Konflik Timur Tengah Panaskan Harga Energi, BI Kepri Waspadai Dampak ke Indonesia

Selasa, 3 Maret 2026 - 13:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Rony Widijarto. Foto:Rega/matapedia

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Rony Widijarto. Foto:Rega/matapedia

MATAPEDIA6.com, BATAM– Konflik geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran bukan sekadar isu luar negeri. Gejolak di Timur Tengah langsung menghantam pasar global dan menyeret ekonomi dalam negeri ke pusaran risiko.

Kawasan yang menjadi urat nadi produksi minyak dunia itu kembali memantik lonjakan harga energi. Setiap eskalasi memicu spekulasi, memperketat pasokan, dan mendorong harga minyak serta gas merangkak naik. Pasar merespons dalam hitungan detik. Biaya produksi terkerek. Tekanan inflasi menguat.

Negara produsen seperti Arab Saudi, Iran, dan Uni Emirat Arab kini berdiri di tengah badai ketidakpastian.

Gangguan distribusi dari kawasan tersebut bisa memantik reli harga minyak global dalam waktu singkat. Bagi Indonesia, efeknya bukan teori. Harga energi global yang melonjak segera menekan struktur biaya domestik.

Baca juga:KURMA 2026 Dorong UMKM Kepri dan Perkuat Ekonomi Syariah di Ramadan 1447 H

Menyikapi itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Rony Widijarto, mengingatkan posisi Indonesia masih sebagai net importir minyak. Artinya, setiap kenaikan harga minyak dunia langsung membebani fiskal negara.

“Setiap kenaikan harga minyak global akan menekan struktur biaya dalam negeri. Dampaknya terasa pada APBN, terutama subsidi energi dan kompensasi BBM,” kata Rony saat berbincang dengan media, Selasa (3/3/2026).

Ia menilai pemerintah harus bergerak cepat menjaga keseimbangan anggaran. Jika harga energi bertahan tinggi, ruang fiskal menyempit. Negara dipaksa menggelontorkan anggaran lebih besar demi menahan lonjakan harga bahan bakar dan menjaga daya beli masyarakat.

Tekanan juga merambat ke sektor riil. Industri penerbangan menghadapi kenaikan avtur. Manufaktur dan logistik menanggung ongkos distribusi yang lebih mahal. Rantai biaya bergerak naik.

“Ketika ongkos produksi meningkat, pelaku usaha akan menyesuaikan harga jual. Di titik itu, inflasi berisiko terdorong lebih tinggi,” ujar Rony.

Pasar keuangan pun tak kebal. Setiap ketegangan geopolitik mendorong investor global memburu aset aman. Arus modal berpotensi keluar dari negara berkembang, indeks saham tertekan, dan rupiah menghadapi tekanan depresiasi.

Meski begitu, Bank Indonesia tidak bersikap reaktif. Otoritas moneter memperkuat bauran kebijakan fiskal dan moneter bersama pemerintah. Cadangan devisa dijaga solid, stabilitas nilai tukar dikawal ketat, dan koordinasi lintas lembaga terus dipererat.

Rony melihat krisis ini sekaligus menjadi alarm. Indonesia harus mempercepat transisi energi dan mengurangi ketergantungan pada impor. Ketahanan energi, tegasnya, menjadi fondasi stabilitas jangka panjang.

Konflik di Timur Tengah memang terjadi ribuan kilometer dari Tanah Air. Namun ketika harga minyak melonjak, dampaknya merembet hingga ke dapur rumah tangga. Dalam pusaran ketidakpastian global, kecepatan respons dan disiplin kebijakan menjadi benteng utama menjaga ekonomi tetap stabil.

Baca juga:Dari Barcelona ke Indonesia, Indosat Pamer 5G Berbasis AI dan Siap Terapkan di Tanah Air

Editor:Zalfirega

Berita Terkait

Polisi Tetapkan 3 Tersangka Bentrokan Setokok, 2 Orang Tewas dan 7 Luka
Dari Karo SDM hingga Kapolres, 6 Jabatan di Polda Kepri Berganti
Ketua Umum PK NTT Sebut Bentrok Setokok Bukan Konflik Suku, Minta Warga Tak Terprovokasi
Polisi Usut Bentrokan Konflik Lahan di Batam, 6 Orang Diamankan
Nasib Ribuan Pekerja Ghim Li di Ujung Tanduk, Disnaker Minta Hak Dibayar Dulu
PLN Batam Raih Tiga Penghargaan IQSA 2026, Teknologi Jadi Andalan Perkuat Keselamatan Kerja
Pulang ke Batam, Angela Lillo Bawa Identitas Kota Kelahiran ke Miss Global 2026 Thailand
DPRD Batam Sahkan Perubahan APBD 2026, Anggaran Naik Rp294 Miliar

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 10:26 WIB

Polisi Tetapkan 3 Tersangka Bentrokan Setokok, 2 Orang Tewas dan 7 Luka

Selasa, 15 September 2026 - 13:30 WIB

Dari Karo SDM hingga Kapolres, 6 Jabatan di Polda Kepri Berganti

Selasa, 15 September 2026 - 08:22 WIB

Ketua Umum PK NTT Sebut Bentrok Setokok Bukan Konflik Suku, Minta Warga Tak Terprovokasi

Senin, 14 September 2026 - 23:43 WIB

Polisi Usut Bentrokan Konflik Lahan di Batam, 6 Orang Diamankan

Senin, 14 September 2026 - 16:58 WIB

Nasib Ribuan Pekerja Ghim Li di Ujung Tanduk, Disnaker Minta Hak Dibayar Dulu

Berita Terbaru