Kesalahan Investor Pemula: FOMO Saham hingga Abai Risiko, Ini Cara Menghindarinya

Rabu, 13 Mei 2026 - 21:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kantor Bursa Efek Indonesia IDX di Jakarta. Foto:dok/matapedia

Kantor Bursa Efek Indonesia IDX di Jakarta. Foto:dok/matapedia

69 / 100 Skor SEO

MATAPEDIA6.com, JAKARTA – Pernah membeli saham karena viral di media sosial atau ikut-ikutan teman, lalu harganya justru anjlok? Fenomena ini bukan kasus tunggal. Banyak investor pemula terjebak pola serupa di awal perjalanan investasinya—dan sebagian besar sebenarnya bisa dihindari.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) per Rabu (13/5/2026) menunjukkan minat masyarakat terhadap pasar modal terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Akses teknologi yang semakin mudah, maraknya platform investasi digital, serta naiknya literasi keuangan mendorong generasi muda aktif masuk ke pasar.

Namun di balik tren positif itu, investor pemula masih menghadapi tantangan klasik: minim pemahaman, keputusan impulsif, dan strategi yang belum matang.

Masalah utamanya bukan kekurangan peluang, melainkan cara mengambil keputusan. Banyak investor melangkah tanpa bekal pengetahuan dan perencanaan yang jelas, padahal investasi menuntut strategi dan manajemen risiko yang disiplin.

Salah satu kesalahan paling umum ialah berinvestasi tanpa tujuan keuangan. Investor kerap membeli saham sekadar mengikuti tren, bukan karena kebutuhan yang terukur. Padahal, target investasi—misalnya dana menikah tiga tahun lagi atau dana pensiun 25 tahun mendatang—akan menentukan strategi, instrumen, hingga toleransi risiko.

Kesalahan berikutnya muncul saat investor mengikuti tren tanpa analisis. Saham yang ramai di media sosial sering kali langsung diburu tanpa memahami fundamental perusahaan.

Padahal, investor bisa memanfaatkan data resmi seperti laporan keuangan, keterbukaan informasi, dan statistik perdagangan yang tersedia melalui kanal resmi BEI.

Baca juga:BP Batam Percepat Pergeseran Warga Rempang, 842 Jiwa Tempati Hunian Baru

Di sisi lain, tidak sedikit investor pemula terlalu agresif. Mereka melakukan transaksi berulang dalam waktu singkat demi mengejar cuan cepat. Strategi ini justru meningkatkan risiko kerugian. Pendekatan jangka panjang dengan memilih perusahaan berkualitas cenderung lebih stabil bagi pemula.

Kesalahan lain yang kerap terjadi ialah tidak melakukan diversifikasi. Investor menumpuk dana pada satu saham atau instrumen, sehingga risiko membesar ketika nilainya turun. Padahal, penyebaran investasi ke berbagai sektor dapat membantu menekan risiko.

Konsistensi juga menjadi persoalan. Banyak investor bersemangat di awal, tetapi gagal menjaga rutinitas investasi. Padahal, investasi berkala memungkinkan efek compounding bekerja optimal sekaligus meredam fluktuasi pasar.

Selain itu, investor pemula sering mengabaikan manajemen risiko. Fokus berlebihan pada potensi keuntungan tanpa menghitung kemungkinan rugi mendorong keputusan yang tidak rasional.

Investor seharusnya memahami profil risiko pribadi dan hanya menggunakan dana khusus investasi—bukan dana kebutuhan harian.

BEI terus mendorong peningkatan literasi melalui berbagai program edukasi, mulai dari seminar, pelatihan, hingga materi pembelajaran yang bisa diakses publik. Upaya ini bertujuan membentuk investor yang lebih rasional dan berorientasi jangka panjang.

Pada akhirnya, investasi bukan jalan pintas menuju kaya. Disiplin, kesabaran, dan kemauan belajar menjadi kunci utama. Investor yang konsisten dan terukur justru memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan berkembang di pasar.

Bagi masyarakat yang ingin memperdalam pemahaman, BEI menyediakan program Sekolah Pasar Modal serta aplikasi informasi resmi yang dapat diakses secara luas. Langkah kecil yang dimulai hari ini dapat menjadi fondasi kuat untuk masa depan finansial yang lebih sehat.

Baca juga:OJK Kepri Gelar Seminar Literasi Keuangan Berbasis Nilai Melayu Raja Ali Haji

Editor:Zalfirega

 

Berita Terkait

BI Pertahankan Suku Bunga 5,75 Persen, Kredit Perbankan Tumbuh 13,65 Persen pada Agustus 2026
Gebyar Melayu Pesisir 2026 Bidik Pasar Lebih Luas bagi UMKM Kepri
General Cargo Batu Ampar Tembus 102 Persen Target Tahunan, Kinerja Pelabuhan Batam Tumbuh 8 Persen
Rp2,44 Triliun RKA BP Batam 2027, Infrastruktur dan Investasi Jadi Fokus
Dari Expo ke Transaksi, BI Kepri Perluas Pasar UMKM Lewat Gebyar Melayu Pesisir 2026
Padi Reborn Tampil di GMP 2026, BI Kepri Bidik Perputaran Ekonomi UMKM
Dari Sampah, Energi hingga Kain Tradisional: Menelusuri Jejak Program Pemberdayaan Pertamina di Batam
Bukan Cuma Industri, Batam Kini Bidik Investasi Kesehatan Berstandar Internasional

Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 20:50 WIB

BI Pertahankan Suku Bunga 5,75 Persen, Kredit Perbankan Tumbuh 13,65 Persen pada Agustus 2026

Sabtu, 19 September 2026 - 15:21 WIB

Gebyar Melayu Pesisir 2026 Bidik Pasar Lebih Luas bagi UMKM Kepri

Sabtu, 19 September 2026 - 11:04 WIB

General Cargo Batu Ampar Tembus 102 Persen Target Tahunan, Kinerja Pelabuhan Batam Tumbuh 8 Persen

Jumat, 18 September 2026 - 11:25 WIB

Rp2,44 Triliun RKA BP Batam 2027, Infrastruktur dan Investasi Jadi Fokus

Rabu, 16 September 2026 - 10:42 WIB

Dari Expo ke Transaksi, BI Kepri Perluas Pasar UMKM Lewat Gebyar Melayu Pesisir 2026

Berita Terbaru