OJK–ADB Perkuat Pasar Obligasi dan Keuangan Berkelanjutan ASEAN lewat ABMF 2026

Senin, 2 Februari 2026 - 16:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Asian Development Bank (ADB). Foto:OJK Kepri

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Asian Development Bank (ADB). Foto:OJK Kepri

MATAPEDIA6.com, YOGYAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Asian Development Bank (ADB) mengakselerasi penguatan pasar obligasi berdenominasi mata uang lokal sekaligus mendorong integrasi keuangan berkelanjutan di kawasan ASEAN+3.

Dorongan tersebut disampaikan Direktur Eksekutif Kelompok Spesialis Pasar Modal OJK, Retno Ici, saat membuka rangkaian 45th ASEAN+3 Bond Market Forum (ABMF) Meeting and Other Events di Yogyakarta, Senin.

OJK dan ADB menggelar ABMF sebagai forum strategis untuk mempercepat integrasi pasar obligasi ASEAN+3 melalui standardisasi dan harmonisasi regulasi, praktik pasar, serta infrastruktur transaksi obligasi lintas negara.

“Kehadiran regulator, pelaku pasar, investor, akademisi, dan organisasi internasional mencerminkan komitmen bersama membangun pasar modal yang tangguh, inklusif, dan berorientasi masa depan, dengan fondasi keuangan berkelanjutan,” tegas Retno dalam keterangannya, Senin (2/2/2026).

Retno menegaskan, OJK terus memperkuat kerangka keuangan berkelanjutan di pasar modal. Salah satunya melalui POJK Nomor 18 Tahun 2023 tentang Penerbitan dan Persyaratan Efek Bersifat Utang dan Sukuk Berlandaskan Keberlanjutan.

Baca juga: Polda Kepri dan Polresta Barelang Bongkar Pembobolan Rumah Bandar Sri Mas, Lima Pelaku Diciduk

Regulasi ini memperluas cakupan obligasi berkelanjutan, tidak hanya pada aspek lingkungan (green), tetapi juga sosial dan keberlanjutan lainnya.

OJK juga mendorong penerapan Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI) sebagai instrumen utama penyelarasan proyek nasional dengan standar keberlanjutan global.

Di sisi lain, OJK memperkuat pengembangan Local Currency Bond Market untuk menekan risiko nilai tukar, mengurangi ketergantungan pembiayaan eksternal, memperluas sumber pendanaan infrastruktur dan proyek sosial jangka panjang, serta meningkatkan ketahanan ekonomi nasional terhadap guncangan global.

Hingga akhir Desember 2025, OJK mencatat nilai outstanding obligasi dan sukuk korporasi berkelanjutan—termasuk green, social, sustainability, dan sustainability-linked—mencapai Rp54,94 triliun atau setara USD3,28 miliar.

Sementara itu, Direktur Strategi Pembiayaan dan Investasi Pembangunan Kementerian PPN/Bappenas, Mada Dahana, menegaskan keuangan berkelanjutan menjadi pilar utama pembangunan ekonomi inklusif dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) di Indonesia.

Pemerintah, kata Mada, telah mengembangkan berbagai instrumen pembiayaan seperti sukuk, obligasi tematik (SDG bonds dan blue bonds), serta skema pembiayaan gabungan.

Namun, keterbatasan kapasitas pendanaan masih menjadi tantangan utama, sehingga kolaborasi lintas sektor mutlak diperlukan.

Berdasarkan Sustainable Development Report 2025, Indonesia meraih skor 70,2 melampaui rata-rata global 69,5 serta telah mencapai 61,4 persen dari 23 indikator SDGs. Capaian tersebut, ditopang visi Indonesia Emas 2045, menjadi sinyal positif bagi sektor swasta dan investor global.

Rangkaian 45th ABMF Meeting and Other Events berlangsung selama tiga hari, 2–4 Februari 2026 secara hybrid, dan diikuti sekitar 200 peserta dari negara-negara ASEAN+3 dan pemangku kepentingan kawasan.

Dalam agenda tersebut, OJK juga menggelar Indonesia Session melalui diskusi panel bertema “Integrating Sustainable Finance in Indonesia’s Economic Development and Asia’s Growth” serta “Developing Local Currency Bond Market: Market Integration and Stakeholder Synergy”.

Narasumber berasal dari ADB, Kementerian Keuangan, Bappenas, Bank Indonesia, BEI, serta organisasi internasional seperti ICMA dan Nomura Asset Management.

Selain ABMF, forum ini turut mencakup 34th Cross-Border Settlement Infrastructure Forum (CSIF) dan 3rd Digital Bond Market Forum (DBMF).

DBMF menyoroti pengembangan aset digital, sementara CSIF menekankan studi kasus konkret untuk mendorong transaksi obligasi lintas batas dan memperkuat keterkaitan infrastruktur keuangan ASEAN+3.

Baca juga:RSBP Batam Percepat Skrining Jantung Bawaan Anak, Kejar Deteksi Dini 

Editor:Zalfirega

 

Berita Terkait

OJK Cabut Izin Usaha BPR Ceper Permata Artha, LPS Siapkan Proses Likuidasi
OJK Sita 41 Aset dalam Kasus Dugaan Tindak Pidana Perbankan Syariah BPRS GP
OJK Keluarkan Sejumlah Relaksasi Aturan untuk Perkuat Industri Pembiayaan dan Fintech
OJK dan ILO Luncurkan Sistem ERP untuk Buka Akses Pembiayaan Peternak Sapi Perah
SheHacks 2026 Dorong Perempuan UMKM Manfaatkan AI untuk Kembangkan Bisnis
Tebar Dividen Rp21,9 Triliun, Telkom Pertahankan Jajaran Direksi
Satgas PASTI Bongkar Penghimpunan Dana Ilegal Koperasi BLN, Ketua Koperasi Ditangkap
OJK Minta Korban Dugaan Investasi Bodong di Purwokerto Segera Melapor

Berita Terkait

Kamis, 25 Juni 2026 - 22:20 WIB

OJK Cabut Izin Usaha BPR Ceper Permata Artha, LPS Siapkan Proses Likuidasi

Minggu, 21 Juni 2026 - 14:20 WIB

OJK Sita 41 Aset dalam Kasus Dugaan Tindak Pidana Perbankan Syariah BPRS GP

Rabu, 17 Juni 2026 - 20:40 WIB

OJK Keluarkan Sejumlah Relaksasi Aturan untuk Perkuat Industri Pembiayaan dan Fintech

Sabtu, 13 Juni 2026 - 11:59 WIB

OJK dan ILO Luncurkan Sistem ERP untuk Buka Akses Pembiayaan Peternak Sapi Perah

Selasa, 9 Juni 2026 - 13:03 WIB

SheHacks 2026 Dorong Perempuan UMKM Manfaatkan AI untuk Kembangkan Bisnis

Berita Terbaru

Anggota/Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait. Foto:istimewa

News

BP Batam Tangani Kasus Medis Langka

Minggu, 28 Jun 2026 - 20:24 WIB