Oleh: M. A. Khafi Anshary
Ada persahabatan yang tidak pernah selesai meski jarak memisahkan. Ada kenangan yang tetap hidup meski waktu membawa setiap orang ke negara berbeda. Ada pula ikatan persaudaraan yang terus tumbuh, sekalipun sejarah pernah mengubah batas sebuah negeri.
Bagi saya, Timor-Leste bukan sekadar negara tetangga. Negeri itu menyimpan bagian penting dari perjalanan hidup saya: masa kecil, masa remaja, pendidikan, dan persahabatan yang hingga kini masih terawat.
Sudah 27 tahun saya meninggalkan tanah Timor-Timur, yang kini dikenal sebagai Timor-Leste. Di negeri itulah saya menghabiskan masa kecil, menimba ilmu, dan membangun persahabatan bersama teman-teman di SMA 1 Becora, Dili.
Sejarah kemudian membawa Timor-Leste menempuh jalannya sendiri. Melalui referendum pada 30 Agustus 1999, rakyat Timor-Leste menentukan masa depan bangsanya. Pada 20 Mei 2002, negeri itu resmi memulihkan kemerdekaannya dan berdiri sebagai negara berdaulat.
Namun, perubahan sejarah dan batas negara tidak pernah menghapus persahabatan kami.
Hingga hari ini, saya dan teman-teman lama semasa SMA 1 Becora masih rutin berkomunikasi.
Grup WhatsApp menjadi jembatan sederhana yang menghubungkan kami dari dua negara sekaligus merawat kenangan masa sekolah.
Waktu memang mengubah banyak hal. Rambut mulai memutih, anak-anak tumbuh dewasa, dan pekerjaan membawa kami menjalani kehidupan masing-masing. Namun, setiap kali percakapan dimulai, kenangan masa SMA di Dili seolah kembali hadir.
Dari Status WhatsApp, Muncul Cerita Seorang Anak
Rabu (28/10/2026), saat menggulir status WhatsApp, perhatian saya tertuju pada sebuah unggahan milik sahabat lama, Dominggus Bernabe.
Ia kini bekerja di Kementerian Administrasi Negara (Ministerio Administrasaun Estatal) sebagai Kepala Bagian Urusan Hukum dan Pencegahan Konflik Desa (Xefe Departamento Asunto Juridiku Prevensaun Konflitu). Di WhatsApp, ia menggunakan nama kontak methapires.
Unggahan itu menampilkan seorang gadis kecil yang berjalan anggun di atas catwalk mengenakan busana adat Timor-Leste. Langkahnya masih menyimpan keluguan seorang anak, tetapi keberanian dan kepercayaan dirinya terlihat jelas.
Namanya Veddira Rosalita Pires. Usianya baru 10 tahun. Ia merupakan putri Dominggus Bernabe dan Zilpa Silvence.
Saya kemudian menghubungi Dominggus. Percakapan sederhana itu berkembang menjadi obrolan panjang tentang kehidupan, perkembangan pembangunan Timor-Leste, hingga kabar keluarga masing-masing.
Di sela percakapan, Dominggus bercerita tentang perjalanan putrinya.
Veddira merupakan siswi kelas IV (Grade 4) di St. Jude Thaddeus International School. Saat ini, ia mengikuti ajang pencarian bakat model JMMA Timor-Leste 2026 dan berhasil menjadi salah satu finalis kategori model anak.
Sebagai sahabat, saya ikut merasakan kebahagiaan dan kebanggaan itu. Saya senang melihat putri seorang kawan lama berani tampil di depan publik, mengembangkan bakat, sekaligus memperkenalkan identitas budaya negerinya.
Tanpa berpikir panjang, saya menyanggupi permintaan Dominggus untuk membantu menggalang dukungan. Saya berencana membagikan tautan akun TikTok JMMA Official kepada teman, sahabat, dan jaringan pertemanan di Indonesia. Saya juga mengajak mereka mengikuti akun tersebut dan menyukai video penampilan Veddira.
Bagi saya, dukungan ini bukan semata-mata tentang besar kecilnya sebuah kompetisi atau siapa yang kelak keluar sebagai pemenang. Ada nilai yang jauh lebih penting di balik keberanian seorang anak berusia 10 tahun yang mulai mengejar mimpinya.
Tais, Warisan Budaya yang Diperkenalkan kepada Generasi Muda
Saya kemudian mencari tahu lebih jauh tentang kegiatan modeling JMMA di Timor-Leste. Salah satu kegiatan penting yang melibatkan JMMA pada 2026 ialah Kids and Teens TAIS Fashion Show Contest 2026.
Ajang peragaan busana anak dan remaja tersebut berlangsung di Timor Plaza, Dili, pada 18–19 April 2026.
Berdasarkan pemberitaan kantor berita TATOLI, sebanyak 77 anak dan remaja mengikuti kegiatan tersebut. Penyelenggara telah menggelar ajang ini secara berkala sejak 2022 dan pada 2026 memasuki penyelenggaraan keempat.
Peserta berusia 4 hingga 16 tahun terbagi dalam tiga kategori. Kategori A diikuti anak usia 4–5 tahun yang tampil mengenakan tais tanpa mengikuti kompetisi. Kategori B menampung peserta usia 6–9 tahun, sedangkan kategori C diikuti remaja usia 10–16 tahun yang berkompetisi.
Penyelenggara juga menyediakan hadiah bagi para pemenang. Juara pertama memperoleh US$150, juara kedua US$100, juara ketiga US$75, dan kategori favorit mendapatkan US$50. Hadiah tersebut diberikan kepada pemenang kategori B dan C, dengan total hadiah utama mencapai US$750.
Sejumlah sponsor turut mendukung kegiatan ini, antara lain Country Choice, NWTL, Jack’s Timor-Leste, Aurora, Honda Timor-Leste, dan FoneHaus.
Namun, nilai penting kegiatan tersebut tidak hanya terletak pada kompetisi dan hadiah. Penyelenggara juga membawa misi kebudayaan dengan menempatkan tais, kain tradisional khas Timor-Leste, sebagai identitas bangsa yang perlu terus diperkenalkan dan diwariskan kepada generasi muda.
Koordinator Asosiasi Seni dan Budaya Timor Furak, Olivio Euclides dos Santos, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bertujuan memperkuat identitas masyarakat Timor sekaligus memberi ruang bagi anak-anak untuk mengekspresikan bakat dan membangun kepercayaan diri.
Pemerintah Timor-Leste juga menyampaikan pesan serupa. Menteri Perdagangan dan Industri, Filipus Nino Pereira, menekankan pentingnya memperkenalkan budaya sejak dini melalui penggunaan atribut tradisional seperti morten, kaebauk, dan belak.
Sekretaris Negara Bidang Seni dan Kebudayaan, Jorge Soares Cristóvão, turut memandang kegiatan tersebut sebagai ruang bagi anak-anak untuk mengenali bakat sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap warisan budaya.
Bahkan, Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Koordinator Urusan Sosial, Mariano Assanami Sabino, menghadiri pembukaan kegiatan pada 18 April 2026 bersama sejumlah pejabat dan undangan penting.
Bagi saya, kegiatan seperti ini menyampaikan pesan yang indah. Sebuah panggung tidak harus selalu melahirkan seorang juara. Panggung juga dapat menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengenal diri, menghargai akar budaya, dan membangun keberanian untuk menunjukkan kemampuan kepada dunia.
Di situlah saya melihat sosok Veddira.
Ia mungkin belum sepenuhnya memahami panjangnya perjalanan sejarah yang membentuk identitas bangsanya. Namun, melalui langkah kecil di atas catwalk dan busana tradisional yang dikenakannya, ia ikut memperkenalkan kekayaan budaya Timor-Leste kepada masyarakat luas.
Dukungan Kecil dari Batam untuk Veddira
Karena itu, saya mengajak masyarakat Batam, sahabat di berbagai daerah, dan masyarakat Indonesia untuk memberikan dukungan kepada Veddira Rosalita Pires yang saat ini menjadi salah satu finalis model anak dalam ajang JMMA Timor-Leste 2026.
Mari kunjungi tautan TikTok berikut, ikuti akun JMMA Official, dan berikan tanda suka pada video penampilan Veddira sebagai bentuk dukungan serta penyemangat bagi langkah kecilnya:
[https://vt.tiktok.com/ZSgXnYBYh/](https://vt.tiktok.com/ZSgXnYBYh/)
Satu tanda suka mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi seorang anak yang sedang belajar mengejar mimpi, dukungan tersebut dapat menjadi penyemangat yang sangat berarti.
Ajakan ini tentu bukan hanya karena Veddira merupakan putri seorang sahabat saya. Lebih dari itu, saya ingin menjadikan kesempatan ini sebagai ruang kecil untuk merawat persahabatan antara masyarakat Indonesia dan Timor-Leste.
Indonesia dan Timor-Leste memiliki perjalanan sejarah yang tidak sederhana. Masa lalu menyimpan berbagai cerita, termasuk pengalaman yang mungkin meninggalkan luka. Setiap bangsa tentu memiliki cara sendiri untuk mengenang dan memahami sejarahnya.
Namun, sejarah tidak seharusnya menjadi tembok yang menghalangi persahabatan antarmanusia.
Kini, Indonesia dan Timor-Leste berdiri sebagai dua negara tetangga yang menjalin hubungan diplomatik dan terus membangun kerja sama. Di tengah hubungan antarnegara tersebut, persahabatan masyarakat biasa seperti kami juga memiliki arti penting.
Hubungan baik dua negara tidak hanya tumbuh melalui pertemuan para pemimpin, penandatanganan kesepakatan, atau diplomasi di ruang-ruang resmi.
Hubungan itu juga berkembang melalui percakapan sederhana, persaudaraan lama, penghormatan terhadap kebudayaan, dan kepedulian terhadap kebahagiaan satu sama lain.
Mungkin dukungan untuk seorang anak berusia 10 tahun tidak akan mengubah peta diplomasi kedua negara. Namun, tindakan sederhana itu dapat menyampaikan pesan bahwa persahabatan tidak mengenal batas geografis.
Dari Batam, saya mengirimkan salam hangat untuk Dili. Untuk Dominggus, Zilpa, dan keluarga, teruslah mendampingi Veddira. Apa pun hasil kompetisinya nanti, keberaniannya melangkah, kemauannya belajar, dan kepercayaan dirinya sudah menjadi pencapaian yang patut dibanggakan.
Untuk Veddira Rosalita Pires, teruslah melangkah, Nak. Kenakan busana adat negerimu dengan bangga. Tumbuhlah menjadi anak yang percaya diri, tetap rendah hati, dan jangan pernah kehilangan kecintaan terhadap tanah kelahiranmu.
Menang tentu membahagiakan. Namun, tumbuh menjadi anak yang berani, mengenal budaya, dan menghargai persahabatan jauh lebih berarti.
Kepada kawan-kawan lama saya di Becora, Dili, inilah salah satu cara kita membuktikan bahwa persahabatan yang terbangun sejak bangku sekolah tidak pernah benar-benar berakhir.
Kita mungkin sekarang hidup di dua negara berbeda. Namun, kenangan dan persaudaraan tetap berada di ruang yang sama.
Sebab, batas negara boleh memisahkan wilayah, tetapi tidak pernah mampu memisahkan hati orang-orang yang memilih untuk tetap bersahabat.
Salam persahabatan dari Batam untuk Timor-Leste. Dari seorang sahabat, untuk seorang anak, dan untuk persahabatan dua negara.
Baca juga:Dari Rak Gebyar Melayu Pesisir Mart hingga Panggung Nasional: Cerita di Balik Geliat UMKM Kepri











