MATAPEDIA6.com, BATAM — Gejolak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) setelah muncul pernyataan penyedia indeks global MSCI menjadi pengingat bagi investor bahwa pergerakan pasar modal tidak hanya dipengaruhi kinerja perusahaan, tetapi juga sentimen global, suku bunga, serta kondisi sosial dan politik.
Di tengah tekanan tersebut, Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Kepulauan Riau melihat adanya perbaikan indeks setelah sempat turun ke kisaran 4.900.
BEI Kepri juga mencatat pertumbuhan jumlah investor di daerah itu lebih dari 50 persen secara year-to-date (YTD), sejalan dengan tren pertumbuhan investor nasional.
Kepala Kantor Perwakilan BEI Kepri, Novita, mengatakan gejolak pasar sempat memicu kepanikan investor. Namun, ia menilai langkah strategis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI untuk mereformasi pasar modal menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan pelaku pasar.
“Memang ada kepanikan dari investor pada hari pertama saat MSCI mengeluarkan statement. Tetapi penurunan IHSG bukan hanya disebabkan faktor itu. Ada juga faktor lain, seperti suku bunga internasional, kebijakan The Fed, serta kondisi sosial dan politik,” kata Novita saat media gathering bersama jurnalis Batam di Baba Seafood Restaurant, Batam Center, Jumat (23/10/2026) sore.
Menurut Novita, MSCI memiliki pengaruh terhadap keputusan investasi karena rekomendasi penyedia indeks global tersebut menjadi salah satu acuan bagi investor domestik maupun internasional.
Ia menjelaskan, MSCI baru dijadwalkan mengeluarkan hasil rekomendasi pada April 2027. Namun, pernyataan yang muncul lebih awal telah memengaruhi sentimen pasar.
Meski demikian, BEI Kepri melihat indeks mulai menunjukkan perbaikan setelah sempat melemah. Novita mengaitkan perkembangan tersebut dengan langkah OJK dan BEI dalam merespons berbagai rekomendasi terkait pembenahan pasar modal Indonesia.
Baca juga:OJK Buka Kepemilikan Saham Bursa Efek untuk Investor dan Publik
Di tengah volatilitas pasar, Novita mengatakan investor berpengalaman biasanya tidak hanya berfokus pada penurunan indeks. Mereka juga mencermati peluang pada saham perusahaan yang memiliki fundamental dan kinerja bisnis yang baik.
“Investor yang sudah berpengalaman di pasar modal justru bisa melihat ini sebagai kesempatan untuk membeli saham-saham yang memiliki fundamental baik, artinya perusahaan dengan kinerja yang baik,” ujarnya.
Meski demikian, peluang tersebut tetap memerlukan analisis. Penurunan harga saham tidak otomatis membuat suatu saham menjadi murah atau layak dibeli.
Investor perlu menilai kondisi keuangan perusahaan, prospek bisnis, valuasi, serta risiko investasi sebelum mengambil keputusan.
Bagi investor pemula, kata wanita berkaca mata itu, kondisi pasar yang berfluktuasi juga menjadi pengingat pentingnya memahami instrumen investasi dan tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan sentimen sesaat.
Di tengah dinamika pasar, pertumbuhan investor menjadi salah satu perkembangan yang disoroti BEI Kepri.
Novita menyebut jumlah investor di Kepulauan Riau tumbuh lebih dari 50 persen secara YTD, sementara pertumbuhan secara nasional mencapai sekitar 52 persen.
Angka tersebut, menurut dia, menunjukkan partisipasi masyarakat Kepri di pasar modal terus berkembang dan mengikuti tren nasional.
Namun, pertumbuhan jumlah investor tidak serta-merta menggambarkan besarnya dana yang diinvestasikan ataupun tingkat pemahaman masyarakat terhadap risiko pasar modal. Karena itu, perluasan basis investor perlu berjalan beriringan dengan edukasi keuangan.
Novita menilai media memiliki peran strategis untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai investasi, termasuk membantu publik membedakan informasi yang faktual dari spekulasi yang berpotensi memengaruhi keputusan investasi.
Gandeng media perluas literasi pasar modal
Untuk memperkuat edukasi tersebut, BEI Kepri menggelar media gathering bersama jurnalis Batam. Kegiatan ini menjadi sarana mempererat hubungan sekaligus membangun kolaborasi pemberitaan mengenai pasar modal Indonesia.
“Ini ajang untuk silaturahmi supaya Bursa Efek Indonesia dengan rekan-rekan media, khususnya yang ada di Kepri, saling berhubungan erat dan bersinergi untuk bisa memasyarakatkan pasar modal Indonesia ke seluruh lapisan masyarakat,” kata Novita.
Ia mengapresiasi dukungan wartawan yang selama ini membantu menyampaikan informasi mengenai pasar modal kepada masyarakat.
Menurut Novita, pemberitaan yang informatif dan edukatif dapat membantu masyarakat memahami perkembangan bursa, mengenali risiko investasi, serta mengambil keputusan secara lebih bijak.
Melalui kolaborasi berkelanjutan dengan media, BEI Kepri berharap literasi pasar modal di Kepulauan Riau semakin luas.
Dengan begitu, pertumbuhan jumlah investor tidak hanya tercermin dari penambahan rekening, tetapi juga diikuti pemahaman yang lebih baik mengenai peluang dan risiko investasi di pasar modal Indonesia.
Baca juga:BEI Sesuaikan Batas ARB Saham Murah, Ini Aturan Baru yang Berlaku
Editor:Zalfirega











