Nobar Film Menolak Punah di Batam Soroti Ancaman Limbah Fast Fashion dan Mikroplastik

Senin, 24 Agustus 2026 - 20:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua Aji Batam Yogi baju hitam. Foto:Istimewa

Ketua Aji Batam Yogi baju hitam. Foto:Istimewa

63 / 100 Skor SEO

MATAPEDIA6.com, BATAM — Puluhan anak muda, pegiat lingkungan, komunitas, aktivis, dan masyarakat umum membahas ancaman limbah fast fashion terhadap lingkungan Batam lewat nonton bareng dan diskusi film dokumenter Menolak Punah di Atrium Pollux Mall Batam Center, Minggu (23/8/2026).

Kegiatan bertajuk “Merdeka atau Punah? Batam, Let’s Talk About Our Future!” itu mengangkat dampak industri fesyen, budaya konsumtif, limbah tekstil hingga ancaman mikroplastik terhadap lingkungan dan generasi mendatang.

Kegiatan berlangsung terbuka dan gratis mulai pukul 18.45 WIB. BatamOn Global Group, Dompet Dhuafa Kepri, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Batam, Pollux Mall Batam dan Amigos Batam menggelar kegiatan tersebut secara kolaboratif.

Acara diawali pemutaran film dokumenter Menolak Punah karya Dandhy Laksono dan Aji Yahuti. Ekspedisi Indonesia Baru, The Body Shop Indonesia, Sunspirit dan Sejauh Mata Memandang berkolaborasi dalam produksi film tersebut.

Film itu mengajak penonton melihat dampak pola konsumsi manusia terhadap lingkungan. Salah satu sorotan utamanya ialah industri fast fashion yang mendorong produksi dan konsumsi pakaian secara cepat dengan harga murah.

Praktik tersebut memunculkan persoalan dari penggunaan bahan sintetis, limbah tekstil hingga mikroplastik. Pakaian berbahan serat sintetis juga dapat melepaskan mikroplastik saat dicuci, sedangkan pakaian yang dibuang tanpa pengelolaan berpotensi menambah pencemaran lingkungan.

Fast Fashion vs Slow Fashion

Setelah pemutaran film, diskusi menghadirkan praktisi slow fashion Indina Putri Fadjar dan jurnalis Mongabay sekaligus Ketua AJI Batam Yogi Eka Sahputra.

Indina menyoroti perubahan perilaku konsumen yang semakin mengikuti tren media sosial dan kemudahan belanja daring. Tren pakaian tertentu, couple outfit hingga promosi besar-besaran membuat masyarakat semakin mudah membeli pakaian baru dengan harga murah.

Ia mengaku pernah membeli pakaian melalui platform digital dan menemukan banyak produk murah menggunakan bahan sintetis berbasis plastik.

“Meskipun murah, ternyata banyak pakaian yang kandungannya didominasi bahan plastik. Ini yang perlu menjadi perhatian karena dampaknya kembali ke lingkungan,” ujarnya.

Indina mendorong masyarakat menerapkan prinsip slow fashion dengan lebih teliti memilih pakaian. Salah satunya dengan memperhatikan komposisi bahan dan mempertimbangkan penggunaan serat alami seperti katun.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk memperpanjang usia pakai pakaian. Menurutnya, kebiasaan merawat dan menggunakan pakaian lebih lama dapat membantu mengurangi dampak lingkungan.

Baca juga:Amsakar Sampaikan Penjelasan Ranperda Perubahan APBD Batam 2026

Perubahan, kata Indina, tidak hanya bergantung pada konsumen. Pelaku usaha juga perlu memasukkan aspek keberlanjutan dalam menjalankan bisnis.

“Perubahan harus dimulai dari diri sendiri, tetapi dunia usaha juga perlu memikirkan keberlanjutan agar pertumbuhan ekonomi tidak meninggalkan persoalan lingkungan. Berbisnislah dengan kalbu,” katanya.

Sementara itu, Yogi menilai persoalan fast fashion memiliki kaitan kuat dengan kondisi Batam sebagai kota industri dan perdagangan. Batam menjadi salah satu pintu masuk berbagai barang konsumsi, termasuk pakaian.

“Kita juga sering liputan soal masuknya pakaian ilegal ke Batam. Jadi Batam tidak hanya tempat impor pakaian legal tetapi juga ilegal. Itu tentu akan menambah beban sampah tekstil di kota ini,” katanya.

Yogi juga menyoroti maraknya praktik thrifting atau jual beli pakaian bekas. Menurutnya, penggunaan kembali pakaian dapat memperpanjang usia pakai sekaligus mengurangi konsumsi pakaian baru.

Namun, ia mempertanyakan nasib pakaian bekas yang sudah tidak layak pakai.

Thrifting bisa menjadi salah satu solusi menuju slow fashion. Tetapi pertanyaannya, bagaimana dengan pakaian yang tidak layak pakai? Ke mana akhirnya limbah itu pergi?” ujarnya.

Mikroplastik Mengancam Pesisir Batam

Yogi menilai ancaman mikroplastik dalam film Menolak Punah juga relevan dengan kehidupan masyarakat Batam.

Ia menyinggung paparan film mengenai mikroplastik yang terlepas saat proses pencucian pakaian. Menurutnya, mikroplastik dari aktivitas rumah tangga berpotensi masuk ke perairan dan akhirnya mencemari laut.

Persoalan serupa, kata dia, juga dapat muncul dari sampah tekstil yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) Punggur Batam.

“Makanya ada penelitian bahwa gonggong di pesisir Batam ini diduga tercemar mikroplastik,” katanya.

Menurut Yogi, persoalan lingkungan di Batam tidak berhenti pada limbah fesyen. Ia juga menyoroti limbah elektronik, sampah plastik hingga kerusakan mangrove.

Dari Batam Menolak Punah atau Menuju Punah?

Diskusi kemudian berkembang pada makna “menolak punah” sebagai gerakan bersama menjaga lingkungan dan masa depan generasi berikutnya.

Yogi mengatakan generasi saat ini memiliki tanggung jawab terhadap kondisi lingkungan yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Generasi berikutnya bergantung pada keputusan yang kita ambil hari ini. Karena itu, menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama,” ujarnya.

Ia mendorong masyarakat memulai gerakan lingkungan dari hal sederhana. Menurutnya, sejumlah persoalan lingkungan di Batam masih dianggap sepele oleh sebagian masyarakat.

“Padahal sudah nampak di film ini, bahwasannya lingkungan rusak akan membuat manusia akan punah secara perlahan,” katanya.

Indina juga mendorong perubahan melalui kebiasaan sehari-hari, seperti memilah sampah, mengurangi penggunaan produk berbahan plastik dan mempertimbangkan dampak lingkungan sebelum membeli barang.

Diskusi turut menghadirkan Hasbi, anak muda berusia 19 tahun yang mengembangkan praktik penggunaan kembali dan pengolahan pakaian bekas menjadi produk bernilai guna.

Hasbi membagikan pengalamannya mengkampanyekan daur ulang tekstil hingga ke berbagai negara. Ia menilai gerakan lingkungan membutuhkan konsistensi dan kesabaran untuk mengajak lebih banyak orang terlibat.

“Lebih baik melakukan sesuatu daripada tidak sama sekali,” katanya.

Ia berharap semakin banyak anak muda terlibat dalam gerakan lingkungan dan memulai perubahan dari lingkungan terdekat.

Salah satu penggagas kegiatan lingkungan Tanjung Uma Empowerment dari BatamOn Global Group, Windasari, mengatakan kegiatan tersebut lahir dari kolaborasi berbagai komunitas dan organisasi.

Awalnya, kata dia, panitia hanya merencanakan kegiatan secara sederhana. Namun, dukungan berbagai pihak membuat acara tersebut berkembang dan akhirnya berlangsung terbuka di ruang publik.

Windasari juga membagikan pengalamannya saat mengikuti kegiatan pembersihan pesisir di Batam. Dalam kegiatan itu, ia menemukan banyak sampah tekstil di kawasan pesisir dan laut.

Temuan tersebut menunjukkan persoalan yang diangkat film Menolak Punah bukan sekadar isu global. Limbah tekstil juga telah menjadi bagian dari persoalan lingkungan di Batam.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) Kepri Mustafa turut hadir bersama perwakilan pengurus Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kepulauan Riau.

Mustafa mengatakan KADIN Kepri memberikan perhatian terhadap isu lingkungan dalam dunia usaha. Ia juga mengapresiasi kegiatan diskusi yang mempertemukan komunitas, pelaku usaha, jurnalis dan masyarakat.

Perwakilan Dompet Dhuafa Kepri, Wulan, mengatakan kegiatan tersebut terlaksana melalui kolaborasi banyak pihak. Menurutnya, kerja sama penting untuk menjaga isu lingkungan tetap mendapat perhatian dan mendorong masyarakat mengambil tindakan.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama untuk korban bencana di Nusa Tenggara Timur yang dipimpin Wulan, kemudian dilanjutkan foto bersama seluruh peserta.

 

Baca juga:First Club Batam Bagikan 1.000 Paket Sembako Sambut HUT ke-81 RI

Berita Terkait

Dihadiri Ribuan Orang, Masjid Besar Darul Gufron Jadi Lautan Massa Saat Tablig Akbar Maulid Nabi
Amsakar Sampaikan Penjelasan Ranperda Perubahan APBD Batam 2026
First Club Batam Bagikan 1.000 Paket Sembako Sambut HUT ke-81 RI
Polda Kepri dan Tim Gabungan Padamkan Karhutla 35 Hektare di Trans Barelang, Penyebab Diselidiki
Buka Layanan Akhir Pekan, Imigrasi Batam Melayani 73 Pemohon Paspor di ULP Bengkong
BP Batam Targetkan Layanan Perizinan 2026 Lebih Cepat dan Transparan Lewat PTSP
6 Pejabat Polresta Barelang Berganti, Ini Daftar Kasat dan Kapolsek Baru
Pertamina Patra Niaga Sumbagut Latih Petambak Udang Lhokseumawe Olah Limbah Buah Jadi Probiotik MOL

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 22:15 WIB

Dihadiri Ribuan Orang, Masjid Besar Darul Gufron Jadi Lautan Massa Saat Tablig Akbar Maulid Nabi

Senin, 24 Agustus 2026 - 20:42 WIB

Nobar Film Menolak Punah di Batam Soroti Ancaman Limbah Fast Fashion dan Mikroplastik

Senin, 24 Agustus 2026 - 20:26 WIB

Amsakar Sampaikan Penjelasan Ranperda Perubahan APBD Batam 2026

Senin, 24 Agustus 2026 - 17:23 WIB

First Club Batam Bagikan 1.000 Paket Sembako Sambut HUT ke-81 RI

Minggu, 23 Agustus 2026 - 19:17 WIB

Polda Kepri dan Tim Gabungan Padamkan Karhutla 35 Hektare di Trans Barelang, Penyebab Diselidiki

Berita Terbaru