BI Pertahankan Suku Bunga 5,75 Persen, Kredit Perbankan Tumbuh 13,65 Persen pada Agustus 2026

Rabu, 23 September 2026 - 20:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Gubernur BI Destry Damayanti tengah. Foto:Istimewa

Gubernur BI Destry Damayanti tengah. Foto:Istimewa

63 / 100 Skor SEO

MATAPEDIA6.com, JAKARTA— Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 22–23 September 2026.

Di tengah tekanan pasar keuangan global, bank sentral juga memperkuat insentif investasi, menjaga likuiditas perbankan, dan mendorong penyaluran kredit untuk menopang pertumbuhan ekonomi.

Gubernur BI Destry Damayanti, mengatakan bahwa suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75% dan Lending Facility sebesar 6,50%. Kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

“Dari sisi dunia usaha, arah kebijakan BI terlihat melalui upaya memperkuat pembiayaan sektor riil dan menarik aliran modal asing. Bank sentral juga melanjutkan kebijakan makroprudensial yang akomodatif agar perbankan memiliki ruang untuk meningkatkan penyaluran kredit tanpa mengabaikan stabilitas sistem keuangan,” ujarnya dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Rabu (23/9/2026).

Intermediasi perbankan menunjukkan perkembangan positif. BI mencatat kredit perbankan pada Agustus 2026 tumbuh 13,65% secara tahunan atau year-on-year (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan Juli 2026 sebesar 13,58%.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh tiga kelompok penggunaan kredit. Kredit investasi tumbuh 25,11%, kredit modal kerja 11,45%, sedangkan kredit konsumsi meningkat 5,07% secara tahunan.

BI menilai kebijakan makroprudensial yang longgar turut mendukung perkembangan tersebut, termasuk melalui optimalisasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM).

Baca juga:Air Kembali Lancar di GMP Tahap 2 Batam, Warga Apresiasi BP Batam

Hingga minggu pertama September 2026, insentif KLM yang diperoleh perbankan mencapai Rp461,2 triliun.

“Dari jumlah tersebut, Rp338,2 triliun dialokasikan melalui KLM financing channel dan Rp123 triliun melalui KLM Pendalaman Pasar Uang (PPU),” ujarnya

Minat perbankan menyalurkan kredit atau lending appetite juga masih longgar. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 10,94% secara tahunan.

BI memprakirakan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 berada dalam kisaran 8–12%. Bank sentral akan terus mengoptimalkan kebijakan makroprudensial untuk mendorong pembiayaan ekonomi dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan.

Di sektor investasi, BI memperkuat insentif untuk menarik aliran modal asing sekaligus menjaga stabilitas rupiah.

Langkah ini dilakukan ketika ketidakpastian pasar keuangan global masih tinggi dan preferensi investor terhadap aset di negara berkembang menghadapi tekanan.

BI memperluas transaksi pendanaan luar negeri yang dapat memperoleh insentif pengurangan premi melalui instrumen Swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

Cakupannya tidak lagi terbatas pada investasi portofolio asing, tetapi juga meliputi pinjaman luar negeri oleh bank dan investasi langsung asing atau foreign direct investment (FDI).

Bank sentral juga memperkuat strategi intervensi valuta asing melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri serta transaksi spot dan DNDF di pasar domestik.

Meski rupiah sempat menguat pada Agustus hingga pertengahan September, tekanan kembali muncul seiring meningkatnya ketidakpastian global. Pada 22 September 2026, rupiah tercatat Rp17.855 per dolar AS, melemah 0,78% dibandingkan posisi akhir Agustus.

BI menyatakan akan terus mengoptimalkan instrumen moneter untuk menjaga stabilitas rupiah dan kecukupan likuiditas domestik.

Pertumbuhan ekonomi diprakirakan mencapai 4,9–5,7 persen

BI memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 4,9–5,7% sepanjang 2026. Konsumsi rumah tangga masih terjaga, didukung stimulus fiskal pemerintah serta mulai menguatnya keyakinan dan ekspektasi penghasilan konsumen.

Investasi juga tetap tumbuh, terutama ditopang investasi pemerintah. Namun, BI menilai peran investasi swasta masih perlu ditingkatkan agar dapat memperkuat sumber pertumbuhan ekonomi.

Dari sektor eksternal, ekspor nonmigas meningkat sejalan dengan permintaan dari sejumlah negara. BI juga menilai Indonesia perlu mengoptimalkan manfaat kenaikan harga komoditas ekspor.

Sementara itu, prospek global masih dibayangi pertumbuhan yang lemah dan tekanan inflasi. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 sekitar 3%, dengan inflasi global sekitar 4,6%.

Ketegangan di Timur Tengah turut mendorong kenaikan harga minyak yang sempat menyentuh 132 dolar AS per barel sebelum kembali turun ke bawah 100 dolar AS per barel pada 22 September 2026.

Di Amerika Serikat, suku bunga Federal Funds Rate (FFR) naik menjadi 3,75–4% pada September 2026, dengan kemungkinan kenaikan lanjutan yang masih tinggi.

Kondisi tersebut mendorong BI memperkuat koordinasi kebijakan dengan pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk menjaga ketahanan ekonomi domestik.

Cadangan devisa mencapai 146,5 miliar dolar AS

Ketahanan eksternal Indonesia juga menjadi perhatian BI. Neraca perdagangan pada Juli 2026 mencatat surplus 0,12 miliar dolar AS setelah mengalami defisit 0,45 miliar dolar AS pada bulan sebelumnya.

Aliran investasi portofolio asing pada triwulan III 2026 hingga 21 September mencatat net inflows sebesar 0,4 miliar dolar AS. Arus masuk tersebut ditopang penerbitan global bond pemerintah dan investasi pada Surat Berharga Negara (SBN).

Posisi cadangan devisa pada akhir Agustus 2026 mencapai 146,5 miliar dolar AS. Jumlah itu setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Transaksi digital tumbuh 40,36 persen

Aktivitas ekonomi digital juga mencatat pertumbuhan tinggi. BI melaporkan volume transaksi pembayaran digital mencapai 6,11 miliar transaksi pada Agustus 2026, tumbuh 40,36% secara tahunan.

Transaksi melalui mobile banking meningkat 47,08%, sedangkan transaksi melalui internet banking tumbuh 15,12%. Transaksi QRIS juga terus berkembang dengan pertumbuhan 67,22%, didukung peningkatan jumlah pengguna dan merchant.

Pada infrastruktur pembayaran, BI-FAST mencatat 549 juta transaksi atau tumbuh 37,72% secara tahunan, dengan nilai transaksi mencapai Rp1.346 triliun.

Adapun nilai transaksi BI-RTGS mencapai Rp16.545 triliun, turun 3,64% secara tahunan. Volumenya tercatat 0,86 juta transaksi atau turun 1,78%.

Untuk memperluas penggunaan pembayaran digital, BI bersama pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan asosiasi industri akan menyelenggarakan Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia dan Indonesia Fintech Summit and Expo (FEKDI dan IFSE) pada 24–26 September 2026.

Agenda tersebut mencakup perluasan kerja sama QRIS antarnegara, inisiatif Indonesia Travel Pack, serta penguatan digitalisasi daerah.

Inflasi tetap dalam sasaran, tetapi harga pangan perlu dicermati

Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Agustus 2026 tercatat 3,19% secara tahunan, naik dari 2,88% pada Juli. Kenaikan terutama berasal dari kelompok harga pangan bergejolak atau volatile food yang mencapai 4,06%, dipengaruhi harga daging ayam ras, cabai rawit, dan beras.

Inflasi inti tetap terjaga di level 2,92%, sedangkan inflasi kelompok harga yang diatur pemerintah atau administered prices turun menjadi 3,32%.

BI menegaskan akan menjaga inflasi dalam sasaran 2,5±1% pada 2026 dan 2027. Bank sentral juga memperkuat koordinasi dengan pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah untuk mengendalikan harga pangan, termasuk mengantisipasi dampak El Nino.

Melalui bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran, BI berupaya menjaga stabilitas ekonomi sekaligus memperluas dukungan terhadap pembiayaan usaha, investasi, dan aktivitas ekonomi digital.

Baca juga:Gebyar Melayu Pesisir 2026 Bidik Pasar Lebih Luas bagi UMKM Kepri

Editor:Zalfirega

 

 

 

 

Berita Terkait

Gebyar Melayu Pesisir 2026 Bidik Pasar Lebih Luas bagi UMKM Kepri
General Cargo Batu Ampar Tembus 102 Persen Target Tahunan, Kinerja Pelabuhan Batam Tumbuh 8 Persen
Rp2,44 Triliun RKA BP Batam 2027, Infrastruktur dan Investasi Jadi Fokus
Dari Expo ke Transaksi, BI Kepri Perluas Pasar UMKM Lewat Gebyar Melayu Pesisir 2026
Padi Reborn Tampil di GMP 2026, BI Kepri Bidik Perputaran Ekonomi UMKM
Dari Sampah, Energi hingga Kain Tradisional: Menelusuri Jejak Program Pemberdayaan Pertamina di Batam
Bukan Cuma Industri, Batam Kini Bidik Investasi Kesehatan Berstandar Internasional
STANIA Gandeng Asahi Solder, Timah Indonesia Dibidik Naik Kelas ke Industri Elektronik

Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 20:50 WIB

BI Pertahankan Suku Bunga 5,75 Persen, Kredit Perbankan Tumbuh 13,65 Persen pada Agustus 2026

Sabtu, 19 September 2026 - 15:21 WIB

Gebyar Melayu Pesisir 2026 Bidik Pasar Lebih Luas bagi UMKM Kepri

Sabtu, 19 September 2026 - 11:04 WIB

General Cargo Batu Ampar Tembus 102 Persen Target Tahunan, Kinerja Pelabuhan Batam Tumbuh 8 Persen

Jumat, 18 September 2026 - 11:25 WIB

Rp2,44 Triliun RKA BP Batam 2027, Infrastruktur dan Investasi Jadi Fokus

Rabu, 16 September 2026 - 10:42 WIB

Dari Expo ke Transaksi, BI Kepri Perluas Pasar UMKM Lewat Gebyar Melayu Pesisir 2026

Berita Terbaru