MATAPEDIA6.com, BATAM — Pemerintah Kota Batam memastikan tidak akan melepas begitu saja Wahyudi, pria telantar yang ditemukan Wali Kota Batam Amsakar Achmad dalam kondisi sakit di kawasan Cikitsu, Batam Center beberapa hari lalu.
Setelah mengevakuasi dan membawanya ke Rumah Sakit Badan Pengusahaan (RSBP) Batam, pemerintah berkomitmen mendampingi proses pengobatan hingga tuntas, bahkan menanggung biaya kepulangannya ke kampung halaman.
Kepala Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat (Dinsos PM) Kota Batam, Zulkifli Aman, mengatakan tim medis RSBP masih mendalami penyakit yang diderita Wahyudi. Dugaan awal mengarah pada kusta, namun kepastian diagnosis masih menunggu hasil pemeriksaan dokter.
“Sekarang sudah ditangani di RSBP. Nanti tim kesehatan akan memastikan apakah benar kusta atau penyakit lain. Kami akan menangani Pak Wahyudi sampai selesai,” kata Zulkifli kepada wartawan, Selasa (28/7/2026).
Karena diduga mengidap penyakit menular, Wahyudi untuk sementara menjalani perawatan di ruang terpisah sambil menunggu hasil pemeriksaan medis. Menurut Zulkifli, seluruh langkah penanganan akan mengikuti rekomendasi dokter.
“Kalau memang harus diisolasi dalam satu ruangan selama beberapa waktu, tentu kami ikuti sesuai arahan tim medis,” ujarnya.
Zulkifli menjelaskan, biaya pengobatan tidak menjadi kendala karena Wahyudi masih terdaftar sebagai peserta aktif BPJS Kesehatan melalui program Pemerintah Kota Batam. Dari hasil penelusuran, Wahyudi merupakan pemegang KTP Batam dan telah lama tinggal di kota itu.
Ia menduga kondisi ekonomi yang sulit serta minimnya dukungan keluarga membuat Wahyudi hidup terlantar hingga akhirnya ditemukan warga dalam keadaan sakit.
Kasus Wahyudi bermula pada Minggu (27/7), saat Wali Kota Batam Amsakar Achmad menghubungi Zulkifli dan meminta Dinsos PM segera mengevakuasi seorang pria telantar yang membutuhkan pertolongan.
“Pak Wali menelepon saya dan meminta orang telantar yang sedang sakit itu segera dijemput, dirawat, serta dikoordinasikan dengan Dinas Kesehatan. Hari itu juga langsung kami tindak lanjuti,” ujarnya.
Baca juga:PN Batam Resmikan Gedung Arsip dan Musala Baitus Shalihin, Perkuat Pelayanan Pencari Keadilan
Tim Reaksi Cepat (TRC) Dinsos PM langsung menuju lokasi menggunakan ambulans. Selama proses evakuasi, petugas mengenakan alat pelindung diri (APD) karena pasien diduga mengidap kusta.
Setiba di RSBP Batam, tim medis langsung melakukan pemeriksaan. Dinsos PM juga berkoordinasi dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) untuk menelusuri identitas Wahyudi setelah diketahui kartu identitasnya hilang.
Hasil penelusuran menunjukkan Wahyudi merupakan warga Batam. Meski sakit, ia masih bisa berkomunikasi dan mengaku memiliki keluarga di Tembilahan, Provinsi Riau.
Zulkifli menggambarkan kondisi Wahyudi saat pertama kali ditemukan cukup memprihatinkan.
“Dua jarinya sudah putus, kedua kakinya bengkak, dan kulitnya mengelupas. Karena itu kami akan menangani hingga sembuh,” katanya.
Sementara itu, Wakil Direktur Pelayanan Medis dan Keperawatan RSBP Batam, Muhammad Yanto, mengatakan tim dokter belum menetapkan diagnosis akhir karena masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium kulit.
“Kondisi pasien saat ini menunjukkan perkembangan yang baik dibandingkan saat pertama kali datang ke rumah sakit. Kami tetap memantau secara intensif,” kata Yanto.
Setelah kondisi Wahyudi membaik dan dokter memastikan penyakitnya tidak lagi menular, Pemerintah Kota Batam akan memfasilitasi kepulangannya ke kampung halaman.
“Kami baru akan memulangkan setelah kondisinya benar-benar membaik, paling tidak sekitar 85 sampai 90 persen pulih dan dipastikan tidak menular. Biaya tiket dan uang saku selama perjalanan akan ditanggung Pemerintah Kota Batam,” ujar Zulkifli.
Ia menambahkan, Dinsos PM juga akan berkoordinasi dengan keluarga agar Wahyudi dapat dijemput setibanya di daerah asal.
Baca juga:OJK Genjot Digitalisasi Keuangan untuk Perluas Akses Pembiayaan UMKM Indonesia Timur
Editor:Zalfirega










