MATAPEDIA6.com, JAKARTA-Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menegaskan kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan Indonesia tetap solid hingga akhir 2025, meski tekanan global terus meningkat. Sinergi kebijakan antarlembaga menjadi kunci utama menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.
KSSK yang terdiri dari Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Ketua Dewan Komisioner OJK, dan Ketua Dewan Komisioner LPS menilai koordinasi kebijakan berhasil meredam dampak ketegangan geopolitik, perang dagang, serta volatilitas pasar global yang meningkat sejak awal 2026.
Dari rilis resmi yang disampakian Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Selasa (27/1/2026). KSSK mencatat pertumbuhan ekonomi nasional tetap terjaga. Pada 2025, ekonomi tumbuh sekitar 5,2 persen dan diproyeksikan meningkat menjadi 5,4 persen pada 2026 ditopang konsumsi domestik, stimulus fiskal, kebijakan moneter akomodatif, serta penguatan investasi strategis, termasuk hilirisasi SDA dan percepatan proyek nasional.
Aktivitas ekonomi menunjukkan sinyal positif. PMI manufaktur berada di zona ekspansi, penjualan ritel tumbuh, neraca perdagangan mencatat surplus, serta likuiditas perbankan tetap longgar.
Stabilitas makro tetap terjaga
KSSK memastikan inflasi tetap terkendali dalam target 2,5±1 persen, cadangan devisa menguat hingga USD156,5 miliar, dan sistem perbankan berada dalam kondisi sangat sehat dengan CAR 25,87 persen. Kredit perbankan tumbuh 9,6 persen yoy, ditopang kredit investasi yang melesat lebih dari 20 persen.
Di pasar keuangan, kepercayaan investor menguat. Yield SBN turun signifikan, IHSG mencatat rekor baru, dan transaksi pasar modal terus meningkat sepanjang 2025.
APBN jadi peredam guncangan global
Pemerintah mengoptimalkan APBN sebagai bantalan ekonomi. Belanja negara difokuskan untuk menjaga daya beli masyarakat, memperkuat konsumsi, dan mendorong pertumbuhan, melalui program strategis seperti Makan Bergizi Gratis, stimulus ekonomi nasional, koperasi Merah Putih, pembangunan infrastruktur, serta perlindungan sosial langsung ke masyarakat.
BI, OJK dan LPS perkuat stabilitas sistem keuangan
Bank Indonesia memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah, menjaga likuiditas, dan mendorong pertumbuhan kredit melalui bauran kebijakan moneter dan makroprudensial. OJK mengamankan stabilitas sektor jasa keuangan, memperketat pengawasan risiko, serta melindungi masyarakat dari kejahatan keuangan dan investasi ilegal.
LPS memperkuat intermediasi perbankan, menjaga kepercayaan publik, dan meningkatkan ketahanan sistem perbankan, termasuk penguatan keamanan siber BPR/BPRS.
KSSK siaga hadapi risiko global
KSSK menegaskan komitmen untuk terus meningkatkan koordinasi kebijakan, memperkuat respons terpadu (coordinated policy response), serta menjaga kewaspadaan terhadap risiko global, geopolitik, dan pasar keuangan internasional.
“KSSK siap menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan demi mendukung program strategis nasional dan Asta Cita Pemerintah,” tegas KSSK dalam pernyataan resminya.
Editor:Miezon


















