MATAPEDIA6.com, BATAM — Batam masuk jajaran 10 pelabuhan dunia dengan pertumbuhan konektivitas pelayaran tertinggi dalam satu dekade terakhir.
UN Trade and Development (UNCTAD) menempatkan Batam di peringkat keenam dalam daftar pelabuhan dengan pertumbuhan Port Liner Shipping Connectivity Index (PLSCI) tertinggi pada periode Kuartal II 2016 hingga Kuartal II 2026.
Catatan UNCTAD tersebut memperlihatkan peningkatan konektivitas pelabuhan Batam dalam jaringan pelayaran global.
Sepanjang periode tersebut, pelabuhan-pelabuhan yang masuk daftar mencatat pertumbuhan konektivitas sekitar 274 persen hingga 697 persen, di luar tiga pelabuhan teratas yang mencatat pertumbuhan lebih tinggi.
UNCTAD mencatat Malaga, Spanyol, sebagai pelabuhan dengan pertumbuhan persentase PLSCI tertinggi. Setelah itu, daftar tersebut mencakup Puerto Bolivar di Ekuador, Aliaga (Nemrut) di Turki, Pulau Batam di Indonesia, Zhapu di Tiongkok, Chabahar di Iran, Arkhangelsk di Rusia, Port Hueneme di Amerika Serikat, Haugesund di Norwegia, dan Derince di Turki.
Bagi Batam, perkembangan tersebut memperkuat perannya sebagai salah satu simpul perdagangan internasional Indonesia. Posisi geografis yang berada di jalur pelayaran strategis menjadi salah satu modal utama untuk mengembangkan konektivitas tersebut.
Baca juga:145 TKA Diperiksa Imigrasi di KEK Tanjung Sauh, 1.800 Pekerja Lokal Tercatat
Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Amsakar Achmad, mengatakan posisi geografis saja tidak cukup untuk mendorong pertumbuhan investasi dan industri. Menurutnya, Batam juga membutuhkan infrastruktur pelabuhan yang mampu mengikuti kebutuhan dunia usaha.
“Keunggulan geografis saja tidak cukup. Kita harus memastikan pelabuhan dan infrastruktur pendukung terbangun maksimal sehingga aktivitas investasi dan industri dapat tumbuh dan memberikan manfaat kepada ekonomi daerah dan masyarakat,” ujar Amsakar, Selasa (29/9/2026).
Pertumbuhan konektivitas itu juga terlihat dari peningkatan aktivitas layanan direct call internasional di Terminal Peti Kemas (TPK) Batu Ampar.
Sepanjang Januari–Mei 2026, TPK Batu Ampar melayani 106 kunjungan kapal melalui layanan direct call internasional. Angka tersebut naik 212 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencatat 34 kunjungan kapal.
Volume peti kemas melalui layanan direct call juga meningkat. Pada Januari–Mei 2026, volume mencapai 58.237 TEUs, naik 125 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat 25.904 TEUs.
Amsakar mengatakan peningkatan tersebut menunjukkan semakin terbukanya akses Batam terhadap jaringan perdagangan internasional.
“Ini menunjukkan bahwa konektivitas Batam terus berkembang dan akses langsung menuju jaringan perdagangan internasional semakin kuat,” kata Amsakar.
Namun, konektivitas Batam tidak hanya bergerak melalui jalur laut. Pemerintah dan BP Batam juga memperkuat konektivitas digital untuk menopang pertumbuhan industri berbasis teknologi.
Salah satu pengembangan tersebut hadir melalui Nongsa–Changi Cable (NCC) yang mendarat di Batam pada 20 Juli 2026.
Kabel bawah laut itu menghubungkan Nongsa Digital Park di Batam dengan Changi, Singapura, melalui 24 pasang serat optik. Infrastruktur tersebut memperkuat konektivitas digital Indonesia–Singapura sekaligus mendukung kebutuhan pusat data, komputasi awan, kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI), serta interkoneksi antarpusat data.
Pengembangan konektivitas laut dan digital membuat Batam tidak hanya mengandalkan posisi geografis sebagai keunggulan. Infrastruktur fisik dan digital kini menjadi bagian penting dalam memperkuat daya saing kawasan.
“Kita ingin Batam semakin terhubung. Bukan hanya terhubung secara fisik melalui pelabuhan dan jalur perdagangan, tetapi juga terhubung secara digital. Keduanya akan menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem investasi dan industri yang memberi kemanfaatan bagi ekonomi kita,” ungkap Amsakar.
Baca juga:Pertamina dan Kodam I/Bukit Barisan Perkuat Koordinasi Distribusi Energi di Sumatera Utara
Editor:Redaksi











