MATAPEDIA6.com, JAKARTA— Bursa Efek Indonesia (BEI) menyiapkan anggaran Rp596,4 miliar untuk menjalankan 51 program kerja sepanjang 2027.
Melalui rencana tersebut, BEI membidik rata-rata nilai transaksi harian saham mencapai Rp21 triliun, dengan proyeksi pendapatan perusahaan tumbuh 14,16% dan laba bersih naik 22,76%.
Rencana bisnis itu mendapat persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) BEI 2026, Rabu (28/10/2026).
Rapat tersebut dihadiri 88 pemegang saham atau 98,88% dari seluruh pemegang saham yang memiliki hak suara.
Selain menyepakati Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) 2027, pemegang saham menyetujui perubahan Anggaran Dasar untuk mendukung demutualisasi bursa serta penggunaan saldo laba ditahan perusahaan.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyebut pengembangan produk, peningkatan transparansi, perlindungan investor, dan penguatan likuiditas menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperluas aktivitas pasar modal Indonesia.
“Dalam RKAT 2027, BEI memproyeksikan pendapatan mencapai Rp2,59 triliun, meningkat 14,16% dibandingkan RKAT 2026 setelah revisi,” ujarnya dalam keterangannya, Rabu (28/10/2026).
BEI mengandalkan tiga sumber pertumbuhan utama, yakni peningkatan aktivitas transaksi efek, jasa pencatatan efek, serta layanan data kebursaan yang terus berkembang.
Baca juga:BEI Sesuaikan Batas ARB Saham Murah, Ini Aturan Baru yang Berlaku
Perusahaan juga menargetkan laba bersih Rp563,90 miliar atau meningkat 22,76% dibandingkan target dalam RKAT 2026-Revisi. Sementara itu, total aset diproyeksikan mencapai Rp9,12 triliun dengan ekuitas Rp7,66 triliun.
Untuk menopang pertumbuhan bisnis dan memperkuat infrastruktur, BEI mengalokasikan belanja investasi Rp670,62 miliar. Angka ini meningkat 161,82% dibandingkan RKAT 2026-Revisi.
Alokasi anggaran terbesar dalam RKAT 2027 akan diarahkan pada penguatan dan optimalisasi aset teknologi informasi. Langkah ini menjadi bagian dari upaya BEI meningkatkan kapasitas infrastruktur sekaligus mendukung kebutuhan pasar modal pada masa mendatang.
Transaksi saham ditargetkan Rp21 triliun per hari
Dari sisi aktivitas pasar, BEI menetapkan target rata-rata nilai transaksi harian saham sebesar Rp21 triliun pada 2027.
Sebagai pembanding, rata-rata nilai transaksi harian saham hingga 23 Oktober 2026 mencapai Rp20,5 triliun.
Dengan demikian, target 2027 tersebut sekitar 2,44% lebih tinggi dibandingkan capaian rata-rata sementara pada tahun ini.
BEI juga membidik pencatatan 905 efek baru, mencakup saham, efek bersifat utang dan sukuk (EBUS), serta instrumen efek lainnya.
Hingga 23 Oktober 2026, jumlah efek baru yang tercatat mencapai 877. Artinya, target tahun depan menuntut penambahan 28 efek dibandingkan capaian sementara tersebut.
Pada sisi investor, BEI menargetkan rata-rata 1,3 juta investor aktif setiap bulan. Hingga 23 Oktober 2026, jumlah investor aktif bulanan tercatat sebanyak 1.388.494 investor.
Data tersebut menunjukkan jumlah investor aktif bulanan pada periode pembanding sudah melampaui angka target rata-rata yang dicantumkan BEI untuk 2027.
Namun, realisasi akhir tetap bergantung pada definisi pengukuran dan periode perhitungan yang digunakan perusahaan.
Saldo laba ditahan Rp3,56 triliun dialokasikan untuk dua kebutuhan
Dalam RUPSLB, pemegang saham juga menyetujui penggunaan saldo laba ditahan berdasarkan laporan keuangan auditan untuk periode yang berakhir hingga 30 Juni 2026.
BEI mengalokasikan Rp2 triliun sebagai dana cadangan operasional dan pengembangan perusahaan.
Penggunaan dana tersebut mengikuti ketentuan Pasal 26 ayat (2) Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 13 Tahun 2026 tentang Pemegang Saham Bursa Efek.
Selain itu, BEI menyetujui pembagian dividen tunai khusus sebesar Rp1,564 triliun kepada pemegang saham yang berhak berdasarkan Daftar Pemegang Saham per 27 Oktober 2026.
Dengan demikian, kedua alokasi tersebut mencapai Rp3,564 triliun.
Persetujuan penggunaan saldo laba ditahan untuk dana cadangan dan dividen menjadi salah satu keputusan keuangan penting dalam RUPSLB kali ini.
Demutualisasi bursa masuk agenda perubahan Anggaran Dasar
Pemegang saham turut menyetujui perubahan sejumlah ketentuan Anggaran Dasar BEI sebagai bagian dari persiapan demutualisasi bursa.
Langkah ini berkaitan dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2026 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 mengenai Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan serta POJK Nomor 13 Tahun 2026 tentang Pemegang Saham Bursa Efek.
BEI menyatakan tetap menjaga independensi dalam seluruh tahapan persiapan, proses, dan implementasi demutualisasi.
Perusahaan juga akan berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), lembaga negara, institusi pemerintah, serta pemangku kepentingan lainnya.
Perubahan Anggaran Dasar tersebut belum langsung berlaku setelah keputusan RUPSLB. BEI masih harus memperoleh persetujuan OJK serta persetujuan atau penerimaan pemberitahuan perubahan Anggaran Dasar dari Menteri Hukum Republik Indonesia sesuai ketentuan yang berlaku.
Perkuat likuiditas dan perlindungan investor
Sepanjang 2026, BEI bersama lembaga Self-Regulatory Organization (SRO), dengan dukungan OJK dan pemangku kepentingan pasar modal, telah menjalankan sejumlah inisiatif untuk memperkuat perdagangan dan perlindungan investor.
Pada sisi transparansi, BEI menyempurnakan metodologi High Shareholding Concentration (HSC) pada 14 Juli 2026 dan meluncurkan IDX Green Equity Designation pada 31 Juli 2026.
BEI kemudian menerbitkan ketentuan baru Papan Pemantauan Khusus pada 28 September 2026 serta menyempurnakan tahap kedua Peraturan I-A pada 9 Oktober 2026 untuk memperkuat standar pencatatan saham dan kualitas perusahaan tercatat.
Dari sisi likuiditas, BEI menyempurnakan Program Liquidity Provider Saham pada 25 September 2026. Tiga hari kemudian, bursa menyesuaikan harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1.
BEI juga menerapkan mekanisme Intraday Short Selling (IDSS) pada 1 Oktober 2026 dan menyesuaikan sementara batas bawah Auto Rejection (ARB) saham menjadi 7% secara asimetris untuk periode 19 Oktober hingga 31 Desember 2026.
Di sisi pengembangan produk, BEI mencatat tujuh produk exchange-traded fund (ETF) emas dari tujuh manajer investasi.
Jeffrey mengatakan BEI akan melanjutkan berbagai inisiatif tersebut melalui program kerja yang terarah untuk membangun pasar modal yang maju, inklusif, transparan, dan berdaya saing global.
“BEI terus berupaya memperkuat kualitas pasar modal Indonesia melalui peningkatan transparansi, perlindungan investor, penguatan likuiditas, serta pengembangan produk dan infrastruktur pasar,” ujar Jeffrey.
Ia menambahkan, pelaksanaan RKAT 2027 akan memperhatikan tata kelola perusahaan dan kebutuhan seluruh pemangku kepentingan.
BEI menempatkan RKAT 2027 sebagai bagian dari fase Fundamental Reinvention dalam Master Plan BEI 2026–2030.
Melalui strategi tersebut, perusahaan menargetkan pengembangan pasar modal Indonesia yang inovatif, inklusif, transparan, dan terhubung dengan pasar global.
Baca juga:IDI Kepri Telusuri Kematian Pasien BPJS Usai Operasi Ambeien di RS Awal Bros Batam
Editor:Zalfirega











