Ekonomi Kepri Tumbuh 6,99 Persen, Investasi KEK dan Data Center Jadi Mesin Utama

Jumat, 7 Agustus 2026 - 17:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Inflasi harga. Dok/Istimewa

Ilustrasi Inflasi harga. Dok/Istimewa

65 / 100 Skor SEO

MATAPEDIA6.com, BATAM-Bank Indonesia mencatat ekonomi Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) tetap tumbuh kuat pada triwulan II 2026. Meski sedikit melambat dibanding triwulan sebelumnya, laju pertumbuhan masih menjadi yang tertinggi di Sumatera berkat derasnya investasi, ekspansi industri pengolahan, dan pembangunan kawasan ekonomi.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kepulauan Riau (KPw BI Kepri) Ardhienus, mengatakan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Kepri pada triwulan II 2026 tumbuh 6,99 persen secara tahunan (year on year/yoy).

“Angka tersebut sedikit lebih rendah dibanding triwulan I 2026 yang mencapai 7,04 persen, namun masih melampaui pertumbuhan ekonomi Sumatera yang tercatat 5,06 persen,” ujarnya dalam keterangannya, Jumat (7/8/2026).

Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan tetap menjadi tulang punggung perekonomian dengan pertumbuhan 6,11 persen dan menyumbang andil terbesar sebesar 2,55 persen terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

Kinerja industri didukung tingginya permintaan global terhadap chipset untuk kendaraan listrik (electric vehicle/EV) yang diproduksi di Indonesia.

Sektor konstruksi juga menunjukkan akselerasi dengan pertumbuhan 6,06 persen dan memberikan kontribusi 1,14 persen.

Pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), Kawasan Industri (KI), serta proyek data center yang terus berlangsung di Batam menjadi motor utama pertumbuhan sektor ini.

Sementara itu, sektor pertambangan dan penggalian tumbuh 9,26 persen dengan andil 0,97 persen.

Baca juga:BI Pertahankan Suku Bunga 5,75 Persen, Perluas Insentif untuk Tarik Investasi Asing dan Dorong Kredit Perbankan

Meski masih mencatat pertumbuhan tinggi, lajunya melambat dibanding tahun sebelumnya seiring normalisasi setelah lonjakan produksi akibat penemuan sumur migas Forel dan Terubuk pada 2025.

Di sektor perdagangan besar dan eceran, pertumbuhan mencapai 10,58 persen dengan kontribusi 0,89 persen.

Peningkatan aktivitas belanja masyarakat dan lonjakan kunjungan wisatawan selama periode libur mendorong ekspansi sektor tersebut.

Dari sisi pengeluaran, investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi Kepri. PMTB melonjak 24,08 persen (yoy) dengan andil mencapai 10,02 persen.

Pertumbuhan investasi ditopang meningkatnya realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), terutama di kawasan-kawasan ekonomi strategis di Kepri.

Konsumsi rumah tangga juga tetap terjaga dengan pertumbuhan 4,06 persen. Optimisme masyarakat tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang bertahan pada level 120,72 sepanjang triwulan II 2026 atau berada jauh di atas batas optimistis sebesar 100.

Belanja pemerintah turut tumbuh 15,83 persen meski melambat dibanding triwulan sebelumnya, seiring berlanjutnya realisasi berbagai program pemerintah.

Di sisi lain, kinerja ekspor bersih masih menghadapi tekanan. Net ekspor terkontraksi 20,93 persen dengan andil negatif 3,04 persen, dipengaruhi ketidakpastian global, mulai dari kebijakan tarif perdagangan hingga penutupan Selat Hormuz yang mengganggu rantai pasok internasional.

Sementara itu, tekanan harga masih terkendali. Pada Juli 2026, inflasi Kepri tercatat 4,24 persen secara tahunan.

Secara bulanan, Kepri justru mengalami deflasi 0,23 persen, dipicu penurunan harga emas perhiasan, tarif angkutan udara, cabai merah, kacang panjang, dan sawi hijau.

Ke depan, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Kepri tetap terjaga melalui sinergi bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran yang didukung kebijakan pemerintah daerah.

Dari sisi inflasi, BI optimistis laju harga tetap berada dalam kisaran sasaran melalui penguatan koordinasi bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), termasuk pelaksanaan Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) dengan strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif.

Baca juga:Kredit Perbankan Kepri Melonjak 38 Persen, OJK Minta Bank Perkuat Likuiditas dan Genjot Pembiayaan UMKM

Editor:Zalfirega

Berita Terkait

Gebyar Melayu Pesisir 2026 Bidik Pasar Lebih Luas bagi UMKM Kepri
General Cargo Batu Ampar Tembus 102 Persen Target Tahunan, Kinerja Pelabuhan Batam Tumbuh 8 Persen
Rp2,44 Triliun RKA BP Batam 2027, Infrastruktur dan Investasi Jadi Fokus
Dari Expo ke Transaksi, BI Kepri Perluas Pasar UMKM Lewat Gebyar Melayu Pesisir 2026
Padi Reborn Tampil di GMP 2026, BI Kepri Bidik Perputaran Ekonomi UMKM
Dari Sampah, Energi hingga Kain Tradisional: Menelusuri Jejak Program Pemberdayaan Pertamina di Batam
Bukan Cuma Industri, Batam Kini Bidik Investasi Kesehatan Berstandar Internasional
STANIA Gandeng Asahi Solder, Timah Indonesia Dibidik Naik Kelas ke Industri Elektronik

Berita Terkait

Sabtu, 19 September 2026 - 15:21 WIB

Gebyar Melayu Pesisir 2026 Bidik Pasar Lebih Luas bagi UMKM Kepri

Sabtu, 19 September 2026 - 11:04 WIB

General Cargo Batu Ampar Tembus 102 Persen Target Tahunan, Kinerja Pelabuhan Batam Tumbuh 8 Persen

Jumat, 18 September 2026 - 11:25 WIB

Rp2,44 Triliun RKA BP Batam 2027, Infrastruktur dan Investasi Jadi Fokus

Rabu, 16 September 2026 - 10:42 WIB

Dari Expo ke Transaksi, BI Kepri Perluas Pasar UMKM Lewat Gebyar Melayu Pesisir 2026

Selasa, 15 September 2026 - 15:47 WIB

Padi Reborn Tampil di GMP 2026, BI Kepri Bidik Perputaran Ekonomi UMKM

Berita Terbaru