempercepat visi sebagai penggerak ekosistem digital nasional sekaligus menciptakan nilai jangka panjang,” ujarnya dalam keterangannya, Selasa (12/5/2026).

Telkom mengakselerasi empat pilar transformasi TLKM 30 secara agresif. Perseroan memperkuat tata kelola dan kualitas layanan melalui operational excellence, sambil merampingkan bisnis non-inti untuk meningkatkan efisiensi.

Langkah konkret terlihat dari proses divestasi AdMedika dan TelkoMedika yang kini memasuki tahap Conditional Sale and Purchase Agreement (CSPA). Telkom juga mulai membuka nilai aset melalui fiber carve-out dengan memisahkan bisnis konektivitas ke InfraNexia.

Di saat bersamaan, Telkom mengubah struktur menjadi strategic holding. Model ini memangkas lapisan organisasi dan memfokuskan operasional ke empat segmen utama: B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, dan International.

Segmen B2C Bangkit, ARPU Mulai Pulih

Segmen B2C kembali menunjukkan tenaga. Melalui Telkomsel, Telkom membukukan pendapatan Rp109,2 triliun. Trafik data melonjak 15% dan ARPU mulai pulih sejak paruh kedua 2025.

Telkomsel kini mengunci strategi harga yang lebih presisi dan menjaga kualitas jaringan untuk menekan churn. Ekspansi fixed broadband juga diarahkan lebih selektif, menyesuaikan daya beli masyarakat.

Infrastruktur dan Data Center Jadi Penopang Baru

Di segmen B2B Infrastructure, Telkom mencatat pertumbuhan 9,2% YoY dengan pendapatan Rp8,9 triliun. Perusahaan mengandalkan kekuatan jaringan backbone lebih dari 210.000 km, menara telekomunikasi, hingga layanan satelit.

Bisnis data center yang dikelola NeutraDC terus berkembang, didukung fasilitas hyperscale di Cikarang dan Singapura serta jaringan edge data center NeuCentrIX.

Sementara itu, Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel) mencatat pendapatan Rp9,5 triliun dengan margin EBITDA tinggi 82,2%. Rasio penyewa mencapai 1,57x dari lebih 40 ribu menara, memperkuat posisi sebagai pemain terbesar di Asia Tenggara.

Untuk pasar global, Telin mengelola 27 sistem kabel laut internasional dan mendorong pendapatan wholesale & international sebesar Rp10,7 triliun.

Segmen B2B ICT Tertekan, Telkom Alihkan Strategi

Segmen B2B ICT mencatat pendapatan Rp15,3 triliun, namun menghadapi tekanan akibat efisiensi belanja pemerintah. Telkom merespons dengan mendorong layanan bernilai tambah seperti cybersecurity, AI, dan solusi digital berbasis kemitraan global.

Di sisi investasi, Telkom menjaga disiplin belanja modal Rp27,5 triliun atau 18,8% dari pendapatan. Sebanyak 93% dialokasikan untuk memperkuat infrastruktur dan konektivitas.

Fokus 2026: Percepat Eksekusi, Jaga Momentum

Telkom kini memasuki fase lanjutan transformasi. Perusahaan menargetkan penguatan daya saing dan penciptaan nilai berkelanjutan melalui eksekusi strategi yang lebih terstruktur.

“Dengan disiplin operasional, kami yakin mampu menghadirkan kinerja lebih solid dan memberi manfaat optimal bagi seluruh pemangku kepentingan,” tutup Dian.

Baca juga;Ketua DPRD Kepri Iman Sutiawan Ditilang Usai Naik Moge Tanpa Helm

Editor:Zalfirega 

Berita Terkait

BI Pertahankan Suku Bunga 5,75 Persen, Kredit Perbankan Tumbuh 13,65 Persen pada Agustus 2026
OJK Buka Kepemilikan Saham Bursa Efek untuk Investor dan Publik
Gebyar Melayu Pesisir 2026 Bidik Pasar Lebih Luas bagi UMKM Kepri
General Cargo Batu Ampar Tembus 102 Persen Target Tahunan, Kinerja Pelabuhan Batam Tumbuh 8 Persen
OJK Ambil Alih Pengawasan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis Mulai 2027
Rp2,44 Triliun RKA BP Batam 2027, Infrastruktur dan Investasi Jadi Fokus
Dari Expo ke Transaksi, BI Kepri Perluas Pasar UMKM Lewat Gebyar Melayu Pesisir 2026
Padi Reborn Tampil di GMP 2026, BI Kepri Bidik Perputaran Ekonomi UMKM
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 20:50 WIB

BI Pertahankan Suku Bunga 5,75 Persen, Kredit Perbankan Tumbuh 13,65 Persen pada Agustus 2026

Senin, 21 September 2026 - 13:30 WIB

OJK Buka Kepemilikan Saham Bursa Efek untuk Investor dan Publik

Sabtu, 19 September 2026 - 15:21 WIB

Gebyar Melayu Pesisir 2026 Bidik Pasar Lebih Luas bagi UMKM Kepri

Sabtu, 19 September 2026 - 11:04 WIB

General Cargo Batu Ampar Tembus 102 Persen Target Tahunan, Kinerja Pelabuhan Batam Tumbuh 8 Persen

Jumat, 18 September 2026 - 20:05 WIB

OJK Ambil Alih Pengawasan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis Mulai 2027

Berita Terbaru