Jumlah Korban Bencana Sumatera Tembus 1.388 Orang, BNPB: Situasi Sangat Memprihatinkan

Jumat, 5 Desember 2025 - 23:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kondisi banjir bandang yang terjadi di wilayah Sumatera, BPNP mencatat saat ini 867 orang meninggal dunia, sementara 521 orang masih dinyatakan hilang, Jumat (5/12/2025). Matepdia6.com/Istimewa

Kondisi banjir bandang yang terjadi di wilayah Sumatera, BPNP mencatat saat ini 867 orang meninggal dunia, sementara 521 orang masih dinyatakan hilang, Jumat (5/12/2025). Matepdia6.com/Istimewa

MATAPEDIA6.com, JAKARTA – Jumlah korban jiwa akibat banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Sumatera Utara, Aceh dan Sumatera Barat terus bertambah.

Hingga Jumat (5/12/2025), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 867 orang meninggal dunia, sementara 521 orang masih dinyatakan hilang, total korban lebih dari 1.300 jiwa.

“Total di tiga provinsi ini, 867 korban meninggal dunia,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam konferensi pers di Jakarta.

Dalam kesempatan tersebut BNPB merinci korban meninggal dunia, dimana Sumatera Utara: 312 orang, Aceh: 345 orang dan Sumatera Barat: 210 orang

Sementara 521 orang yang masih hilang terdiri dari Sumatera Utara: 133 orang, Aceh: 174 orang, Sumatera Barat: 214 orang.

Baca juga: Banjir Setinggi Atap, Warga Binaan Lapas Aceh Tamiang Terpaksa Dilepas Demi Keselamatan

Upaya pencarian terus dilakukan oleh tim gabungan TNI, Polri, Basarnas, dan relawan, namun akses ke daerah-daerah terdampak masih terkendala lumpur tebal, jembatan rusak, serta cuaca ekstrem.

Skala pengungsian juga mencengangkan. BNPB melaporkan total 849.193 jiwa terpaksa mengungsi ke posko-posko darurat.

Sesuai data BNPB jumlah pengungsi di Sumatera Utara: 51.443 jiwa, Aceh: 775.342 jiwa, Sumatera Barat: 22.354 jiwa

“Data ini menggambarkan kondisi yang sangat memprihatinkan. Penanganan cepat dan terkoordinasi sangat diperlukan,” tegas Muhari.

Bencana Dipicu Cuaca Ekstrem dan Kerusakan Lingkungan

Menurut Ketua Program Studi Meteorologi ITB, Muhammad Rais Abdillah, bencana ini merupakan hasil kombinasi tiga faktor dimana yang pertama Atmosfer yang sangat aktif dan puncak musim hujan di Sumatera Utara

Selanjutnya Kerusakan lingkungan yang menurunkan daya serap tanah dan terakhir Melemahnya kapasitas tampung wilayah akibat perubahan tata ruang.

Baca juga: Galang Donasi, PWI Kepri–PWI Batam Gandeng Rumahitam Gelar Malam Sastra Sumatera Luka

Rais memaparkan beberapa stasiun BMKG mencatat curah hujan mencapai 300 milimeter dalam satu hari, mendekati level ekstrem yang pernah terjadi di Jakarta pada 2020.

Situasi semakin diperburuk oleh fenomena atmosfer seperti Siklon Tropis Senyar di Selat Malaka, yang meningkatkan pasokan uap air dan memperluas area hujan deras.

“Vortex yang berkembang menjadi Siklon Senyar memperkuat pembentukan awan hujan dan meningkatkan intensitas presipitasi,” jelasnya.

Dari aspek geospasial, Dosen Teknik Geodesi dan Geomatika ITB, Heri Andreas, menilai kerusakan parah juga dipengaruhi oleh perubahan fungsi lahan yang masif.

“Banjir bukan hanya soal hujan. Ini tentang bagaimana permukaan bumi menerima, menyerap, dan mengelola air,” ujarnya.

Menurut Heri, hilangnya kawasan berhutan dan daerah resapan membuat air hujan mengalir langsung ke sungai dengan debit besar, memicu banjir bandang.

Dia juga menyoroti peta bahaya banjir di Indonesia belum sepenuhnya akurat sehingga perencanaan tata ruang rawan tidak sesuai risiko.

Para ahli menilai bencana kali ini menjadi peringatan keras bahwa Indonesia membutuhkan, Pemetaan risiko yang lebih akurat,Perlindungan kawasan resapan air, Penguatan sistem peringatan dini, dan Pembenahan tata ruang berbasis mitigasi

Sumber: Internet |Editor: Meizon

Berita Terkait

40 Penghargaan ENSIA 2026 Jadi Cermin Inovasi Pertamina Sumbagut di Lapangan
OJK Sebut Kredit Tetap Tumbuh, Industri Pengolahan Jadi Andalan Bisnis Perbankan hingga Triwulan III 2026
Penerbangan Lion Group dari Jakarta Mulai Dibuka Bertahap, Ini Alasannya
OJK Dorong Pekerja Informal Mulai Siapkan Dana Pensiun Sejak Dini
Kasus Dugaan Penghinaan Etnis, Terdakwa Ajukan Restorative Justice di PN Batam
Destry Damayanti Jadi Gubernur Bank Indonesia, Fokus Jaga Stabilitas
OJK Perkuat Organisasi, Siapkan Pengawasan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis
Investasi Kripto Tanpa Izin OJK, Satgas PASTI Setop YWWSDC dan RTHAE

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 11:31 WIB

40 Penghargaan ENSIA 2026 Jadi Cermin Inovasi Pertamina Sumbagut di Lapangan

Kamis, 10 September 2026 - 21:37 WIB

OJK Sebut Kredit Tetap Tumbuh, Industri Pengolahan Jadi Andalan Bisnis Perbankan hingga Triwulan III 2026

Selasa, 8 September 2026 - 12:40 WIB

Penerbangan Lion Group dari Jakarta Mulai Dibuka Bertahap, Ini Alasannya

Minggu, 6 September 2026 - 17:17 WIB

OJK Dorong Pekerja Informal Mulai Siapkan Dana Pensiun Sejak Dini

Jumat, 4 September 2026 - 21:25 WIB

Kasus Dugaan Penghinaan Etnis, Terdakwa Ajukan Restorative Justice di PN Batam

Berita Terbaru