BEI Resmi Luncurkan 5 ETF Emas Perdana, In Pvestasi Emas Kini Bisa Lewat Bursa

Selasa, 11 Agustus 2026 - 10:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Peluncuran berlangsung di Main Hall BEI bertepatan dengan peringatan 49 tahun diaktifkannya kembali Pasar Modal Indonesia, dilansir pada Selasa (11/8/2026).  Foto;BEI Kepri

Peluncuran berlangsung di Main Hall BEI bertepatan dengan peringatan 49 tahun diaktifkannya kembali Pasar Modal Indonesia, dilansir pada Selasa (11/8/2026).  Foto;BEI Kepri

72 / 100 Skor SEO

MATAPEDIA6.com, JAKARTA — Investasi emas kini mendapat jalur baru melalui pasar modal Indonesia. PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Self-Regulatory Organization (SRO), pelaku industri pasar modal, dan dukungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi meluncurkan Exchange-Traded Fund (ETF) Emas perdana, Senin (10/8).

Peluncuran berlangsung di Main Hall BEI bertepatan dengan peringatan 49 tahun diaktifkannya kembali Pasar Modal Indonesia, dilansir pada Selasa (11/8/2026).

Momentum tersebut ditandai dengan pencatatan lima produk ETF Emas dari lima Manajer Investasi.

Kelima produk itu terdiri dari Reksa Dana Syariah Premier ETF Gold Sharia Indonesia (XGLD) milik PT Indo Premier Investment Management, Reksa Dana Syariah Trimegah Syariah ETF Emas (XTRA) dari PT Trimegah Asset Management, Reksa Dana Syariah Mandiri ETF Emas (XMES) dari PT Mandiri Manajemen Investasi, Reksa Dana Syariah BRI MI Gold ETF Syariah (XDES) dari PT BRI Manajemen Investasi, serta Reksa Dana Syariah Syailendra ETF Sharia Gold (XSGO) dari PT Syailendra Capital.

Kehadiran ETF Emas membuka akses bagi investor yang ingin mendapatkan eksposur terhadap emas tanpa harus membeli dan menyimpan emas fisik secara langsung. Investor cukup memperdagangkan unit ETF melalui perusahaan sekuritas seperti halnya transaksi ETF lainnya di Bursa.

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan peluncuran ETF Emas menjadi langkah penting dalam memperluas pilihan investasi sekaligus menghubungkan pasar modal dengan ekosistem bullion nasional.

“Peluncuran ETF Emas menjadi tonggak penting dalam pengembangan pasar modal Indonesia. Melalui produk ini, investor dapat memperoleh eksposur terhadap emas melalui instrumen yang diperdagangkan di Bursa,” kata Jeffrey.

Baca juga:Bursa Dibuka 2026, OJK Pasang Arah: Integritas Pasar, Likuiditas Dalam, Ekonomi Hijau Ngebut

Menurut dia, ETF Emas diharapkan mampu memperluas akses dan pilihan investasi bagi investor ritel maupun institusi. Produk tersebut juga membuka konektivitas yang lebih luas antara pasar modal dan ekosistem bullion nasional.

Secara struktur, ETF Emas merupakan reksa dana berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (KIK) yang unit penyertaannya diperdagangkan di Bursa dengan emas sebagai aset yang mendasari.

BEI menetapkan portofolio ETF Emas minimal 95 persen pada aset emas. Emas yang menjadi dasar investasi harus memiliki tingkat kemurnian minimal 99,5 persen dengan sertifikasi London Bullion Market Association (LBMA), atau minimal 99,9 persen dengan sertifikasi SNI 8080:2020.

Ekosistem ETF Emas juga melibatkan sejumlah pelaku industri. PT Bank CIMB Niaga Tbk, Deutsche Bank AG Cabang Jakarta, dan PT Bank HSBC Indonesia bertindak sebagai Bank Kustodian.

Sementara itu, PT Mandiri Sekuritas, PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, PT Indo Premier Sekuritas, dan PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk berperan sebagai Dealer Partisipan. PT Pegadaian (Persero) menjadi penyedia sekaligus penyimpan emas.

Dari sisi regulasi, OJK telah menyiapkan landasan melalui POJK Nomor 2 Tahun 2026 tentang Reksa Dana Berbentuk Kontrak Investasi Kolektif yang Unit Penyertaannya Diperdagangkan di Bursa Efek dengan Aset yang Mendasari Berupa Emas.

BEI kemudian menyesuaikan sejumlah aturan perdagangan dan pencatatan ETF melalui perubahan Peraturan Bursa Nomor I-C, II-C, serta III-L tentang Dealer Partisipan ETF.

Untuk produk berbasis syariah, pengembangan ETF Emas juga mengacu pada Fatwa DSN-MUI Nomor 163/DSN-MUI/VIII/2025 tentang Exchange Traded Fund (ETF) Syariah Emas.

BEI juga memberikan insentif pada tahap awal pengembangan produk. Berdasarkan Keputusan Direksi BEI Nomor Kep-00098/BEI/06-2026, Bursa membebaskan biaya pencatatan awal ETF Emas hingga 31 Desember 2026.

Insentif tersebut diharapkan mendorong Manajer Investasi menghadirkan lebih banyak produk ETF Emas sekaligus menekan biaya penerbitan pada tahap awal.

Peluncuran lima ETF Emas ini menandai babak baru investasi emas di pasar modal Indonesia.

BEI berharap instrumen tersebut tidak hanya memperluas pilihan investor, tetapi juga memperdalam pasar modal dan memperkuat ekosistem bullion nasional.

Baca juga:Bursa Efek Indonesia: Panduan Memahami Indeks Saham Indonesia

Editor:Zalfirega

 

Berita Terkait

OJK Kepri Bidik 5.000 Rekening Baru Lewat Gema Menabung, Perbankan Perluas Pasar Generasi Muda
Ekonomi Kepri Tumbuh 6,99 Persen, Investasi KEK dan Data Center Jadi Mesin Utama
Kredit Perbankan Kepri Melonjak 38 Persen, OJK Minta Bank Perkuat Likuiditas dan Genjot Pembiayaan UMKM
Transformasi Telkom Mulai Berbuah, InfraNexia Raup Pendapatan Rp7,7 Triliun di Semester I 2026
Batam Jadi Etalase Teknologi Maritim Dunia, IMOX 2026 Bidik Transaksi Rp326 Miliar
Pemulihan Bisnis Seluler Dongkrak Laba Telkom, Pendapatan Semester I 2026 Tembus Rp75,9 Triliun
Batam Dinobatkan sebagai Daerah Terbaik untuk Investasi, Transformasi Digital Jadi Magnet Baru Investor
OJK Kepri Gandeng APPI Batam Perangi Pembiayaan Ilegal, Dorong Industri Tumbuh Sehat

Berita Terkait

Selasa, 11 Agustus 2026 - 10:26 WIB

BEI Resmi Luncurkan 5 ETF Emas Perdana, In Pvestasi Emas Kini Bisa Lewat Bursa

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 18:49 WIB

OJK Kepri Bidik 5.000 Rekening Baru Lewat Gema Menabung, Perbankan Perluas Pasar Generasi Muda

Jumat, 7 Agustus 2026 - 17:58 WIB

Ekonomi Kepri Tumbuh 6,99 Persen, Investasi KEK dan Data Center Jadi Mesin Utama

Jumat, 7 Agustus 2026 - 16:22 WIB

Kredit Perbankan Kepri Melonjak 38 Persen, OJK Minta Bank Perkuat Likuiditas dan Genjot Pembiayaan UMKM

Rabu, 5 Agustus 2026 - 16:19 WIB

Transformasi Telkom Mulai Berbuah, InfraNexia Raup Pendapatan Rp7,7 Triliun di Semester I 2026

Berita Terbaru